
Setelah Sultan dan Maryam berkeliling mall sejenak, mereka melangkah menuju foodcourt tempat Reza berada.
"Za, kamu enggak mau makan?" tanya Maryam saat sudah duduk di tempat yang sama dengan putranya.
"Enggak, Ma. Nanti aja," jawab Reza.
"Eh, itu Sasa sudah datang," seru Maryam sambil melambaikan tangannya ke arah sepasang suami istri yang melangkah mendekati posisi mereka.
Di belakang mereka berjalan seorang gadis dengan mengenakan gaun merah menyala di bawah lutut dengan rambut tergerai indah.
"Hai, Maryam. Apa kabar?" sapa wanita yang seumuran dengannya.
"Alhamdulillah, Baik Sa. Kamu makin cantik aja," ujar Maryam memuji temannya.
Sultan berdiri menyambut kedatangan teman dan suami istrinya.
Dia menyalami pria yang berdiri di samping teman istrinya tersebut.
"Sultan," ujar Sultan memperkenalkan diri.
"Lingga," ujar suami Sasa.
"Silakan," ujar Sultan mempersilakan mereka untuk bergabung.
"Om, Tante," sapa sang gadis menyalami Sultan dan Maryam secara bergantian sebelum dia ikut duduk di samping Reza.
"Cantik banget," puji Maryam melihat gadis modis yang ada di hadapannya.
"Terimakasih, Tante," ujar gadis itu dengan senyuman menawan.
Sang gadis melirik Reza yang terlihat cuek padanya.
"Siapa namanya, Nak?" tanya Maryam setelah si gadis duduk di samping Reza.
"Gisella, Tante," jawab sang gadis.
Reza masih asyik bermain game di ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Dia sengaja mengabaikan kedatangan teman mamanya itu, ingin terlihat tidak sopan agar orang tua gadis itu tidak menyukainya.
Maryam menyenggol lengan putranya memberi kode kunyuk menyapa temannya.
Reza melirik ke arah Maryam, dia pun tersenyum pada tamu mamanya setelah sang Mama melototkan mata padanya.
"Eh, Tante, Om," lirih Reza sekadar basa basi.
"Ini namanya siapa?" tanya Sasa dengan ramah.
"Reza, Tante," jawab Reza.
"Wah nama yang bagus buat cowok setampan kamu," puji Sasa berusaha mendekatkan diri dengan calon menantunya.
"Mau pesan apa?" tanya Maryam sebelum mereka melanjutkan percakapan mereka.
__ADS_1
"Mhm, apa ya,?" gumam Sasa.
Mereka pun memilih makanan yang akan mereka pesan untuk santap siang mereka, kebetulan waktu sudah memasuki jam makan siang.
Mereka lanjut berbincang-bincang membahas berbagai hal, sementara itu Reza kembali fokus dengan ponselnya. Dia mengabaikan keberadaan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Sedikitpun Reza tidak tertarik dengan wanita yang duduk di sampingnya.
Aura sang gadis tidak mencerminkan sebagai seorang wanita yang baik karena dia dengan senang hati mengumbar auratnya pada khalayak ramai.
Dari segi cara sang gadis berpakaian saja, Reza sudah tidak menyukai wanita itu.
Gisella melirik Reza yang tidak memperdulikan keberadaannya. Dari sikap Reza, Gisella sudah bisa menyimpulkan bahwa pria yang berada di sampingnya tidak menyukai dirinya.
Dia tersenyum penuh kemenangan melihat sikap Reza.
"Bagaimana dengan perjodohan ini, kalian setuju?" tanya Sasa terus terang pada putrinya dan Reza.
"Hah?" Reza dan Gisella melotot tak percaya.
Mereka baru saja bertemu, kedua orang tua mereka sudah sepakat untuk melanjutkan perjodohan ini.
Reza dan Gisella saling beradu pandang, Gisella hanya tersenyum sedangkan Reza memalingkan wajahnya tak suka.
Sasa tidak memperdulikan sikap Reza yang cuek terhadap putrinya, dia hanya ingin perjodohan itu tetap dilaksanakan.
Melihat gelagat Reza yang semakin tidak suka berada di tempat itu.
"Mhm, sepertinya mereka butuh waktu untuk saling mengenal," ujar Maryam.
"Ya udah, nanti setelah makan. Kalian boleh mau pergi berdua," ujar Sasa seolah dia memang bersikeras akan menikahkan putrinya dengan Reza.
"Iya, Za. Nanti setelah kita selesai makan kamu bawa Gisella pergi keluar agar kalian bisa saling mengenal," ujar Maryam menanggapi ucapan temannya.
"Mhm," gumam Reza malas.
Mereka tersenyum, Sultan dan Lingga pun mulai berbincang-bincang membahas pekerjaan dan hobi mereka hingga seorang pelayan datang mengantarkan menu makan siang untuk mereka.
Merekapun menyantap makanan yang sudah terhidang di hadapan masing-masing.
Reza enggan menyentuh makanannya, selera makannya hilang begitu saja saat melihat wanita minim bahan yang ada di sampingnya.
Bayang-bayang gadis anggun menjaga auratnya dari mata bukan mahramnya terus terlintas di benaknya.
Senyum renyah dan cara berbicara gadis yang sopan itu terus bergelayut dalam pikiran-pikirannya.
"Za, kamu bisa bawa Gisella jalan berkeliling dulu," perintah Maryam pada putranya.
"Iya," lirih Reza sambil berdengus kesal.
Reza berdiri dan langsung melangkah meninggalkan found court tanpa mengajak Gisella.
Gisella tidak peduli dengan sikap dingin Reza, dia pun berdiri melangkah mengikuti langkah Reza.
__ADS_1
Dia menggandeng lengan Reza saat gadis itu sudah berjalan di sampingnya.
"Jangan sentuh aku, kita bukan muhrim," ketus Reza melepaskan tangan Gisella yang tadinya sudah melingkar di lengannya.
Dengan wajah masam, Gisella melepaskan tangannya dari lengan kekar pria tampan di sampingnya.
"Anak-anak kita terlihat sangat serasi," puji Sasa.
"Iya, yang satunya cantik dan yang satunya tampan," tambah Lingga memuji kecantikan putrinya.
Reza melangkah menuju parkiran, dia bingung akan membawa ke mana gadis yang terlihat sangat ingin menjadikan dirinya pendamping dalam hidupnya.
Akhirnya, terlintas di benaknya untuk membawa Gisella ke sebuah taman kecil dan tidak terurus di samping GOR.
Taman ini letaknya tidak terlalu jauh dari mall tempat mereka berada.
Reza membuka pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Membiarkan Sasa yang berharap untuk dibukakan pintu mobil untuknya.
Dia menit Reza menunggu di dalam mobil, gadis itu masih enggan untuk masuk ke dalam mobil.
"Ayo masuk!" perintah Reza setelah dia membuka kaca jendela mobil.
Gisella melirik ke arah Reza yang memang dari awal memperlihatkan ketidaksukaannya pada Gisella.
"Jadi cowok enggak romantis banget, sih," lirih Gisella pelan menggerutu.
Reza masih dapat mendengar dengan jelas umpatan wanita yang kini sudah duduk di sampingnya.
Sepanjang perjalanan Reza hanya diam, begitu juga dengan Gisella. Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.
Reza memarkirkan mobilnya di pinggir taman tersebut.
"Kita ngapain ke sini?" protes Gisella saat Reza mau turun dari mobil.
"Ya, terserah kamu mau ngapain? Aku hanya mengikuti perintah orang tuaku untuk membawamu pergi, dan sudah aku lakukan." Reza turun dari mobil dan mencari tempat duduk di taman itu.
Reza mengeluarkan ponselnya lalu kembali asyik dengan game yang ada di ponselnya.
Gisella enggan turun dari mobil, tapi karena Reza sudah turun dia terpaksa untuk turun.
Dia duduk di samping Reza yang kini sibuk dengan dunianya.
Gisella terlihat kesal dengan sikap Reza.
"Kamu bawa aku ke sini buat ngapain?" protes Gisella.
Dia berusaha untuk mengalihkan fokus Reza dari gamenya.
Sejenak Reza menghentikan gamenya.
Dia menghela napas panjang.
"Sejak tadi aku sudah katakan padamu, bahwa aku mengajakmu pergi hanya mengikuti perintah orang tuaku," ujar Reza.
__ADS_1
Bersambung...