
"Kalau tidak bisa menjawab pertanyaanku, tak usah dijawab." Kayla berdiri dari posisinya.
"Aku lelah, aku mau pulang," ujar Kayla.
Raffa masih bergeming di posisinya. Saat ini tak dapat dipungkiri di bilik hatinya nan palin jauh dia ingin memberikan kebahagiaan pada Zahra, gadis kecilnya.
"Kalau kamu tidak mau pulang, biarkan aku pulang pakai taksi,"p ujar Kayla.
Kayla pun melangkah meninggalkan Raffa yang masih diam memikirkan berbagai perkataan yang terlontar dari mulut sang istri.
Setelah Kayla melangkah beberapa meter, Raffa tersadar bahwa sang istri telah meninggalkannya.
Raffa mengejar Kayla, dia mengiringi langka sang istri.
"Kita pulang bareng," ajak Raffa.
Raffa kembali menggenggam tangan sang istri dan membawanya melangkah menuju parkiran.
Raffa membukakan pintu mobil untuk sang istri, lalu dia pun mengitari mobil dan masuk mobil melalui pintu kemudi.
Seperti biasa sebelum Raffa melajukan mobilnya dia memastikan sang istri mengenakan sabuk pengaman. Raffa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kecerobohan sang istri.
Dia kembali memasangkan sabuk pengaman di tubuh istrinya.
Kayla hanya diam menerima perlakuan dari sang suami, sudah menjadi kebiasaan baginya memasang sabuk pengan dibantu oleh sang suami.
Kali ini Raffa melajukan mobil menuju asrama, saat ini dia hanya ingin mengantarkan sang istri kembali ke asrama.
Raffa memilih untuk mempertimbangkan semua yang dikatakan oleh sang istri dan mengambil sikap agar tidak terjadi lagi perdebatan yang akan membuat hati sang istri terluka untuk ke sekian kalinya.
Mobil Raffa kini sudah berhenti tepat di depan asrama putri. Kayla hendak membuka pintu mobil, bergegas Raffa meraih tangan sang istri.
Kayla berhenti, dia menoleh ke arah sang suami.
Raffa menggenggam erat tangan Kayla, dia mengecup mesra punggung tangan sang istri.
"Maafkan aku," lirih Raffa.
Kayla hanya diam, Raffa menarik tangan sang istri hingga Kayla jatuh ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, izinkan aku untuk menata hatiku agar aku bisa melupakan gadis kecil itu," pinta Raffa memohon.
Raffa meraup bi*bir sang istri lalu ******* dalam bibir manis sang istri.
"Aku merindukanmu," lirih Raffa.
Dia mengecup dalam puncak kepala sang istri membuat Kayla kembali menitikkan air matanya menerima perlakuan lembut dari sang suami.
Kayla pun meraih tangan Raffa, dia menciumi punggung tangan sang suami.
"Maafkan aku sudah hadir dalam hidupmu," gumam Kayla.
Kayla pun membuka pintu mobil, lalu dia melangkah masuk menuju asrama.
Raffa masih memandangi punggung istrinya hingga hilang di balik pintu asrama.
"Kayla!" pekik ketiga sahabat Kayla saat melihat Kayla membuka pintu kamar.
Ketiga sahabatnya menghambur memeluk tubuh mungilnya.
__ADS_1
Kayla menautkan kedua alisnya heran melihat ketiga sahabatnya histeris menyambut kedatangannya.
"Kamu baik-baik saja, Kay?" tanya Dian mengkhawatirkan keadaan sang sahabat.
"Syukurlah kamu sudah ketemu, Kay." Gita menimpali.
"Kami mencemaskanmu, Kay," tambah Lisa.
"Hei, hei, aku baik-baik saja, Dan aku dalam keadaan sehat," ujar Kayla menjawab semua pertanyaan dari para sahabatnya.
"Kami mengkhawatirkanmu, kamu ke mana saja?" tanya Dian mulai penasaran.
"Aku tadi jatuh pingsan setelah keluar dari toilet, kebetulan ada orang baik yang mengantarkanku ke rumah sakit," jawab Kayla.
Kayla menceritakan pertemuannya dengan Alex, tapi Kayla tidak menceritakan kondisinya saat ini yang sedang mengandung.
****
Kondisi Rayna saat ini mulai membaik walaupun dia harus mengkonsumsi beberapa obat penenang.
Satu minggu sudah Satya terikat dengan kondisi Rayna.
"Satya," panggil Bram saat Rayna mulai terlelap.
Bram mengajak Satya untuk duduk di sofa yang terdapat di lantai 2.
"Ya, Om," lirih Satya.
"Om dan Tante sudah mempertimbangkan permintaanmu waktu itu, menurut kami permintaanmu adalah solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang saat ini dihadapi Rayna. Kami berharap dengan pernikahan kalian nantinya dapat menyembuhkan depresi yang tengah dialami oleh Rayna," ujar Bram panjang lebar menyetujui Satya untuk menikahi putri semata wayangnya.
"Alhamdulillah, kalau begitu Saya boleh izin pamit pulang ke Padang untuk membicarakan masalah ini dengan kedua orang tua saya." Satya berniat untuk menyampaikan keinginannya untuk mempersunting Rayna pada Surya dan Arumi sebagai kedua orang tuanya.
"Baiklah, Om. Hari ini saya harus ke Jakarta terlebih dahulu, setelah itu say akan terbang ke Padang," ujar Satya.
Tak berapa lama setelah pembicaraan mereka, Satya pun meninggalkan kediaman keluarga Bramantyo dan melajukan mobilnya menuju Jakarta.
"Ada apa, Bro?" tanya Raffa pada Satya saat mereka menikmati makan siang di kantin kampus.
"Gue mau ke Padang untuk beberapa hari," jawab Satya jujur.
"Ada masalah?" tanya Raffa heran.
Tak biasanya Satya mendadak pulang ke Padang tanpa dirinya.
"Ini masalah Rayna,--" Satya pun mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang di alami Rayna.
Tapi Satya tidak mengumbar aibnya yang telah melakukan perbuatan dosa dengan gadis itu.
Raffa mengangguk paham.
"Loe mencintai Rayna?" tanya Raffa pada sahabatnya itu.
Satya mengangguk, "Iya, gue mencintainya. Gue ingin dia sembuh dengan perhatian dan kasih sayang dari gue," tutur Satya.
"Baguslah kalau begitu, sampaikan salam gue sama mama dan papa," ujar Raffa mendukung keputusan Satya.
Pekerjaan Satya sebagai asisten pribadi Raffa tidak akan terganggu walaupun nantinya dia sudah menikah dengan Rayna.
Mereka mengakhiri obrolan mereka, Satya meninggalkan Raffa di kantin.
__ADS_1
Dia pun langsung berangkat menuju bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke Padang menemui Surya dan Arumi.
Dua jam perjalanan, sebelum maghrib Satya sudah berada di depan kediaman keluarga Surya.
"Assalamu'alaikum," ucap Satya saat dia sudah berada di depan rumah kediaman keluarga Surya.
"Wa'alaikummussalam," jawab Bi sari sembari membukakan pintu rumah.
"Tuan Satya," seru Bi Sari kaget saat mendapati Satya berdiri di depan rumah.
"Papa sama mama ada, Bi?" tanya Satya.
"Ada, Tuan. Masuk dulu!" Bi Sari mempersilakan Satya masuk ke dalam rumah.
Berhubung waktu maghrib sudah masuk, Satya langsung masuk ke dalam kamar miliknya yang disediakan Surya untuknya di rumah itu.
Surya dan Arumi masih berada di dalama kamar mereka.
Usai shalat maghrib, Surya dan Arumi melangkah menuju ruang makan. Begitu juga dengan Satya, dia melangkah menuju ruang makan untuk menemui Surya dan Arumi.
"Pa, Ma," sapa Satya saat dia memasuki ruang makan.
Bi sari sudah memberitahukan kedatangan Satya kepada majikannya.
"Tumben kamu pulang, Nak," ucap Arumi heran.
"Iya, Ma, Pa. Ada hal yang ingin Satya sampaikan pada mama dan papa," jawab Satya.
"Oh, ya sudah makanlah terlebih dahulu. Kamu pasti lapar," ujar Arumi.
Arumi sengaja menunda membahas tujuan kedatangan Satya agar acara makan malam mereka tidak terganggu.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Satya?" tanya Surya memulai pembicaraan mereka setelah mereka menuntaskan kegiatan makan malam mereka.
"Pa, Ma, Satya mau minta izin sama mama dan papa untuk menikah," ujar Satya jujur dan terus terang.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ