
Kayla langsung memeluk tubuh Bram.
"Ayah, Bangun!" teriak Kayla lagi.
Raffa kaget mendengar teriakan sang istri, dia bergegas masuk ke dalam ruang rawat ayah mertuanya.
Kayla menangis sambil memeluk Bram, dia tak lagi memikirkan batasan yang harus dijaganya antara dirinya dengan Bram.
"Dokter! Suster!" teriak Raffa meminta bantuan.
Dokter masuk ke dalam ruang rawat Bram diiringi oleh dua orang perawat.
βTunggu sebentar, Nona. Kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu," ujar perawat.
Raffa mengangkat bahu Kayla, dia membawa Kayla menjauh dari brangkar tempat Bram terbaring.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, tuan Bram sudah meninggal dunia," ujar Dokter memberikan pernyataan.
Sang dokter menutup wajah Bram dengan selimut.
"Tidak! Ayah, jangan tinggalkan Kayla. Ayah bangun!" teriak Kayla histeris.
Kayla kembali mendekati jasad sang ayah, dia menangisi kepergian sang ayah.
Rayna menjatuhkan obat yang baru saja dibelinya saat melihat wajah sang ayah sudah tertutup kain selimut.
"Ayah bangun!" isak Rayna lalu berlari mendekati jasad sang ayah.
Dua kakak beradik itu, menangis di atas tubuh sang ayah yang sudah tak bernyawa.
Satya dan Raffa berdiri di belakang istri mereka sambil mengelus punggung mereka memberi kekuatan.
"Ikhlaskan kepergian ayah," lirih Raffa menenangkan istrinya.
"Ayah, huhuhu, aku masih butuh ayah," tangis Kayla.
"Ayah, kenapa tinggalin aku." Rayna juga ikut menangisi kepergian sang ayah.
Rita mempercepat langkahnya saat mendengar suara tangisan dari dalam ruang rawat sang suami.
"A-ayah!" pekik Rita.
Dia menghempaskan tubuhnya ke pintu masuk, Wanita paruh baya itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sang suami sudah terbaring kaku dengan ditangisi oleh Kayla dan Rayna.
"Ayah!" teriak Rita berlari mendekati tubuh Bram yang terbaring tak bernyawa di atas brangkar.
"Minggir kamu!" bentak Rita.
Rita mendorong Kayla saat dia sudah berada di dekat suaminya.
Kayla hampir terjatuh akibat dorongan Rita, untung Raffa berdiri di belakang sang istri sehingga Raffa dapat melindungi istrinya.
Hati Kayla hancur mendapatkan perlakuan yang tidak enak dari ibu angkatnya, walaupun ayahnya sudah meninggal sikap ibu angkatnya tak kunjung berubah terhadap dirinya.
Kayla langsung memeluk Raffa, dia menangis di dalam pelukan sang suami.
Raffa memeluk sang istri, dia kesal melihat perlakuan Rita, tapi ini bukan saatnya dia mempermasalahkan sikap ibu mertuanya.
"Ayah, bangun! Jangan tinggalkan ibu. Ibu mohon, Yah," isak Rita menangis di atas tubuh sang suami.
__ADS_1
Mereka semua sedih kehilangan sosok Bram, pria yang penuh kasih sayang dan selalu bijak dalam menghadapi berbagai masalah.
Sesaat Rita menghentikan tangisnya, dia menatap tajam ke arah Kayla.
Dia melangkah mendekati Kayla.
"Ini semua pasti gara-gara kamu!" bentak Rita sambil meruncingkan telunjuknya di wajah Kayla.
"Kamu pasti telah membunuh suamiku!" Lagi-lagi Rita menuduh Kayla.
"Kamu anak pembawa sial, kau telah merebut suamiku!" Rita memaki Kayla.
Kayla dan Raffa hanya diam, karena saat ini mereka mengerti Rita tengah terpukul.
"Aku membencimu, kau telah hancurkan kebahagiaanku!" Rita mengumpat keberadaan Kayla dalam hidupnya.
"Ibu! Hentikan!" teriak Rayna tidak suka dengan sikap wanita yang telah melahirkannya.
"Perempuan ini telah merebut ayahmu dari kita," ujar Rita dengan nada yang tinggi.
"Hentikan semua omong kosong dan kebencian ibu pada kakak! Kakak tidak pernah merebut kebahagiaanku, kakak juga tidak pernah merebut ayah dariku. Ayah menyayangiku, dia memberikan kasih sayangnya padaku dan kak Kayla sama rata. Ucapan dan makian ibu akan membuat ayah bersedih," ujar Rayna kesal dengan ibunya.
"Tapi, Ray," bantah Rita.
"Bu, tolong hargai ayah. Aku tidak mau ibu membuat kepergian ayah tidak tenang dengan sikap ibu," ujar Rayna memohon sambil mengatupkan kedua tangannya memohon pada sang ibu,
Rayna kembali terisak, dia semakin bersedih dengan sikap sang ibu.
Satya langsung memeluk erat tubuh Rayna.
"Sabar ya, Sayang," lirih Satya menguatkan sang istri.
"Maaf, ada yang bisa mengurus administrasi pasien. Supaya pihak rumah sakit dapat membawa almarhum pulang ke rumah." Seorang perawat datang meminta salah satu keluarga mengurus administrasi rumah sakit.
Rayna mengangguk, Satya pun keluar dari ruangan itu.
Rayna menghampiri ibunya yang kini terdiam di kursi di samping ayahnya.
Rayna memeluk wanita yang telah melahirkannya.
"Bu, inilah takdir yang harus kita jalani," lirih Rayna.
"Maafkan aku, kita sama-sama kehilangan ayah," isak Rayna lagi.
Mereka pun kembali menangis sedih, tak ada yang lebih sakit di dunia selain kehilangan orang yang sangat kita sayangi.
Setelah administrasi diselesaikan oleh Satya, jenazah almarhum Bram dibawa ke rumah sakit.
Raffa sudah menghubungi kedua orang tuanya memberitahukan kabar duka. Surya dan Arumi pun langsung berangkat menuju Bandung.
Rayna juga mengabari beberapa kerabatnya bahwa ayahnya sudah tiada.
Sesampai di kediaman Bramantyo, beberapa orang kerabat sudah berada di sana. Para tetangga pun datang untuk melayat menunjukkan rasa belasungkawa atas kepergian kepala rumah tangga di rumah ini.
Berhubung waktu sudah mulai petang, Bram akan dikebumikan esok hari. Semalam ini jasad Bram dibaringkan di tengah ruang tamu.
Kayla dan Rayna duduk di samping jenazah sambil membacakan surat yasin di hadapan sang ayah.
Di saat malam semakin larut, para pelayat mulai pulang ke rumah mereka, yang tertinggal di rumah itu hanyalah para kerabat.
Kayla dan Rayna masih setia membacakan ayat-ayat suci untuk sang ayah, berharap beliau pergi dengan tenang.
__ADS_1
Raffa dan Satya sebagai menantu di rumah itu, mereka duduk di luar rumah untuk melepas para tamu yang hendak pulang.
"Bro, Kayla dan Rayna belum makan," lirih Satya menatap ke arah dua wanita yang kini tenggelam dalam kesedihan.
"Iya, tapi saat ini mereka pasti tak berselera untuk makan," ujar Raffa bingung.
"Lu coba bilang mama, untuk membujuk mereka makan, kasihan Kayla tengah mengandung," ujar Satya lagi.
Raffa mengangguk lalu dia menghampiri mamanya yang tengah duduk tak jauh dari posisi Kayla dan Rayna.
"Ma, Kayla sama Rayna belum makan sejak tadi siang," bisik Raffa di telinga mamanya.
Dia berharap Arumi bisa membujuk dua wanita itu untuk mengisi perut mereka walaupun hanya sesuap nasi.
Arumi mengangguk paham dengan perkataan putranya.
Arumi pun mendekati kedua gadis itu, dia mengelus lembut pundak Kayla dan Rayna.
"Sayang, kalian makan dulu, ya," bujuk Arumi pada kedua menantunya.
Kayla menghentikan bacaannya.
"Ma, aku enggak lapar. Aku hanya ingin mengantarkan ayah dengan lantunan ayat suci," lirih Kayla.
"Sayang, kasihan janin kamu," ujar Arumi membujuk Kayla.
Kayla hanya menggelengkan kepalanya.
Arumi menghela napasnya lalu membujuk Rayna untuk makan. Arumi mendapatkan jawaban yang sama dari kedua adik kakak itu.
Arumi mengerti, saat ini kedua menantunya tidak akan mau makan. Akhirnya arumi membiarkan mereka.
Malam semakin larut, Kayla dan Rayna membaringkan tubuhnya di samping sang ayah.
Kayla di samping kanan, Rayna di samping kiri, mereka memeluk tubuh kaku sang ayah lalu terpejam karena lelah.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ