
"Aku, aku ke rumah sakit aja," jawab Alita.
Alita merasa sangat sedih sekali dengan nasib yang menimpanya.
"Ya sudah, ayo aku antar. Nanti keburu larut," ujar Raffa pada adik iparnya.
Alita mengunci pintu rumah, setelah itu mengikuti langkah Raffa yang sudah berada di dalam mobilnya.
Alita bingung hendak duduk di bangku belakang atau di depan, akhirnya Alita memilih duduk di bangku belakang.
Saat Alita membuka pintu belakang.
"Kenapa kamu duduk di sana?" tanya Raffa merasa tidak enak jika dia membiarkan adik iparnya duduk di bangku belakang.
"Ta- tapi," lirih Alita ragu.
"Duduklah di depan," perintah Raffa.
Mau tidak mau akhirnya Alita masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Raffa.
Setelah itu Raffa mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Raymond.
Raffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ya Allah, dulu hal inilah yang aku inginkan. Berharap duduk di samping pria yang selama ini aku cintai. Tapi, kini di saat aku tak lagi merasakan cinta padanya kau izinkan aku duduk berdampingan dengannya," gumam Alita di dalam hati.
"Ya Allah, semoga Alita benar-benar mencintai Raymond. Sehingga dia tak lagi ada niat untuk mengusik kebahagiaan keluarga kecilku," gumam Raffa di dalam hati.
"Bang, aku minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan terhadap kamu dan kak Kayla," lirih Alita pelan.
Raffa menoleh ke arah Alita. Dia tersenyum bersyukur dengan perubahan yang sudah terjadi pada diri Alita.
"Aku sudah maafkan semua yang kamu lakukan, ini semua karena Kayla. Dia yang menasehatiku untuk memaafkan semua kesalahan siapa pun yang sudah berbuat salah pada diri kita. Dia juga yang mengajariku untuk tetap sabar dalam berbagai masalah yang kita hadapi. Aku harap kamu bisa kuat menjalani ujian ini, kita akan selesaikan masalah Raymond secepatnya. Saat ini yang perlu kamu lakukan adalah banyak berdo'a," nasehat Raffa.
"Makasih ya, Bang. Mungkin ini hukuman bagiku yang sudah banyak melakukan dosa," lirih Alita menundukkan kepala.
"Ini bukanlah hukuman, jadikan masalah ini ujian, sehingga kita dapat sabar dalam menjalani ya," nasehat Raffa dengan bijak.
"Iya, Bang. Terima kasih," lirih Alita.
Alita tak tahu harus berkata apa lagi, hanya ucapan terima kasih yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Mereka pun sampai di parkiran rumah sakit, Raffa menghentikan mobilnya, dia turun dari mobil diikuti oleh Alita.
Mereka melangkah menuju ruang rawat Alex, Raffa sengaja mengantarkan Alita hingga ruang rawat karena Rafa takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Alita karena malam semakin larut.
Mereka mendapati Bunda Hurry dan Irene sudah tertidur saat mereka sampai di ruang rawat Alex.
Bunda Hurry sudah tertidur di atas sofa sedangkan Irene tidur di atas kursi di samping tempat tidur Alex bertumpu di tempat tidur suaminya sambil menggenggam tangan sang suami.
Alita masuk perlahan, dia melangkah mendekati Bunda Hurry.
Alita menyentuh pelan tangan Bundanya, merasa tangannya dipegang seseorang bunda Hurry terbangun.
"Alita," ujar Bunda Hurry kaget saat melihat putrinya sudah berada di hadapannya.
"Bunda," isak Alita.
Tangis Alita pecah dalam pelukan sang Bunda.
Bunda Hurry masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya sadar.
Bunda Hurry berusaha duduk perlahan, sementara itu Alita masih memeluknya.
Hurry melihat ke arah Raffa yang sedang berdiri di depan pintu.
"Raymond ditangkap polisi, Bun," ujar Raffa terus terang.
"Apa?" Hurry kaget saat mendengar jawaban dari Raffa.
Hurry memeluk erat tubuh putrinya, dia tahu saat ini, Alita butuh dukungan dari dirinya sebagai seorang Bunda.
Hurry memilih untuk diam sejenak hingga Alita merasa tenang.
Raffa melangkah dan duduk di sofa di depan Bunda Hurry.
"Keluarga Alvaro menuntut polisi untuk menghakimi dalang dari kecelakaan yang menimpa putra mereka, setelah diselidiki Raymond terbukti bersalah dalam peristiwa itu," jelas Raffa menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Hurry.
"Lalu sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk membebaskan Raymond?" tanya Bunda Hurry pada menantunya.
"Aku akan mencoba menghubungi pengacara terbaik untuk membantu Raymond keluar dari masalah ini, atau kita harus bernegosiasi dengan keluarga Alvaro agar mereka mencabut tuntutan mereka," jawab Raffa.
"Bunda tenang saja, aku sama papa akan mengurus semua ini," ujar Raffa berusaha menenangkan Bunda Hurry yang mulai mengkhawatirkan keadaan menantunya.
Beberapa hari ini menjadi hari-hari yang paling sulit dilewatinya, Hurry harus menyaksikan putranya yang masih terbaring di atas tempat tidur, sementara itu Raymond menantunya terlibat kasus percobaan pembunuhan terhadap Varo.
__ADS_1
"Kenapa ujian bertubi-tubi datang pada anak-anak bunda?" lirih Hurry sedih.
"Bunda sabar, ya. Raffa minta bunda dan Alita perbanyak do'a agar masalah ini cepat selesai," ujar Raffa berusaha menenangkan Bunda Hurry.
"Iya," lirih Bunda Hurry.
"Bun, aku pulang dulu, ya. Udah semakin larut," ujar Raffa pamit pada Hurry.
"Ya udah, kamu hati-hati, ya," ujar Hurry.
"Iya, Bun." Rafa berdiri dan melangkah keluar dari ruang rawat Alex dan dia kembali pulang.
Keesokan harinya, Irene terbangun pada pukul 04.00 sebelum waktu subuh masuk. Irene kaget saat melihat Alita berada di rumah sakit.
"Sejak kapan Alita datang?" tanya Irene di dalam hati.
Sementara itu, Irene sudah melihat Bunda Hurry tengah bermunajat pada sang Maha pencipta mengadukan segala gundah di hatinya.
Bunda Hurry menumpahkan semua beban yang kini diembannya dalam setiap do'anya.
Irene melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dia pun bersiap-siap untuk melaksanakan shalat tahajud sebelum waktu subuh masuk.
Hal ini sudah rutin dilakukan Hurry dan Irene mereka akan menangis meminta kesembuhan atas Alex di atas sajadah mereka.
Mereka yakin Tuhan akan mengabulkan do'a-do'a yang mereka mohonkan.
Usai shalat tahajud, Irene melantunkan ayat suci Al-Quran di samping Alex berharap dia mendengar dan ingin cepat sadar.
Alita terbangun saat mendengar Irene membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dia terpukau dengan apa yang kini disaksikan oleh matanya.
Selama ini Alita tidak pernah melakukan hal yang kini dilakukan oleh Irene dan Hurry.
Yang Alita tahu hanya shalat lima waktu sehari semalam, itu pun tak rutin dikerjakannya.
Alita menatap dua wanita yang tengah melakukan ibadah yang tak pernah dilakukannya lagi.
Alita mencoba mengingat entah kapan dia terakhir membaca Alquran.
"Astaghfirullahaladzim," lirih Alita menyadari kesalahannya selama ini.
Dia benar-benar sudah sadar dengan apa yang sudah terjadi.
Bersambung...
__ADS_1