
Kayla tidak lagi menghiraukan Raffa, luka yang ditorehkan Raffa semakin dalam baginya.
Kayla masuk kamar dengan wajah yang ditekuk.
"Kay?" lirih Gita heran.
Dian dan Lisa menatap Kayla yang berlalu begitu saja, Kayla langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kay,--"
Gita tak jadi melanjutkan ucapannya saat Dian memberi isyarat untuk tidak mengganggu Kayla.
Gita dan Lisa saling berpandangan. Mereka bingung dengan apa yang tengah dihadapi oleh sahabat mereka.
Dian mengangkat bahunya, saat ini hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menjawab pertanyaan Gita dan Lisa.
"Aku pergi dulu ya, Raffa," ujar Zahra melambaikan tangannya.
Zahra yang tak sengaja berjumpa dengan Raffa saat berada di depan asrama Kayla membuat situasi antara Kayla dan Raffa semakin runyam.
"Arrgghhh," teriak Raffa.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kayla pasti marah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Raffa di dalam hati.
Dengan rasa penuh penyesalan Raffa melangkah kembali ke asrama putra.
****
"Jangan sentuh aku!" teriak Rayna histeris di dalam kamarnya.
"Aku wanita baik-baik," isaknya dalam setiap teriakannya.
Bram dan Rita bingung melihat kondisi putrinya yang tidak terkendali.
Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada putri semata wayang mereka.
"Satya, apa sebenarnya yang terjadi pada Rayna?" tanya Bram pada Satya, asisten pribadi menantunya.
Satya menggelengkan kepalanya, ada rasa bersalah pada dirinya atas perbuatannya pada gadis itu.
Namun, Satya tidak tahu apa yang terjadi pada Rayna saat dia berada di sekolah.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rayna saat dia di sekolah, yang aku tahu dia keluar sekolah dalam keadaan tidak stabil," jelas Satya
"Aku menemukannya di jembatan yang berjarak kira-kira 5 km dari sekolah Rayna." Satya kembali menjelaskan.
"Ya Allah apa sebenarnya terjadi?Saat Rayna berangkat sekolah keadaannya baik-baik saja." ujar Bram bingung.
Perasaan bersalah kembali menghantui Satya, ingin dia cepat mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Mereka semua hening sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Yah, kita harus bawa Rayna berobat ke rumah sakit," ujar Rita mulai angkat suara.
"Tapi, Bu. Kita harus tahu apa yang menyebabkan Rayna seperti ini." Bram menanggapi.
"Aku akan menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi pada Rayna di sekolah," ujar Satya menawarkan diri.
"Maafkan kami, Nak Satya. Kami tak ingin merepotkanmu. Saya yakin kamu masih memiliki pekerjaan yang harus kamu lakukan." Bram menolak tawaran Satya dengan cara halus.
"Tidak, Om. Pekerjaan saya bisa saya lakukan di mana pun saya berada." Satya memaksa agar Bram menerima tawaran darinya.
"Tidak! Jangan lakukan itu!" Rayna kembali histeris membuat Bram dan Rita kaget.
__ADS_1
Mereka pun berlari masuk ke dalam kamar Rayna.
Bram berusaha menenangkan Rayna yang histeris melempar benda-benda yang ada di hadapannya.
"Pergi! Jangan sentuh aku!" bentak Rayna.
Bram terus mencoba mendekati putrinya untuk menenangkan sang putri. Namun, usaha Bram sia-sia hingga dia kewalahan melihat tingkah sang putri.
"Om, izinkan saya mencoba untuk mendekati Rayna," ujar Satya sopan.
Bram terpaksa mengangguk memberi izin pada pria yang jelas-jelas bukan muhrim putrinya.
Satya melangkah mendekati Rayna.
"Ray, tenanglah! Aku di sini bersama kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu," lirih Satya pelan.
Satya mengulurkan tangannya meraih tangan Rayna.
"Aku selalu ada untukmu, katakan padaku apa yang terjadi?" Satya terus berusaha membujuk Rayna.
"Satya," lirih Rayna.
Rayna menghambur ke dalam pelukan Satya.
"Aku takut, dia menyentuhku. Dia ingin melecehkanku," isak Rayna dalam pelukan Satya.
"Siapa?" tanya Satya menahan emosi.
Tangannya mulai mengepal, dia tak terima ada orang yang menyakiti gadis yang kini sudah dicintainya.
"Dia, dia," lirih Rayna terus menangis.
Bram heran melihat kedekatan putrinya dengan asisten pribadi menantunya.
Sementara itu Rita lega melihat putrinya mulai tenang. Dia tidak menyangka Satya dapat menenangkan Raina yang histeris.
"Ray, kamu tidur dulu, ya. istirahatlah aku akan menjagamu di sini." Satya membujuk Rayna agar mau beristirahat.
Satya membaringkan tubuh Raina di atas tempat tidur, dia mengelus rambut kepala gadis itu hingga Rayna terlelap.
Setelah Raina mulai memejamkan matanya, Satya keluar dari kamar Rayna.
Dia duduk di sofa yang tersedia di lantai 2 bersama Bram dan Rita.
"Om, kondisi Raina saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kita harus melakukan pengobatan terhadap Raina agar depresi yang dialaminya tidak berlanjut." Satya memberikan nasehat kepada kedua orang tua Rayna.
Bram mengangguk pelan.
"Baiklah kita bawa Rayna ke rumah sakit secepatnya," ujar Bram menyetujui usulan dari Satya.
"Maafkan kami sudah merepotkan nak Satya," ujar Bram lagi merasa tidak enak hati pada Satya.
Walaupun hatinya mempertanyakan kedekatan pria yang ada dihadapannya dengan putrinya, tapi ini bukanlah saatnya untuk mempermasalahkan hal itu.
"Nak Satya, bisakah malam ini Nak Satya menginap di sini?" tanya Rita khawatir Rayna kembali histeris.
Sedangkan mereka tidak bisa menenangkannya.
"Baik, Tante. Aku akan menunggu Rayna di sini," ujar Satya mengiyakan permintaan Rita.
Bram melirik ke arah istrinya, saat ini Bram merasa serba salah untuk bertindak.
Malam semakin larut, Satya masih setia duduk di sofa sambil membuka tabletnya.
Dia mengecek semua bisnisnya lewat tabletnya hingga akhirnya dia lelah. Satya membaringkan tubuhnya di atas sofa, dia mencoba memejamkan matanya.
__ADS_1
Rayna masih terlelap, setelah makan malam Satya memberikan obat penenang agar Rayna dapat tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya, saat waktu subuh masuk, Satya melihat keadaan Rayna di kamarnya.
Setelah itu Satya melaksanakan shalat subuh.
"Sudah bangun?" Bram menyapa Satya yang baru saja selesai beribadah.
"Iya, Om." Satya tersenyum.
"Bagaimana keadaan Rayna?" tanya Bram.
"Alhamdulillah, semalam ini dia aman. Mungkin pengaruh obat yang diminumnya," jawab Satya.
Kini mereka telah duduk di atas sofa tempat Satya menghabiskan waktu satu malam ini.
Beberapa menit terjadi keheningan di antara mereka hingga akhirnya Bram membuka pembicaraan.
"Satya," panggil Bram.
"Iya, Om," jawab Satya menanggapi.
Kini Satya menatap Bram, dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria berumur di hadapannya itu.
"Om hanya ingin menanyakan sesuatu." Bram menghela napasnya sejenak memberi jeda ucapannya.
Satya masih setia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bram.
"Melihat kedekatan kamu dengan Rayna, Om penasaran ada hubungan apa kamu dan Rayna di belakang kami?" tanya Bram terus terang.
Satya kaget mendapat pertanyaan menyerang dari ayah gadis yang dicintainya.
Dia mencoba berpikir keras untuk menjawab pertanyaan dari Bram.
"Mhm, aku dan Rayna memang mulai dekat saat dia berada di Padang, karena selama di Padang saya yang menemaninya ke mana pun dia pergi," jawab Satya pelan.
Dia mengatur napasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Untuk saat ini kami tidak memiliki hubungan apa-apa, tetapi jika Om mengizinkan saya ingin menikahi Rayna agar saya dapat menjaganya tanpa adanya dosa yang harus saya lakukan," ujar Satya mantap.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1