Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 91


__ADS_3

"Apa kabar, Sa,--" Jordy belum sempat berbicara dnegan Rayna dua orang pria berbadan tegap menghampirinya.


"Maaf, Tuan. Anda tidak diperbolehkan duduk di sini?" ujar salah satu pria berbody bagaikan seorang preman.


"Lu siapa? Gue pengunjung di sini, gue raja di kafe ini," bentak Jordy tak terima.


"Kami tidak menerima pengunjung yang memiliki niat jahat pada Nona kami," ujar pria yang satu lagi.


"Maksud kalian apa?" tanya Jordy bingung.


Rayna juga bingung dnegan perlakuan dua orang itu terhadap dirinya.


"Anda mau keluar dengan sopan, atau tidak sopan?" ancam pira itu lagi pada Jordy.


"Ada apa, ini?" tanya Satya yang baru saja datang.


Rayna langsung berdiri dan memeluk tubuh suaminya, meminta pertolongan.


"Bawa dia keluar sekarang juga!" perintah Raffa pada dua orang petugas bodyguard yang disuruhnya untuk menjaga Rayna di saat dia pergi.


Dua orang bertubuh kekar itu pun menarik Jordy dengan paksa untuk keluar dari kafe itu.


"Pastikan dia tidak pernah datang lagi ke kafe ini!" teriak Satya memberi perintah pada semua pelayan yang ada di dalam kafe itu.


Rayna mengernyitkan dahinya melihat sikap suami bagaikan seorang bos besar memerintah semua orang yang ada di kafe itu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Satya memastikan keadaan Rayna saat berjumpa dengan Jordy.


Rayna mengangguk.


Untung saja Satya berinisiatif untuk menyuruh bodyguard untuk menjaga Rayna di saat dia tidak berada bersama istrinya.


"Ya sudah, kita duduk lagi." Satya mengajak Rayna untuk kembali duduk di tempatnya.


Tak berapa lama, dua orang pelayan datang membawakan pesanan yang diminta oleh Satya tadi.


Rayna semakin heran melihat berbagai macam hidangan yang tersedia di atas meja dnegan porsi mini.


"Apakah ini tidak berlebihan, Mas?" tanya Rayna merasa tidak enak pada Satya.


"Tidak," jawab Satya santai.


Rayna bingung mau mencoba menu yang mana terlebih dahulu karena menu-menu yang terhidang benar-benar menggiurkan semuanya.


"Ayo makan!" seru Satya pada istrinya yang masih diam.


"Mas, aku bingung mau makan yang mana terlebih dahulu," tutur Rayna mengungkap kebingungannya.


"Kenapa harus bingung, kamu tinggal pilih, atau kamu mau aku suapin?" tanya Satya.


Tanpa menunggu jawaban dari Rayna, Satya mengambil piring yang berisi makan populer di kafe itu lalu menyendokannya k e mulut Rayna.

__ADS_1


"Ini menu favorit di kafe ini, Tuna Balinese, pasta dengan olive oil dan Tuna crunch yang diracik oleh ahlinya," jelas Satya dengan lancar.


Rayna mengernyitkan dahinya, tapi masih dengan membuka mulutnya menikmati sesendok makanan yang diberikan oleh Satya.


"Bagaimana, enak?" tanya Satya.


"Enak, tapi kenapa kamu paham sekali tentang kafe ini?" tanya Rayna bingung.


Satya tersenyum.


"Sebelum kamu masuk kafe ini, apakah kamu membaca nama kafenya?" tanya Satya.


"Mhm, SatRa's kafe," lirih Rayna semakin bingung.


"SatRa itu singkatan dari Satya dan Raffa, jadi pemilik kafe ini aku dan kakak iparmu," jelas Satya.


"Hah? Benarkah?" Rayna tak percaya karena selama ini dia hanya berpikir suaminya hanyalah seorang supir dan asisten pribadi kakak iparnya.


Satya mengangguk, dia sengaja membawa Rayna ke kafe miliknya agar Rayna tahu siapa dirinya.


"Sejak kapan Mas Satya mendirikan kafe ini?" tanya Rayna penasaran.


"Mhm, aku dan Raffa merintis usaha kuliner ini sejak awal Raffa kuliah di Jakarta. Kalau kafe yang ada di kota ini baru berdiri hampir setahun ini, sejak Raffa menikah dengan Kayla," jelas Satya pada istrinya.


"Memangnya kafe di Bandung ada berapa, Mas?" tanya Rayna semakin penasran.


"Yang di Bandung ada 3 cabang, sedangkan di Jakarta sudah ada 5 cabang, kafe pusatnya tidak jauh dari Universitas Al-azhar karena kami yang menghandle langsung." Satya menjelaskan usaha bisnis yang dilakoninya selama ini.


Setelah Satya menceritakan usaha kulinernya pada Rayna, Satya kembali menyuapi makanan yang terhidang di atas meja.


"Enak semua, Mas. Chefnya siapa yang ngajarin bisa masak seenak ini?" tanya Rayna ingin mengetahui lebih tentang kafe milik suami dan kakak iparnya.


"Mhm, sebelum chef bekerja di kafe ini Aku dan Raffa meminta mereka untuk ikut private," jelas Satya.


"Kamu hebat juga ya, Mas," puji Rayna.


Satya terkekeh mendengar pujian dari Rayna.


"Baru tahu kamu hebat?" sahut Satya.


"Yeee, ge-er kamu, Mas," gerutu Rayna.


Mereka pun menghabiskan makanan yang terhidang, semua makanan habis ludes oleh Rayna.


"Ah kenyang," ujar Rayna memegang perutnya karena kekenyangan.


"Kamu tunggu di sini, ya," pinta Satya pada Rayna.


Satya melangkah menuju pentas yang biasa digunakan untuk karaoke, berhubung penyanyinya lagi istirahat. Satya naik ke atas panggung.


"Selamat siang para pengunjung setia SatRa's cafe," sapa Satya pada pengunjung yang ada di kafe itu.

__ADS_1


"Pada kesempatan ini, saya ingin menyumbangkan sebuah senandung yang akan saya nyanyikan untuk wanita yang sangat saya cintai yang kini berada di sana," ujar Satya sambil menunjuk ke arah Rayna.


"Saya berharap, wanita yang saya cintai akan selalu mendampingi saya hingga maut menjemput, aamiin." Satya melayangkan senyumannya pada Rayna.


Rayna merasa tersanjung dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Satya mulai menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Aisyah istri rasulullah. Dia sengaja menyanyikan lagu itu karena saat ini istrinya masih belia seperti Aisyah.


Rayna menatap haru pada suaminya yang menyanyikan sebuah lagu yang sangat menyentuh baginya.


Dia merasa bahwa senandung yang dinyanyikan Satya sebagai ungkapan rasa yang mereka rasakan saat ini, menikah di saat usianya masih belia.


"Saya berharap wanita yang saya cintai bisa menjadi Aisyah dalam hidup saya," ujar Satya menutup performanya.


Tanpa disadarinya buliran air mata haru jatuh membasahi pipi Rayna, semua pengunjung bertepuk tangan, mereka juga terharu melihat tulusnya cinta Satya pada istrinya.


Satya turun dari panggung lalu menghampiri Rayna. Dia langsung memeluk tubuh mungil istrinya.


"Aku mencintaimu, Sayang." Satya mengecup lembut puncak kepala Rayna memamerkan sebuah keromantisannya terhadap sang istri sebagai bukti cintanya terhadap wanita yang sudah dinikahinya itu.


Rayna memeluk tubuh kekar itu dengan erat, dia benar-benar tersanjung dengan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya.


"Terima kasih, Mas," lirih Rayna.


Tepuk tangan riuh memberikan sebuah penghargaan pada sepasang suami istri itu. Semua orang di sana ikut merasakan bahagia yang dirasakan Satya dan Rayna.


Setelah aksi romantis yang dilakukan Satya berakhir, sepasang suami istri itu pun keluar dari kafe. Satya akan memberikan Rayna sebuah kejutan yang tak akan pernah dilupakannya.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2