
“Aduh!” lirih Raffa menghentikan langkahnya.
Raffa pun kembali mendekati ketiga bayi kembarnya.
“Kenapa, Nak?” lirih Raffa saat dia sudah berada di dekat ketiga buah hatinya.
3R menatap wajah papanya dengan mata yang berbinar, sehingga mereka terlihat sangat menggemaskan.
Ketiga wanita dewasa yang berada di sana tersenyum gemas melihat bayi-bayi mungil itu, yang tadinya menangis ketika papanya pergi dan diam seketika ketiga sang papa sudah berada di dekat mereka.
“Kayaknya mereka kangen sama papanya,” ujar Hurry sambil tersenyum.
Beberapa hari ini papa 3R sering sibuk karena banyak seminar yang harus diisi. Hampir selama liburan Raffa tidak ada melakukan seminar sama sekali dan sekarang jadwal seminar yang menumpuk harus dilaksanakannya satu per satu. Kesibukannya membuat waktunya bersama buah hati hanya sebentar.
Akhirnya Raffa duduk di kamar itu tanpa menggendongnya, ketiga buah hatinya digendong nenek dan mamanya. Raffa mengelus lembut kepala Ratu hingga tertidur, Setelah itu, Raja disusui oleh Kayla. Tak berapa lama Raja tertidur. Sedangkan Raju, masih terbangun. Dia masih menatap papanya dengan riang.
Raffa mengelus lembut dahi Raju hingga akhirnya Raju pun tertidur pula mengikuti kedua saudara kembarnya.
“Ya ampun, Fa. Kalau setiap hari seperti ini kamu tidak akan bisa ke mana-mana,” ujar Arumi pada putranya setelah 3R tertidur di atas kasur.
“Iya, Fa. Kamu harus bisa kasih waktu buat anak-anakmu, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kebahagiaan anak-anak nomor satu.” Hurry menambahi.
“Iya, Ma, Bun. Mulai hari ini Raffa akan mengurangi jadwal seminar. Lagian sebentar lagi Raffa juga Raffa juga selesai kuliah, jadi Raffa tinggal fokus sama perusahaan papa. Rencananya untuk kafe aku dan Satya sudah memberi kepercayaan kepada Nick, Raymond dan Alex menghandlenya.
Raffa dan Satya sudah memutuskan jalan hidup mereka selanjutnya, karena saat ini mereka memiliki tanggung jawab dalam rumah tangga mereka masing-masing, terlebih Satya juga bertanggung jawab mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh ayah Bramantyo.
Kayla meminta Raffa untuk mengurus penyerahan harta warisan Bramantyo yang diberikan atas namanya untuk dipindahkan pada Rayna. Bagi Kayla hidup bahagia bersama Raffa sudah cukup baginya. Lagian Dirinya dan Rayna masih saudara begitu juga Raffa dan Satya juga sudah saling menganggap bahwa mereka bersaudara.
“Baguslah kalau begitu, itu lebih baik.”Arumi bangga pada putranya.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana, anak-anak biar kami yang jagain. Kayla, kalau kamu mau istirahat, istirahatlah mumpung 3R sedang tidur," ujar Arumi.
"Oh, iya, Ma. Kami ke kamar dulu," ujar Raffa.
Raffa menarik tangan Kayla yang masih saja duduk di samping kasur si kembar.
__ADS_1
Arumi dan Hurry tersenyum melihat tingkah Raffa. Kayla hanya menggelengkan kepalanya, lalu berdiri mengikuti langkah sang suami menuju kamar.
"Aku kangen kamu," ujar Raffa langsung memeluk tubuh istrinya saat berada di dalam kamar.
Kayla memutar bola matanya melihat tingkah sang suami.
"Ish, kamu belum mandi, bau," lirih Kayla jujur.
"Jadi, kalau aku bau, kamu enggak cinta lagi sama aku?" tanya Raffa memasang wajah cemberut.
"Mhm, kalau enggak kamu yang aku cintai siapa lagi? Hah?" Kayla mencubit lembut hidung mancung milik suaminya.
"Hehe, aku bahagia memiliki kalian," lirih Raffa.
Raffa mempererat pelukannya, walaupun tadi Kayla sempat protes dengan aroma tubuhnya yang sudah menyengat karena beraktivitas seharian.
"Makasih, Sayang. Hidupku terasa sangat sempurna dengan hadirnya kalian dalam hidupku," ujar Raffa.
Dia mengelus lembut kepala sang istri menyalurkan rasa sayang yang ada di hatinya pada sang istri.
“Sayang,” lirih Kayla.
Kayla tahu saat ini, suaminya ingin menyalurkan hasrat bathinnya. Namun, saat ini Kayla masih dalam situasi nifas sehingga Kayla pun melakukan kewajibannya sebagai sang istri asalkan hasrat bathin sang suami dapat ditumpahkan meskipun tanpa cara yang semestinya.
Mereka sudah berpindah ke atas tempat tidur, Raffa memeluk erat sang istri.
“Maafkan aku,” lirih Raffa merasa bersalah karena dia tak lagi sanggup menahan diri untuk tidak meluapkan hasrat biologisnya yang sudah 3 minggu di tahannya.
“Mhm, aku pernah baca buku. Lebih baik istri melakukan sesuatu yang pantas untuk melayani hasrat biologis suaminya daripada membiarkan sang suami melakukan hal itu seorang diri,” ujar Kayla dengan senyuman yang membuncah.
“Terima kasih, Sayang. Aku semakin mencintaimu,” lirih Raffa.
“Ya udah, aku mandi duluan, ya. Takut nanti 3R bangun, bikin susah nenek-neneknya.”Kayla bangun dari posisi berbaringnya.
Sebelum bangun dia melayangkan sebuah kecupan penuh cinta di dahi sang suami. Bagi Kayla, setelah menikah seorang istri harus bisa melakukan hal-hal yang lebih agresif terhadap sang suami karena dia yakin dengan hal itu membuat sang suami akan semakin mencintainya. Seorang pelakor saja selalu bertindak agresif untuk mendapatkan suami orang, kenapa seorang istri itu bisa lebih agresif dari seorang pelakor, begitulah pendapat Kayla.
__ADS_1
Raffa melayangkan senyuman bahagia dnegan apa yang sudah dilakukan sang istri, dia tak menyangka istrinya akan melakukan hal yang baru saja dinikmatinya. Raffa semakin mencintai istrinya.
Kayla masuk ke dalam kamar mandi, Raffa masih berbaring beristirahat sejenak sambil menunggu Kayla selesai mandi.
Tak berapa lama, Kayla pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan handuk di kepalanya. Kini Kayla tidak lagi malu memperlihatkan tubuhnya pada sang suami, karena keindahan tubuh sang istri adalah hak sang suami dan itu akan menjadi lading pahala baginya.
“Udah?” tanya Raffa menatap terpesona pada sang istri.
“Mhm,” gumam Kayla mengangguk.
“Kamu setelah melahirkan makin seksi,” ujar Raffa ingin memuji sang istri.
“Seksi apa gemuk?” tanya Kayla sambil mengerucutkan bibirnya cemberut.
“Seksi dong, Sayang. Tubuhmu yang sudah sedikit berisi membuat kamu semakin cantik,” puji Raffa masih menggoda sang istri.
“Ih, bilangnya sedikit berisi? Bilang aja jujur gemuk gitu,” gerutu Kayla.
“Enggak, Sayang. Kamu enggak gemuk, tapi montok dan aduhai,” puji Raffa.
Kayla melotot melihat Raffa, Raffa pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi sebelum istrinya mengamuk.
“Huhft.” Kayla menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.
Dia tersenyum bahagia, dan berharap pada Allah agar rumah tangganya akan terus bahagia hingga maut memisahkan mereka.
Kayla melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian yang akan dikenakannya, setelah itu dia pun mengambil pakaian yang akan dikenakan oleh sang suami lalu meletakkan pakaian tersebut di atas tempat tidur.
Tok tok tok.
Terdengar pintu kamar diketuk dan Arumi memanggil.
"Kayla!"
Kayla bergegas keluar, dia takut si kembar bangun.
__ADS_1
Bersambung...