
Dalam kondisinya yang masih lemah, Raffa meneteskan air mata bahagia saat melihat ketiga anaknya yang sudah berbaring di box tepat di samping tempat tidurnya.
Sementara itu Rayfa juga sempat melirik ke arah Kayla yang kini sedang tertidur pulas karena kelelahan berjuang melahirkan buah cinta mereka.
Dokter dan perawat yang menangani Kayla keluar dari ruangan tersebut.
Melihat dokter dan perawat yang keluar Arumi langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Arumi menyerbu sang dokter dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah, menantu Nyonya sudah melahirkan 2 orang bayi laki-laki dan 1 orang bayi perempuan. Saat ini pasien harus beristirahat karena kelelahan," jawab sang Dokter.
Hurry menoleh kepada sang suami, dia bersyukur atas berita yang diberitahukan oleh sang Dokter.
Hendra merangkul pundak sang istri, dia juga merasakan hal yang sama dengan istrinya.
Begitu juga dengan keluarga lainnya mereka bersyukur atas keadaan Kayla dan Raffa baik-baik saja.
"Apakah kami sudah boleh masuk melihat pasien?" tanya Arumi.
"Boleh, tapi kami sarankan jangan terlalu banyak masuk ke dalam ruangan, karena pasien masih butuh istirahat agar pasien tidak terganggu," ujar Dokter.
Sang dokter khawatir semua keluarga masuk ke dalam ruangan pasien, terlihat keramaian keluarga besar Kayla dan Raffa yang sedang menunggu di depan ruangan pasien tersebut.
"Ketiga bayi Nona Kayla juga sedang tertidur di samping tempat tidur ayahnya," ujar Dokter lagi.
"Baiklah, Dok terima kasih atas sarannya, kami akan masuk ke ruangan secara bergantian," ujar Arumi menanggapi saran dari sang Dokter.
"Hur, kita masuk duluan, yuk! biar anak-anak setelah kita," ajak Arumi pada Hurry dan suaminya.
Arumi, Surya, Hurry dan Hendra pun masuk ke dalam ruang rawat Raffa dan Kayla.
Saat mereka masuk ke dalam ruangan, mereka dapat melihat Rafa yang kini menatap haru ke arah box tempat ketiga anak-anaknya yang sedang tertidur pulas.
Di samping Raffa, Kayla terbaring lemah setelah melakukan proses persalinan yang panjang.
Arumi dan huri bergegas menghampiri box ketiga bayi Kayla dan Raffa. mereka tidak sabar untuk melihat cucu cucu mereka yang baru lahir.
"Alhamdulillah, kalian sangat tampan dan cantik," puji Arumi sambil berucap syukur.
"Ma Ma," lirik Raffa pelan memanggil ibunya.
Arumi langsung menoleh ke arah Raffa, dia mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang?" tanya Arumi dengan penuh kasih sayang.
"A-a-ku ma-mau meng-meng-azan-kan dan meng-meng-i-qa-mah-kan, a-a-nak-a-anak-ku," lirih Raffa terbata-bata.
Rafa sempat mendengar bahwa anak yang dilahirkan Kayla 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, sehingga dia tahu kewajibannya untuk mengazankan dan mengiqamahkan putra-putrinya.
Surya tersenyum mendengar ucapan Sang putra.
"Ma, kamu dan Hurry gendong kedua putra Raffa dan bawa mereka ke samping Raffa agar Raffa bisa mengazankan putra-putranya," ujar Surya memberi solusi pada Raffa yang masih terbaring lemah.
Surya terharu mendengar permintaan Raffa, di saat dia yang masih lemah. Dia masih ingin menunaikan kewajibannya sebagai seorang ayah bagi putra-putrinya.
Begitu dengan Hendra, dia kagum dengan pribadi yang dimiliki Raffa.
"Ya Allah, sembuhkanlah putriku dan menantuku." Hendra berdo'a di dalam hati untuk kesembuhan Raffa dan Kayla.
Arumi dan Hurip langsung mengambil putra-putra Raffa dari box dan menggendongnya.
Di pergelangan tangan bayi tersebut sudah tertulis identitas mereka sehingga mereka dengan mudah mengetahui mana bayi yang laki-laki.
Dua wanita yang seumuran tersebut berdiri mendekati Rafa yang masih berbaring.
Raffa pun mulai mengumandangkan adzan dengan suara yang sangat pelan, dengan susah payah dia menyelesaikan tugasnya sebagai seorang ayah.
Setelah mengumandangkan adzan di telinga kedua bayinya, Arumi dan Hurry kembali meletakkan kedua bayi tersebut di dalam box bayi.
Selanjutnya Arumi mengambil bayi mungil perempuan lalu menggendongnya dan mendekatkan bayi itu pada ayahnya.
Kini Raffa membacakan bacaan iqomah di telinga bayi perempuannya.
Harapan yang sama terbesit di hati Rafa agar bayi perempuannya tumbuh menjadi wanita sholehah seperti ibunya.
"Te-ri-ma ka-sih, Ma, Bun," lirih Raffa terharu.
Arumi mengelus lembut kepala putranya.
"Mama bersyukur kamu bisa sembuh, tak ada kebahagiaan yang lebih sempurna selain melihat putra kesayangan mama sudah sadarkan diri," ujar Arumi bahagia.
Hurry dan Hendra berdiri di samping tempat tidur Kayla. Mereka menatap haru pada putrinya yang masih terlelap karena kelelahan.
"Bunda bahagia melihat suamimu sudah sadar, Nak. Kalian akan semakin bahagia dengan hadirnya buah hati kalian yang menghiasi hari-hari kalian selanjutnya," gumam Hurry di dalam hati.
"Ma, kita keluar, yuk. Kasihan Raffa. Dia juga butuh istirahat," ujar Surya pada istrinya.
__ADS_1
Surya tidak ingin kesehatan Raffa kembali terganggu karena kurangnya istirahat.
"Iya, Pa." Arumi mengangguk.
"Sayang, kamu tidur dulu, ya. Mumpung anak-anak juga lagi tidur, Mama dan Bunda menunggu di luar, kami akan masuk di saat mereka masuk. Kamu harus istirahat biar cepat sembuh," ujar Arumi panjang lebar.
Raffa mengangguk.
Mereka pun keluar dari ruang rawat itu, membiarkan keluarga kecil itu beristirahat agar mereka cepat pulih.
Di luar ruang rawat Kayla dan Raffa Hurry memberitahukan keadaan Kayla dan Raffa pada semua anggota keluarga yang juga berada di sana.
Mereka bersyukur dengan berita yang disampaikan oleh Arumi dan Hurry.
Akhirnya mereka dapat beraktivitas seperti biasa.
****
Keesokan harinya Kayla sudah mulai memberikan ASI eksklusif kepada putra-putrinya secara bergantian.
Kayla semakin bersemangat untuk memberikan ASI pada putra-putrinya karena suaminya mulai membaik.
Rafa kini sudah mulai bisa duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memperhatikan kehebohan Arumi, Hurry, dan Kayla mengasuh putra-putri mereka.
"Mama udah lupa gimana cara membedong bayi." Sesekali Arumi mengoceh tak keruan.
"Gini lho, Rum caranya," sahut Hurry mengajar Arumi.
Hurry yang mempunya 2 anak di tambah dengan 3 anak-anak adiknya buat dia lihai dalam membedong bayi.
Dua orang wanita yang kini sudah resmi berstatus seorang nenek sibuk mengurusi ketiga cucu-cucu mereka.
Surya dan Hendra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala saat menyaksikan kehebohan istri mereka dalam merawat cucu cucu mereka yang baru lahir tersebut.
Begitu juga keluarga yang lainnya mereka ikut berkumpul di dalam ruangan tersebut.
Sesekali terdengar tawa kecil anggota keluarga melihat kehebohan 2 nenek yang semangat mengurusi cucu-cucu mereka.
"Bukan gitu, Rum. Coba deh kamu lihat aku," ujar Hurry mengajari Arumi memasangkan gurita si bayi perempuan.
Dalam kehebohan 2 nenek itu, tawa kecil terdengar menggema di dalam ruang rawat Kayla dan Raffa.
Bersambung...
__ADS_1