Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 60


__ADS_3

Sejak kejadian itu, Satya selalu melindungi Raffa di mana pun dan kapan pun.


Setelah Satya tamat kuliah, Surya meminta Satya untuk menjadi supir sekaligus asisten pribadi putranya. Namun, Surya mengizinkan Satya menjalani hidupnya yang lain sesuai keinginannya.


"Yuk!" ajak Raffa yang baru saja keluar dari rumah.


"Pa, kami berangkat,"p ujar Satya pamit pada Surya.


Begitu juga Raffa, mereka menyalami tangan pria berumur yang sangat mereka hormati.


"Pa, aku pamit," lirih Kayla.


Kayla pun melangkah mengikuti langkah sang suami yang sudah berada di dekat mobil.


"Hati-hati!" seru Surya melambaikan tangannya.


Setelah memastikan Raffa dan Kayla masuk ke dalam mobil, Satya pun ikut masuk ke dalam mobil lewat pintu kemudi.


Satya pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Surya menuju kediaman keluarga Wisnu untuk menjemput Rayna.


Sesampai di rumah keluarga Wisnu, Rayna langsung menarik tangan sang kakak dan membawanya ke kamar tamu.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa saling melempar pandangan bingung dengan tingkah Rayna.


"Ada apa, sih?" tanya Kayla heran melihat tingkah Rayna.


"Kakak apa-apaan, sih? Kenapa aku harus balik sama Satya? Aku kan bisa sendiri, Kak," protes Rayna pada Sang Kakak.


Kayla menautkan kedua alisnya, dia bingung melihat tingkah sang adik.


"Lho, memangnya kenapa? Bagus dong, kamu ada temannya di jalan," balas Kayla.


"Tapi, Kak. Aku enggak mau bareng dia," ujar Rayna.


"Kenapa?" tanya Rayna heran.


"Mhm," gumam Rayna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dia bingung harus memberi alasan apa pada sang kakak. Dia tidak mungkin jujur pada kakaknya dengan kejadian memalukan yang terjadi di antara mereka berdua.


Rayna tidak berani menampakkan wajah di depan pria yang sudah tahu bahwa dirinya mengagumi sosok tampan yang dimilikinya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Kayla semakin bingung.


"Kak, bilangin Mas Raffa dong, aku berangkat sendiri aja," pinta Rayna memohon.


"Bang Raffa sengaja meminta Satya berangkat bareng kamu supaya kamu ada yang jagain selama di perjalanan," bantah Kayla.


"Aku bisa berangkat sendiri, Kak." Rayna bersikukuh untuk pulang sendiri.


"Kamu ada apa sih sama Satya?" tanya Kayla mulai curiga terhadap adiknya.


"Atau jangan-jangan kamu sama Satya,--" Kayla sengaja menggantung ucapannya berusaha menggoda sang adik.


"Idih, kakak apaan, sih," gerutu Rayna.


"Ray, kamu sudah di tungguin, takut ketinggalan pesawat," seru Bibi Lina dari luar kamar.


"Iya, Bi," teriak Rayna.


"Astaghfirullah, aku harus bagaimana?" gumam Rayna di dalam hati.


"Yuk, ah," ujar Kayla menarik tangan Rayna untuk keluar dari kamar.


Satya tersenyum melihat wajah Rayna yang menunduk, dia tertawa dalam hati mengingat tingkah Rayna yang terbukti mengagumi dirinya.

__ADS_1


"Yuk, berangkat!" ajak Raffa saat melihat Kayla dan Rayna sudah keluar dari kamar.


Kayla mengangguk, mereka pun berpamitan pada semua keluarga Wisnu.


"Kak, Ren, makasih. Aku pamit," ujar Rayna berpamitan pada kakak sepupunya.


"Iya, Dek. Sering-sering main di sini, ya," ujar Irene melepas kepergian adik sepupunya.


Raffa dan Kayla pun ikut pamit untuk meninggalkan rumah keluarga Wisnu.


Mereka pun keluar dari rumah keluarga Wisnu, mereka melangkah menuju mobil yang terparkir.


"Tuh muka kenapa?" goda Satya saat membantu Rayna memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Bukan urusan lu," ketus Rayna.


Rayna langsung meninggalkan Satya, dia membuka pintu belakang mobil dan hendak masuk ke dalam mobil duduk di samping Kayla.


"Ray, kamu ngapain duduk di sini?" protes Raffa.


"Aku duduk di sini ya, Mas," ujar Rayna memohon pada sang kakak ipar.


"Lho? Kasian Satya dong sendirian di depan," bantah Raffa.


Rayna menoleh ke arah Kayla meminta Kayla membela dirinya.


"Dek, pindah ke depan. Kamu enggak malu barengan sama kami, hah?" perintah Kayla pada sang adik.


"Kak." Rayna memasang rut wajah memelas.


"Pindah!" ujar Kayla penuh tekanan.


Akhirnya Rayna pun terpaksa keluar mobil lai dan masuk mobil pintu depan, dan duduk tepat di samping Satya.


Rayna duduk di samping Satya dengan wajah yang ditekuk, sedangkan Satya memamerkan wajah dingin dan datarnya tapi di hatinya ingin tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


Sepanjang perjalanan, Rayna membuang wajah ke jendela, sedangkan Satya sesekali melirik ke arah Rayna dengan menyimpan senyumannya.


Raffa dan Kayla menangkap tingkah dua insan di hadapan mereka.


Tanpa mereka sadari, mobil yang dikendarai Satya sudah memasuki kawasan parkir Bandara Internasional Minangkabau.


Mereka pun turun ke dari mobil, Satya memberikan kunci mobil pada Raffa, karena Raffa yang akan membawa mobil itu pulang.


"Kami pamit ya, Kak," ujar Rayna saat mereka hendak chek in.


"Iya, kamu hati-hati, ya," pesan Kayla pada adiknya.


"Oke," seru Rayna.


"Yang akur, ya," pesan Raffa menggoda adik iparnya.


Seolah Raffa sangat memahami situasi yang tengah terjadi antara adik iparnya dengan sahabat sekaligus asistennya.


"Mas Raffa apaan sih," gerutu Rayna mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe." Kayla terkekeh mendengar sang suami menggoda adiknya.


Terlihat dengan jelas wajah Rayna berubah merah merona menahan malu.


"Kakak," lirih Rayna kesal.


"Sudah, sana masuk!" perintah Raffa.


"Bro, jagain adik ipar gue," pesan Raffa pada Satya.

__ADS_1


"Sekalian lu cek keuangan cafe," pinta Raffa pada Satya.


"Oke." Satya dan Rayna pun melangkah untuk chek in.


Sementara itu Raffa dan Kayla pun hendak meninggalkan Bandara.


"Bang, aku dengar tadi Bang Raffa membahas tentang cafe," ujar Kayla penasaran.


"Oh, aku dan Satya memiliki usaha bisnis cafe di luar jadwal kuliah," jawab Raffa jujur.


Awalnya Kayla kaget mendengar penuturan Raffa.


"Aku dan Satya memiliki beberapa usaha di Jakarta," ujar Raffa memberitahu kenyataan.


Kayla takjub dengan apa yang baru saja didengarnya.


Selain memiliki wajah tampan, dia cerdas dan gigih dalam menjalani berbagai usaha tanpa bantuan dari sang papa.


"Kamu hebat," puji Kayla semakin kagum pada sosok suami.


"Eh, kamu tunggu sebentar di sini, ya," ujar Raffa .


Tiba-tiba Raffa hendak membuang hajat ke toilet.


"Oh, iya. Aku tunggu di sini aja, ya," ujar Kayla sambil mendaratkan bokongnya di sebuah bangku yang tersedia di sana.


Raffa melangkah meninggalkan Kayla.


Saat menunggu Raffa, Kayla membuka ponselnya dan berselancar di dunia maya.


Saat asyik dengan ponselnya, seseorang duduk di samping Kayla.


Tanpa sengaja gerakan pria yang di sampingnya menyenggol lengan Kayla sehingga ponsel Kayla terjatuh ke lantai.


"Maaf," lirih sang pria.


Pria itu merunduk untuk mengambil ponsel Kayla.


"Kamu?" lirih pria itu tak menyangka bisa berjumpa dengan Kayla.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2