Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 265


__ADS_3

Gisella terdiam, dia bingung harus berkata apa pada Reza untuk mengalihkan perhatian pria tampan itu.


Sudah jelas di raut wajahnya, si pria tampan itu sama sekali tidak tertarik dengan dirinya.


Penampilan yang sempurna, dengan gaun yang tidak terlalu mencolok, membuat penampilannya sangat menarik mata semua pria kecuali pria yang memiliki prinsip agama yang dalam.


"Bagaimana? Apa kita tetap di sini atau kembali?" tanya Reza datar setelah satu jam mereka hanya diam tanpa berbincang-bincang sama sekali.


"Terserah," ketus Gisella.


Gisella menggerutu di dalam hati, dia sangat kesal dengan sikap Reza terhadapnya.


"Ayo!" ajak Reza.


Pria itu berdiri dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan samping taman.


Dia masuk ke dalam mobil dan mengabaikan Gisella yang menghentakkan kaki melangkah mendekati mobil Reza.


Mau tak mau dia terpaksa masuk ke dalam mobil.


Reza langsung melajukan mobilnya setelah memastikan Gisella duduk dengan baik di dalam mobilnya.


"Ma, Pa, kita bisa pulang sekarang?" tanya Reza pada kedua orang tuanya setelah mereka kembali ke foodcourt tempat kedua orang tua mereka yang masih asyik mengobrol.


Semua mata tertuju pada Reza yang terlihat kesal. Dengan jelas Reza memperlihatkan penolakan atas perjodohan ini.


"Eh, iya. Sa, aku pulang dulu, ya. Mungkin Reza kelelahan bawa mobil jauh," ujar Maryam berusaha mencairkan suasana.


"Iya, Pak Lingga. Lain kali kita sambung lagi," ujar Sultan menambahi.


Akhirnya Maryam dan Sultan berdiri. Reza langsung membalikkan tubuhnya lalu meninggalkan kedua orang tua Gisella dan anak gadisnya begitu saja.


Maryam dan Sultan merasa tidak enak dengan sikap Reza, tapi apa boleh buat Reza sudah jelas-jelas menunjukkan penolakannya.


"Maaf, kami permisi dulu ya, Sasa, Pak Lingga," ujar Maryam berpamitan.


Sasa dan Lingga mengangguk, mereka menarik tangan Gisela dan menyuruh putrinya duduk di depan mereka.


"Apa yang sudah terjadi? mengapa sikap? Reza seperti itu?" ujar Sasa dengan nada kesal pada putrinya.


Gisella hanya bisa mengangkat bahunya, dia enggan untuk memberitahukan apa yang sudah terjadi di antara dirinya dan pria tampan yang sombong itu.


"Ayo, pulang. Aku bosan nih di sini," ujar Gisella kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sasa dan Lingga pun berdiri, lalu mereka melangkah keluar dari mall.


Reza dan kedua orang tuanya langsung berangkat ke Pesisir Selatan, Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sultan dan Maryam hanya diam, mereka saat ini belum bisa berbicara apa-apa pada putra mereka karena tidak ingin memecahkan konsentrasi Reza dalam melajukan mobil.


Diam merupakan pilihan yang baik untuk saat ini pikir sepasang suami istri tersebut.


****


"Aku tidak mau dijodohkan dengan wanita itu," teriak Reza setelah mereka sampai di rumah.


Reza langsung melangkah menuju dalam kamarnya.


"Reza! Dengarkan mama dulu," pinta Maryam berusaha menghentikan langkah putranya.


"Mau dengar apa, Ma?" tanya Reza.


Reza muak melihat tingkah kedua orang tuanya yang mulai memaksakan kehendak mereka.


"Kamu baru kenal dengan Gisella, paling tidak cobalah lakukan pendekatan terlebih dahulu dengannya," bujuk Maryam berharap putranya luluh dengan bujuk rayuannya.


"Tidak, Ma. Aku tidak suka dengan gadis seperti dia. Dari penampilannya saja sudah terlihat kalau dia itu bukan wanita idamanku," bantah Reza.


Maryam dan Sultan yang hanya memiliki dasar agama yang dangkal tidak memperdulikan penampilan Gisella yang tidak menutupi auratnya.


"Wanita yang anggun itu bukan wanita seperti dia, wanita yang anggun adalah wanita yang bisa menjaga auratnya dari mata pria yang bukan mahramnya," ujar Reza menyampaikan alasan ketidaksukaannya terhadap Gisella.


"Oh jadi permasalahannya karena Gisella tidak menutup auratnya?" tanya Maryam pada putranya.


"Iya," jawab Reza kesal.


Pria tampan itu membalikkan tubuhnya lalu melangkah masuk ke dalam kamar, mengabaikan mamanya yang tengah berpikir bagaimana cara untuk menyampaikan alasan penolakan putranya.


"Sudahlah, Ma. Biarkan saja Reza menenangkan diri terlebih dahulu, nanti kita berusaha untuk membujuk dia lagi." Sultan membujuk istrinya.


Lalu dia pun menggiring istrinya melangkah menuju kamar mereka.


Sementara itu Reza di dalam kamarnya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia menatap kosong pada langit-langit kamarnya.


"Ya Allah, kenapa aku harus menghadapi takdir seperti ini? Rasanya sangat sakit harus kehilangan wanita yang aku cintai," gumam Reza di dalam hati.


Bayangan kebersamaan dirinya dan Lisa kembali melintas di benaknya.

__ADS_1


Hatinya semakin hancur saat mengingat semua kenangan indah kebersamaan dirinya dan Lisa saat mereka berlibur di resort milik Reza.


"Apa salahku, Lisa? Apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu?"


"Haruskah aku menemuimu, dan langsung meminangmu?"


"Aku menolak perjodohan ini, tapi aku harus beralasan bahwa sudah memiliki pujaan hati, sementara itu pujaan hatiku tengah menjauh dariku."


Reza terus bermonolog dengan dirinya meluapkan kegalauan yang kini mendera relung hatinya.


"Astagfirullah, aku harus shalat dulu," ujar Reza.


Reza mengusap wajahnya kasar, lalu dia bangkit dari posisi berbaring lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalat isya.


Perjalanan mereka yang panjang disertai dengan macet membuat mereka sampai di rumah setelah isya.


Dia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, yang sebenarnya tubuhnya benar-benar terasa sangat lengket.


Setelah mandi, Reza langsung melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Dalam setiap untaian do'a nya, Reza memohon agar dibukakan jalan takdir menuju wanita yang dicintainya.


Setiap permohonan hanya meminta agar satu nama Lisa menjadi wanita pendamping dalam hidupnya.


Selesai shalat, Reza kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memandangi paras anggun gadis yang dicintainya di layar ponselnya.


Namun, Reza sama sekali tak ingin membuka menu kontak di ponselnya karena sama sekali dia tak akan bisa menghubungi Lisa lagi.


Pikirannya yang jauh membawa Reza enggan untuk terlelap, dengan susah payah dia berusaha untuk tidur agar hati dan pikirannya dapat melupakan luka yang kini dirasakannya.


Sementara itu Lisa di dalam kamar menatap layar ponsel berharap Reza akan menghubunginya.


Dia sudah membuka blokiran nomor Reza, berharap pria yang dicintainya itu mulai menghubunginya lagi.


Dia enggan untuk menghubungi terlebih dahulu karena dia merasa tak pantas perempuan memulai komunikasi, karena walau bagaimanapun kembang tetaplah berada di tempatnya dan kumbanglah mencari bunga.


Kini dua insan yang saling mencinta larut dalam kegelisahan yang mendalam.


Reza terluka dengan sikap Lisa terhadapnya yang menghilang begitu saja tanpa diketahui alasannya.


Sementara itu, Lisa terluka dengan sikap bodohnya yang sudah pasti membuat Reza terluka.


Mereka kini hanya menunggu takdir akan membawa mereka ke mana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2