Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 164


__ADS_3

“Baiklah, kami akan merestui hubungan Irene dengan Alex,” ujar Wisnu mengambil keputusan.


“Alhamdulillah,” lirih Hurry dan Hendra bersamaan.


Mereka senang dengan keputusan Wisnu. Mereka tak menyangka Surya akan datang membantu mereka untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi putra bungsu mereka. Sehingga mereka merasa berhutang budi dengan kedua mertua putrinya yang sudah membantu kesulitan mereka.


“Nu, masalah pernikahan Irene dan Alex biar kami yang mengatur, kamu tidak usah memikirkan apa pun,” ujar Surya pada sahabatnya.


Hendra dan Hurry semakin tak enak hati pada Surya dan Arumi, tapi dia memilih untuk berbicara dengan kedua besannya itu setelah keluar dari rumah Wisnu.


“Baik, Sur. Kalau memang seperti itu yang kamu putuskan,” ujar Wisnu setuju dengan ucapan Surya.


“Ya sudah, kalau begitu kami permisi pulang dulu,” ujar Surya izin pamit pulang.


“Baiklah,” ujar Wisnu.


“Kami juga pamit, Pak Wisnu,” ujar Hendra ikut izin keluar dari rumah Wisnu.


Akhirnya semua tamu di rumah Wisnu pun pulang meninggalkan kediamannya. Irene tersenyum bahagia mendapatkan angin segar dari mertua sepupunya.


Irene berdiri dan hendak melangkah menuju kamarnya.


“Ren!”panggil Wisnu.


Mendengar suara sang Ayah, Irene pun membalikkan tubuhnya.


“Ada apa Yah?” tanya Irene santai.


“Duduk!” perintah Wisnu pada putri semata wayangnya.


Melihat wajah sang Ayah merah padam menahan emosi, tanpa membantah Irene pun kembali duduk di tempatnya tadi.


“Apa yang sudah kamu lakukan?” bentak Wisnu pada putrinya.


Wisnu pun melampiaskan emosinya yang sejak tadi terpendam pada sang putri.


“Maksud, Ayah?” tanya Irene bingung.


“Apa yang sudah kamu lakukan, sehingga mereka datang ke sini?” tanya Wisnu dengan nada yang tinggi.


“Aku tidak melakukan apa pun,” jawab Irene santai.

__ADS_1


Dia memang tidak melakukan apa pun, seingatnya dia hanya menceritakan masalah ini pada Kayla. Mungkin Kayla yang sudah membujuk kedua mertuanya untuk datang ke rumahnya.


“Jika kamu tidak melakukan apa pun, mengapa mereka tiba-tiba datang ke sini?” tanya Wisnu dengan nada yang tinggi.


“Aku juga tidak tahu,” bantah Irene.


“Lagian, Yah. Aku tidak mau menjadi istri ketiga pria yang ayah jodohkan denganku itu. Ayah tidak pernah memikirkan perasaanku,” ujar Irene.


“Ayah hanya memikirkan masa depanmu, kamu juga akan hidup bahagia bersama dia,” ujar Wisnu.


“Bahagia ayah bilang? Bahagia untuk Ayah, Bukan untuk aku,” bantah Irene kesal.


“Jika ayah memikirkan kebahagiaanku, Ayah akan biarkan aku memilih pendamping hidupku. Seharusnya Ayah sadar dengan kejadian sebelumnya. Aku sempat kabur karena tidak setuju dijodohkan. Sedangkan menikah dengan Raffa, pria pintar dan sukses saja aku menolak demi Alex, sekarang Ayah menjodohkan aku dengan pria beristri dua, sudah dipastikan aku akan menolak perjodohan ini.” Irene mengeluarkan sesak di dadanya ulah sikap sang Ayah yang hanya memikirkan kesuksesan perusahaan miliknya.


Wisnu dan Lina terdiam mendengar perkataan sang putri yang selama ini memendam kesedihan atas sikap yang sudah dilakukannya terhadap sang putri.


“Seumur hidupku, aku hanya mencintai Alex seorang,” ujar Irene.


Irene pun berdiri meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang sibuk dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing.


****


Sementara itu di tempat lain setelah mereka keluar dari rumah Wisnu, Arumi mengajak Hurry dan keluarganya untuk makan malam bersama. Kebetulan mereka belum sempat makan malam di rumah masing-masing.


“Enggak masalah kali, Hur. Lagian aku kesal banget sama Wisnu. Udah tahu putrinya waktu itu menolak pernikahan dengan Raffa, eh sekarang malah mau jodohkan putrinya dengan pria sudah beristri pula,” ujar Arumi panjang lebar mengungkap kekesalannya pada mantan calon besannya.


“Untung saja waktu itu, Irene kabur, sehingga Kayla menjadi penggantinya. Aku bersyukur Raffa tidak jadi nikah dengan Irene,” tambah Arumi.


“Sebenarnya kami mau menjadikan Irene sebagai menantu hanya karena permintaan Alex, putra bungsu kami sangat mencintai putri mereka,” ujar Hurry merasa malu mendengar ucapan sahabatnya.


Dia merasa berkecil hati, dari ucapan Arumi, seolah-olah Irene bukanlah wanita baik-baik.


“Mhm, sorry, Hur. Bukan maksud aku merendahkan Irene,” ujar Arumi merasa bersalah saat melihat raut wajah Hurry berubah sendu.


“Enggak apa-apa kok, Rum. Irene itu anak baik, hanya saja ayahnya yang tidak baik,”ujar Hurry.


“Pak Surya, kami bersyukur kalian datang, kami tidak tahu harus berterima kasih dengan apa?” ujar Hendra mengalihkan pembicaraan istrinya.


“Pak Hendra tidak perlu sungkan, ini semua kami lakukan atas permintaan Kayla. Kami tidak ingin melihat Kayla sedih memikirkan adiknya yang kini dalam kesulitan,” ujar Surya mengungkap alasan dia melakukan hal itu.


“Kayla?” lirih Hendra dan Hurry bersamaan.

__ADS_1


“Bagi kami kebahagiaan Kayla adalah kebahagiaan Raffa, maka kami tidak ingin Kayla bersedih. Di saat keluarga Kayla dalam kesulitan maka kami harus turun tangan untuk membantu jika kami sanggup, kita ini keluarga jadi Pak Hendra tidak perlu sungkan,” ujar Surya dengan bijak.


“Kami bersyukur, putri kami memiliki mertua sebaik kalian,” tutur Hendra terharu mendengar ucapan Surya.


Mereka pun melanjutkan percakapan ringan sambil menyantap hidangan makan malam yang lezat dengan hati bahagia.


Sejak tadi pagi hingga Kayla pulang kuliah, dia tidak mau berbicara dengan sang suami. Dia hanya menjawab pertanyaan sang suami dengan dua kata yaitu iya atau tidak. Hal ini membuat Raffa menjadi galau.


Setiap kali Raffa berusaha mendekati sang istri, istrinya selalu berusaha menjauh darinya. Raffa bingung melihat sikap sang istri yang sedang mengibarkan bendera perang padanya.


“Sayang,” panggil Raffa saat melihat sang istri sedang asyik memainkan ponselnya.


“Mhm,” gumam Kayla tanpa memalingkan wajahnya pada sang suami.


“Kamu kenapa, sih?” tanya Raffa heran pada sang istri.


Satu hari ini istrinya bersikap cuek pada dirinya membuat Raffa berasa tinggal di neraka, hidupnya menjadi kacau. Semua seminar yang dijadwalkan hari ini sengaja dibatalkan oleh Raffa.


Kuliah hari ini pun dilewatinya dengan rasa bosan dan tak menentu, dia sendiri tidak tahu alasan sang istri mendiamkan dirinya sejak kemarin malam.


“Kamu kenapa, sih?” tanya Raffa pada sang istri berusaha membujuk sang istri.


“Enggak ada,” ujar Kayla singkat.


“Terus kamu kenapa mendiamkan aku?” tanya Raffa lagi.


“Enggak ada,” jawab Kayla lagi.


“Sayang, please dong. Jangan cuekin aku kayak gini,” pinta Raffa.


Raffa pun berusaha duduk mendekati sang istri. Tak menunggu lama Kayla langsung beralih ke sofa.


Raffa semakin pusing dengan sikap sang istri.


“Sayang, kalau aku ada salah, tolong dong, maafkan aku!” pinta Raffa dengan nada memelas.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel Kayla berdering pertanda panggilan masuk, dia langsung mengangkat panggilan tersebut.


Kayla mendengarkan ocehan seseorang dari seberang sana, Kayla langsung berdiri dan menatap ke arah sang suami dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2