Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 262


__ADS_3

Raymond terbangun dari tidurnya, dia kaget saat mendengar teriakan sang istri.


Tanpa mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu dia langsung bangun dan berdiri, dia bergegas meraih sebuah celana boxer yang tergeletak di lantai lalu memakainya karena sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri.


"Ada apa, Sayang?" tanya Raymond setelah berada di samping istrinya yang berdiri terpaku menatap ke arah tempat tidur.


Raymond merangkul tubuh Alita berusaha menenangkan istrinya yang terlihat sangat shock.


Alita masih diam, pandangannya lurus ke depan, hingga akhirnya Raymond mengikuti tatapan mata sang istri.


"Ka-ka-kamu kenapa, Sayang?" tanya Raymond gugup.


Raymond menyadari alasan istrinya berteriak di pagi hari ini, jantung Raymond berdegup kencang seketika.


Raymond takut Alita menyadari kebohongan yang sudah dilakukannya bersama Alex pada malam itu.


Raymond mulai khawatir Alita akan membencinya seketika padahal rumah tangganya yang sesungguhnya baru saja mereka mulai.


"I-itu," lirih Irene sambil menunjuk ke atas tempat tidur.


Sprei tempat tidur yang berwarna putih kini terkena bercak darah yang membuat Alita cemas.


Setahu Alita, seorang wanita hanya mengeluarkan darah perawannya hanya satu kali saat melakukan hubungan pertama kalinya.


Dia teringat sesuatu.


"Apakah malam itu tidak terjadi apa-apa di antara aku dan Raymond?" gumam Alita di dalam hati.


Tiba-tiba Alita menatap tajam ke arah Raymond, dia mulai menyadari darah apa yang sudah menodai sprei putih itu.


Raymond hanya menunduk, dia tak sanggup berkata apa-apa.


"Apakah kamu sudah membohongiku?" tanya Alita pada Raymond meminta penjelasan.


Alita menatap kecewa pada Raymond, lalu dia meninggalkan Raymond begitu saja.


Dia hendak melangkah menuju kamar mandi lalu membersihkan diri.


"Auuw," pekik Alita saat merasakan bagian sensitifnya terasa sakit.


Alita jatuh ke lantai karena tidak sanggup menahan rasa sakit.


Raymond tersentak saat melihat istrinya sudah terduduk di lantai.


"Hati-hati," lirih Raymond.


Dia pun menghampiri sang istri lalu langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kamu harus hati-hati," ujar Raymond saat mendudukkan Alita di dalam bathup.


"Apa aku harus membantumu untuk mandi?" tanya Raymond meminta izin pada istrinya.


"Tidak usah," tolak Alita ketus, dia mulai kesal pada suaminya yang belum juga menjawab pertanyaan yang dilontarkannya.


Alita mencoba berdiri, tapi Alita kembali jatuh karena sakit di pangkal pahanya membuat dia tak sanggup berdiri.


Raymond pun mendekati istrinya.


"Diamlah, kamu pasti masih merasa sakit. aku akan membantumu," ujar Raymond tak peduli atas penolakan sang istri.


Akhirnya Alita memilih untuk diam membiarkan sang suami melakukan apa yang harus dilakukannya.


Dengan telaten Raymond membersihkan tubuh Alita, rasa malu yang sebelum ada di antara mereka kini tak ada lagi karena mereka sudah saling meluapkan rasa cinta yang ada di dalam jiwa mereka.


Malam panas yang baru saja mereka lewati masih terlintas jelas dalam benak mereka masing-masing.


Alita diam sambil terus menatap pada wajah tampan pria yang kini sudah menguasai hatinya.


"Apakah pada malam itu tak terjadi apa-apa di antara aku dan Raymond," gumam Alita di dalam hati.


"Atau bisa jadi, malam itu kami sudah melakukanya, tapi karena masih satu kali kembali berdarah di saat kedua kalinya?"


Dia mulai bertanya-tanya di dalam hati tentang apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.


"Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi?" Alita terus sibuk dengan berbagai pikiran yang ada di benaknya.


Dia pun tidak sadar, Raymond sudah membawanya keluar dari kamar mandi dan kini dia sudah berbaring di atas tempat tidur.


Alita memperhatikan sang suami melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian miliknya.


"Ini pakaianmu, apakah masih butuh bantuanku?" tanya Raymond pada Alita.


Sejak tadi Raymond sengaja tidak mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan dari Alita karena dia belum siap memberitahukan kejadian yang sesungguhnya pada sang istri.


Raymond juga tahu bahwa saat ini Alita tengah mempertanyakan apa yang sudah terjadi di antara mereka selama ini.


Alita menggelengkan kepalanya menolak bantuan dari sang suami.


Raymond pun meletakkan pakaian istrinya di atas tempat tidur tepat di depan sang istri lalu dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.


Setelah selesai membersihkan diri Raymond keluar dari kamar mandi dengan handuk terikat di pinggangnya.


Raymond melangkah menuju lemari lalu mengambil pakaiannya dan langsung mengenakan pakaian tersebut setelah itu dia pun melaksanakan shalat subuh.


"Kita shalat subuh berjamaah, yuk," ajak Raymond pada Alita..

__ADS_1


"Kamu shalat lah terlebih dahulu, aku nanti menyusul," ujar Alita enggan untuk shalat bersama dengan Raymond karena pikirannya kini tengah berkecamuk.


"Ya sudah, aku shalat dulu," ujar Raymond pada Alita.


Raymond pun melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba, setelah itu Alita pun beranjak untuk melaksanakan shalat dengan langkah tertatih menahan sakit di pangkal pahanya.


Usai shalat subuh, Raymond langsung melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Begitulah rutinitas pasangan suami istri ini, setiap harinya Raymond yang menyiapkan sarapan sementara itu Alita hanya fokus pada kuliahnya.


Raymond tidak ingin membebani istrinya yang masih sibuk belajar dengan berbagai pekerjaan rumah termasuk menyiapkan sarapan untuk mereka.


Sementara itu, makan siang dan malam mereka biasa makan di luar.


Sedangkan Alita masih sibuk dengan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Dia kembali duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di sandaran tempat tidur.


Setiap sentuhan dan belaian sang suami kembali terlintas di benaknya, membuat rasa kecewa menguap begit saja. Dia mengenang rasa sakit yang tak terkira hilang begitu saja dalam kehangatan cinta yang diberikan oleh sang suami.


Pada pukul 07.00 sarapan sudah siap, Raymond pun membawakan sarapan untuk istrinya ke dalam kamar.


Dia merasa kasihan pada istrinya yang mungkin masih merasa sakit di bagian pangkal pahanya.


"Sarapan dulu ya, Sayang," ujar Raymond sambil menyodorkan sepiring nasi goreng pada sang istri.


Raymond berpura-pura tidak terjadi apa-apa pada istrinya.


"Ray, katakan sejujurnya apa yang terjadi?" tanya Alita meminta penjelasan pada sang suami.


Alita ingin mengetahui kejelasan apa sebenarnya terjadi pada malam itu.


"Maaf," lirih Raymond.


Hanya satu kata maaf yang keluar dari mulut Raymond.


Alita menautkan kedua alisnya bingung mendengar ucapan sang suami.


"Maaf untuk apa?" tanya Alita semakin penasaran.


"Sebenarnya,--" Raymond mulai menceritakan semua yang terjadi malam itu.


Raymond juga menceritakan alasan dia melakukan hal itu, Raymond memberitahukan sedetail mungkin agar Alita dapat memaafkan rencana pernikahan yang dijalaninya selama ini.


"Apakah Ayah Hendra dan Bunda Hurry tahu rencana kalian?" tanya Alita pada Raymond.


"Tidak, ini murni keputusan mereka begitu saja," jawab Raymond.


Alita terdiam lama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2