Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 287


__ADS_3

Akifa langsung berlari ke kamar mandi dan kembali mengambil hijabnya, dia memasang jilbabnya yang sudah dibukanya tadi lalu keluar dari kamar mandi dengan perlahan berharap pria itu sudah taka da lagi di kamar itu.


Sembari Akifa memegang penguras kamar mandi bersiap untuk melindungi diri dari pria tersebut, jika sang pria ingin menyakitinya.


Si pria kaget saat mendengar teriakan Akifa, dia heran kenapa dia bisa terkunci di kamar itu. Entah siapa yang tadi sudah mendorong tubuhnya hingga dia bisa berada di dalam kamar itu.


Si pria berusaha membuka pintu kamar, tapi percuma karena saat ini dia sudah terkunci bersama seorang gadis di kamar tersebut.


“Siapa kau?” bentak Akifa bersiap memukul sang pria dengan sapu penguras kamar mandi.


“Stop! Jangan pukul,” teriak sang pria menahan Akifa yang hendak memukul dirinya.


“Siapa kau berani masuk ke dalam kamarku?” tanya Akifa.


“Tenang dulu, aku akan jelaskan,” ujar sang pria sambil angkat tangan berharap Akifa tidak memukulnya.


Akifa pun menurunkan sapu penguras kamar mandi yang tadi diangkatnya hendak memukul sang pria, lalu memperhatikan wajah si pria.


“Sepertinya aku pernah bertemu dengan pemuda ini?” gumam Akifa di dalam hati.


“Eh, tunggu. Sepertinya kita pernah bertemu,” lirih si pria saat melihat tahu lalat di bawah mata Akifa.


“Hah? Di mana?” llirih Akifa berusaha mengingat siapa pemuda yang kini berada di satu kamar dengannya.


“Alah, jangan-jangan alasan kamu saja.” Akifa kembali mencurigai sang pria.


Dia curiga sang pria ingin berbuat jahat pada dirinya.


“Tidak, tadi aku berjalan di depan kamar ini, dan tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke dalam kamar ini, dan orang itu mengunci pintu dari luar,” ujar sang pria membela diri.


Akifa pun melangkah menuju pintu kamar, dia berusaha membuka pintu kamar itu, tapi tidak bisa.


“Hah? Kenapa tidak bisa?” ujar AKifa cemas.

__ADS_1


“Aku sudah berkali-kali mencoba untuk membuka pintu,” ujar sang pria berharap Akifa mengerti dengan posisinya saat ini.


Akifa menelisik wajah sang pria, Akifa yakin sebelumnya dia pernah bertemu dengan pria itu, tapi dia lupa pernah bertemu di mana.


“Lho? Kalau tidak salah aku sudah mengunci pintunya, lalu mengapa ada orang bisa masuk ke dalam kamar ini?” gumam Akifa di dalam hati.


“Kamu harus berusaha keluar dari kamar ini,” desak Akifa kesal pada si pria itu.


“Mhm, aku akan berusaha keluar dari kamar ini,” ujar sang pria lalu dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya hendak membuat ponsel.


“Lho, ponselku mana?” gumam si pria mulai panik.


Seketika Akifa juga teringat ponselnya, dia pun melangkah menuju tempat tidur mengambil tas yang terletak di atas tempat tidur.


“Lho, ponselku mana?” gumam Akifa di dalam hati.


Dia panik karena tidak mendapati ponselnya di dalam tasnya, dia berusha mengingat-ingat di mana dia meninggalkan ponselnya. Namun, dia tidak mengingat apa pun.


“Ya ampun, apa yang harus kita lakukan?” ujar Akifa putus asa.


Akifa menatap tajam ke arah si pria itu. Dia menunjukkan kemarahan dan ketidaksukaannya pada sang pria yang kini telah duduk di sofa yang ada di kamar itu.


“Enak saja kamu bilang seperti itu, apa kata orang seorang gadis berada dalam satu kamar hotel bersama seorang pria, nama baikku akan hancur!” tolak Akifa.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya si pria bingung.


“Kamu harus berusaha mencari cara untuk keluar dari kamar ini!” bentak Akifa tak suka.


Akifa terus memaksa si pria agar bisa keluar dari kamarnya. Si pria pun terdiam sejenak. Sebenarnya dia merasa tidak enak berada di satu kamar dengan seorang wanita yang terlihat sangat menjaga dirinya.


Gadis yang berada di dalam kamar itu sangat menjaga auratnya agar tidak terlihat oleh dirinya, hal itu membuat si pria yakin si wanita adalah wanita baik-baik.


Terlebih si pria yakin pernah bertemu dengan wanita itu, dan wajahnya sangat tidak asing di benaknya.

__ADS_1


Si pria pun berdiri, dia melangkah menuju balkon kamar, dia melihat balkon kamar yang berada di samping kamar itu sudah gelap, dia tidak mungkin berteriak meminta tolong di sana.


Si pria juga melihat ke bawah, melihat ketinggian kamar tempat dia berada tak mungkin si pria melompat dari balkon itu, karena itu sama saja dengan bunuh diri.


Si pria kembali melangkah masuk ke dalam kamar.


“Tidurlah, aku akan tidur di sofa,” ujar si pria mengambil keputusan sepihak.


“Tidak, nanti bisa saja kau menyentuhku saat aku sedang tertidur,” bantah Akifa masih bersikeras menyuruh si pria keluar dari kamarnya.


“Aku janji tidak akan menyentuhmu,” ujar si pria lagi.


“Aku tidak bisa percaya begitu saja pada pria asing sepertimu,” ujar Akifa sengit.


Akifa tidak mau percaya begitu saja pada sang pria karena baginya pria asing tetap berbahaya terlebih saat ini dia berada di kamar yang sama.


“Terserah, aku tak akan mendekatimu. Aku akan tidur di sini,” ujar sang pria.


Si pria mulai membaringkan tubuhnya di atas sofa, dia mencoba memejamkan matanya berharap pagi cepat datang. Berkali-kali dia berusaha untuk tidur, tapi baying-bayang wajah sang wanita terus melintas di benaknya. Dia sangat mengenali wajah gadis itu, tapi dia masih belum bisa mengingat siapa gadis itu. Satu hal yang diingatnya adalah tahi lalat yang ada di bawah mata sang gadis.


Akifa kesal melihat tingkah sang pria yang mengabaikan perkataannya, dia duduk di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Dia berusaha untuk tidak terpejam agar dia dapat menjaga diri, jika sang pria berniat jahat pada dirinya nanti.


Akifa menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sambil melihat sang pria yang sudah terbaring di atas sofa.


Dengan susah payah Akifa menahan rasa kantuk yang menghadang dirinya hingga akhirnya dia pun tertidur karena kelelahan. Dia tak lagi ingat bahwa dirinya sedang berjaga-jaga dari sang pria asing.


Si pria yang sejak tadi tidak bisa tidur bangkit dari posisi berbaringnya. Dia menoleh ke arah sang gadis yang kini telah tertidur sambil duduk.


Dia merasa kasihan melihat posisi tidur Akifa sambil duduk, Si pria berdiri dan melangkah menghampiri Akifa. Dia memperbaiki posisi tidur Akifa, dai membaringkan tubuh Akifa di atas tempat tidur dengan baik.


Di saat itu si pria dapat mellihat dengan jelas wajah Akifa, seketika si pria teringat siapa gadis yang kini bersamanya.

__ADS_1


“Kamu,” lirih si pria.


Bersambung…


__ADS_2