Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 187


__ADS_3

Di kamarnya Rayna tengah berbaring dengan berkali-kali dia membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


Satya yang hendak tidur merasa terganggu dengan tingkah sang istri.


Dia pun bangun dan mengambil posisi duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Satya heran.


Rayna membuka matanya yang sedari tadi dengan susah payah berusaha untuk memejamkan matanya agar tertidur.


Dia melihat sang suami sudah duduk di atas tempat tidur.


"Sayang, kamu enggak tidur?" tanya Rayna balik pada sang suami.


Satya tersenyum mendengar pertanyaan sang istri.


Rayna pun ikut duduk di samping sang suami, Satya langsung menarik tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Bagaimana aku mau tidur? Kalau kamu berbalik-balik enggak tentu seperti itu," jawab Satya lembut sambil menyentil hidung sang istri.


"Ada apa? Kenapa udah jam segini kamu belum juga tidur?" tanya Satya penuh perhatian pada sang istri.


"Mhm," gumam Rayna sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Satya menautkan kedua alisnya.


"Ada apa? Katakan padaku," lirih Satya penuh perhatian.


"Aku lapar," jawab Rayna jujur.


Dia enggan untuk membangunkan sang suami, karena Rayna takut mengganggu tidur Satya. Rayna tahu sejak dia positif hamil sang suami sangat menjaga dirinya dengan baik dan penuh hati-hati. Hal itu membuat Satya kurang istirahat.


"Kamu lapar? Kenapa enggak bangunkan aku sejak tadi?" tanya Satya.


"Aku enggak mau mengganggu istirahat kamu, Mas," jawab Rayna malu.


"Sayang, aku ini suami kamu bukan orang lain. Apa pun yang kamu mau hanya padaku kamu boleh memintanya, aku akan melakukan apa saja yang kamu inginkan dan kamu butuhkan," ujar Satya.


Dia menggelengkan kepalanya tak percaya sang istri masih takut untuk mengganggu dirinya setelah sekian lama bersama.


"Justru karena kamu adalah suamiku, makanya aku kasihan melihat kamu kecapekan menjaga diriku," tutur Rayna jujur.


Satya tersenyum mendengar ucapan Rayna.


"Sayang, saat ini kamu adalah istriku dan ibu dari calon anakku, jadi kewajiban bagiku untuk menjaga dan menuruti apa yang kalian mau," ujar Satya.


"Makasih, Mas," lirih Rayna tak tahu harus menjawab apa.


Yang jelas untuk saat ini dia bersyukur mendapatkan suami sebaik dan seperhatian Satya.


Rayna mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar sang suami. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang sangat menyayanginya itu.


"Mhm, kamu mau makan apa?" tanya Satya.

__ADS_1


"Mana ada warung makanan buka jam segini?" jawab Rayna.


"Ya udah kita ke dapur aja dulu, mana tahu di sana ada persediaan makanan yang bisa kita olah menjadi makanan lezat," ajak Satya.


"Memangnya Mas Satya bisa masak?" tanya Rayna meragukan keahlian sang suami.


"Kalau enggak bisa masak, mana mungkin aku mau mendirikan kafe, karena hobi memasak itulah tercetus ide untuk bisnis kuliner," jawab Satya jujur.


Salah satu alasan dia mendirikan bisnis kuliner adalah karena dia ingin mengembangkan hobi memasaknya agar orang-orang dapat merasakan ide-ide menu yang rendah dibuatnya.


"Ya udah, yuk!" ajak Rayna.


Sepasang suami istri itu pun turun dari tempat tidur, Rayna mengambil hijabnya lalu melangkah keluar kamar sambil menggandeng lengan kekar milik sang suami.


Mereka keluar kamar dan melangkah menuju ruang makan.


Kayla terbangun dari tidurnya, dia melihat jam yang tertera di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, dia meraba kasur di sampingnya, saat itu dia menyadari bahwa sang suami belum juga berada di atas tempat tidur.


Kayla bangkit dari tidurnya, dia mengucek matanya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mencari sang suami, mana tahu suaminya tengah berada di kamar mandi.


"Bang, Bang Raffa, kamu di mana?" ujar Kayla memanggil-manggil sang suami.


Kayla membuka pintu kamar mandi, dia tak mendapati seorang pun berada di dalamnya.


Setiap panggilannya pun tak seorang pun yang menggubris menandakan bahwa dia hanya seorang diri berada di kamar itu.


Hati Kayla mulai risau, dia pun meraih hijabnya yang tergantung di atas kursi. Kayla melangkah keluar dari kamar.


"Kenapa lorong ini gelap?" gumam Kayla merasa heran.


Seingatnya saat dia melangkah menuju kamar, lampu lorong yang kini dilewatinya menyala, perlahan Kayla terus melangkah dengan bantuan cahaya remang-remang yang menyelinap masuk ke lorong itu hingga dia sampai di ruang tengah.


Semua sudut penginapan sudah mulai gelap dan sepi. Dia tak mendapati seorang pun berada di luar. Kemungkinan besar semua orang sudah berada di alam bawah sadar mereka masing-masing.


Kayla mulai melangkah menuju dapur, di sana dia bertemu dengan Satya dan Rayna.


Sepasang suami istri itu merasa kelaparan dan saat ini mereka sedang menikmati mie rebus yang baru saja dimasak oleh Satya.


"Kakak?" sapa Rayna heran melihat keberadaan sang kakak di dapur tanpa ditemani oleh Raffa.


"Satya, Bang Raffa di mana?" tanya Kayla pada Satya.


Satya mengernyitkan dahinya.


"Bukannya kalian tadi asyik ngobrol di taman?" Satya ikut bingung mendapat pertanyaan seperti itu dari Kayla.


"Tadi aku tidur duluan, karena merasa sangat lelah," ujar Kayla.


"Penginapan ini sejak tadi sudah terlihat sangat sepi," jawab Satya yang dia sendiri tidak tahu di mana keberadaan Raffa.


"Bang Raffa ke mana, sih? Sudah malam begini?" tanya Kayla mulai mencemaskan sang suami.


"Ya udah kamu temani Rayna di sini dulu, biar aku yang melihat Raffa keluar," ujar Satya menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Ya udah," lirih Kayla masih panik.


"Kakak enggak coba telpon Mas Raffa?" tanya Rayna pada Kayla.


Dia juga khawatir dengan keadaan sang kakak ipar.


"Udah, Dek. Tapi ponselnya enggak aktif," jawab Kayla.


"Kakak tenang aja, ya. Semoga aja Mas Satya bisa menemukan Raffa," ujar Rayna berusaha menenangkan hati sang kakak.


Rayna mengelus lembut punggung Kayla agar bisa tenang.


"Tapi, Ray. Enggak biasanya Bang Raffa pergi tanpa kasih kabar ke aku," ujar Kayla merasa kesal, cemas, dan panik.


Semuanya sudah menjadi satu di dalam hatinya, entah ke mana dia akan mencari sang suami.


Tak berapa lama, Satya pun kembali masuk ke dalam ruang makan.


"Bagaimana, Satya?" tanya Kayla langsung.


"Aku tidak menemukannya, bagaimana kalau besok kita cari dia. Mana tahu, Papa atau mama memanggilnya ke penginapan sebelah. Saat ini tidak mungkin kita ke sana," ujar Satya.


"Bang Raffa di mana kamu?" gumam Kayla masih cemas.


"Lebih baik, kamu kembali ke kamar, nanti kalau aku ketemu dia aku kasih kabar kamu lagi, ya," ujar Satya.


Satya merasa kasihan melihat Kayla tapi dia sendiri tidak tahu keberadaan Raffa.


"Ya udah, kalau gitu aku tunggu dia di ruang tengah saja," lirih Kayla.


Kayla pun melangkah menuju ruang tengah, dia duduk di sofa yang tersedia di sana.


Rayna dan Satya hanya bisa membiarkan keputusan sang kakak, usai makan mereka pun kembali masuk ke kamar.


Keesokan paginya.


Alita terbangun dari tidurnya. Dia melihat dirinya tengah tertutupi selimut tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.


Dia tersenyum dengan liciknya.


"Aaaa," teriak Alita dengan kerasnya.


Alex mendengar teriakan Kayla, dia langsung membuka pintu kamar Kayla.


"Ada apa?" tanya Alex cemas.


"Di-dia su-sudah, hiks hiks." Alita terisak.


Dia menutup wajahnya dengan selimut.


Kayla juga masuk ke dalam kamar, dia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2