Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 280


__ADS_3

"Akifa!" teriak Hansel berlari mengejar Akifa.


Gadis itu jatuh dan tergeletak di jalan, si pria pun kabur meninggalkan Akifa dan Hansel.


Hansel melihat darah mengalir membasahi hijab putih yg dikenakannya tepat di bagian leher.


Dia bergegas mengangkat Akifa, dia membawa Akifa yang mulai tak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat, kebetulan terdapat sebuah klinik yang tak jauh dari tempat kejadian.


Hansel memanja seorang petugas di klinik tersebut dan meminta membawa Akifa ke ruang pemeriksaan.


"Tolong teman saya," ujar Hansel pada seorang petugas yang berada di sana.


"Mhm," gumam petugas wanita terlihat kebingungan.


"Cepatlah!" bentak Hansel kesal dengan sikap petugas wanita.


"Maaf, saya bukan perawat atau dokter di sini, saya-saya,--" Si gadis tampak bingung.


"Di mana alat-alat medisnya?" bentak Hansel lagi, dia sudah mengkhawatirkan keadaan Akifa.


"Di-di sini," lirih sang wanita menunjukkan sebuah lemari.


Tanpa memperpanjang waktu, Hansel pun mulai bertindak, dia mencoba untuk menangani kondisi Akifa yang mulai melemah.


Di leher Akifa terdapat sayatan pisau ulah si pria perampok yang menodong Akifa tadi.


Beruntung sayatannya tidak terlalu dalam sehingga masih bisa di jahit, dan Akifa dapat di selamatkan.


Hansel duduk di samping tempat tidur menunggu Akifa sadar sembari menghubungi seseorang untuk membantunya mengurus sepeda motor dan mobil milik Akifa yang masih tertinggal.


Seorang wanita masuk ke dalam ruang tindakan tempat Akifa berada, dia tersenyum menghampiri Akifa yang sudah ditangani oleh Hansel.


"Syukurlah, kamu bisa bertindak secepatnya. Maaf, saya tadi harus ke rumah warga karena ada yang mau melahirkan," ujar wanita yang ditaksir berumur di atas 40 tahun.


"Eh, maaf Buk. Saya sudah lancang, tapi saya hanya ingin menolong teman saya," ujar Hansel meminta maaf pada ibu tersebut.


"Iya, tidak apa-apa. Saya dapat kabar dari Rania, dia di sini hanya petugas yang membantu kami dan dia tidak mengerti seikypun tentang medis. Kamu seorang dokter?" tanya ibu tersebut.


"Mhm, saya mahasiswa kedokteran dan sekarang sedang masa praktek di rumah sakit," ujar Hansel.


"Oh, baguslah kalau begitu,kamu sudah melakukan hal yang terbaik." Wanita itu mencoba memeriksa kondisi Akifa.


"Kita tinggal menunggu gadis ini sadar," ujar wanita itu.


Hansel dan wanita itu menceritakan semua yang terjadi pada si wanita.


"Memang di kawasan ini sering terjadi perampokkan, mereka biasa mencari mangsa wanita," ujar si wanita yang menyayangkan daerah tempat tinggalnya sudah semakin tidak aman dari orang-orang jahat.


"Di-di mana aku?" lirih Akifa saat mulai sadar.


Dia mengerjapkan matanya, berusaha mengenali tempat dia berada saat ini.

__ADS_1


"Akifa, kamu sudah sadar?" tanya Hansel berdiri menghampiri Akifa.


"Han-hansel, a-aku di-di mana?" lirih Kayla bertanya tanpa peduli dengan pertanyaan Hansel.


"Kamu sedang di klinik, syukurlah kamu baik-baik saja," ujar Hansel lega.


"Iya, Nak. Syukurlah kamu baik-baik saja, untung ada teman kamu yang cekatan dan langsung menangani luka yang kamu alami," ujar si wanita sambil menoleh pada pemuda tampan yang kini berdiri di samping tempat tidur tempat Akifa terbaring.


Akifa menoleh ke arah Hansel yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Terima kasih, Hans," lirih Akifa.


Hansel tersenyum.


"Sudah kewajibanku melakukan hal itu," ujar Hansel.


Akifa tersenyum, dia semakin kagum pada pria yang beberapa hari ini telah membuat hatinya berbunga-bunga.


Rasa simpati pada pria yang kini berdiri di sampingnya semakin tumbuh.


"Akifa," panggil Alex yang tiba-tiba datang.


"Bang Alex?" lirih Akifa kaget melihat Alex.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alex khawatir.


"Alhamdulillah, Akifa baik, Bang." Hansel menjawab pertanyaan Alex.


"Tidak perlu, Bang. Saat ini Akifa tinggal menunggu stabil saja, Bang," jawab Hansel.


"Syukurlah, kalau begitu," ujar Alex.


Setelah magrib Alex membawa Akifa pulang dari klinik tersebut. Awalnya Hurry mau datang ke klinik, tapi setelah diberi kabar bahwa keadaan Akifa baik-baik saja, Hurry diminta Alex untuk menunggu di rumah bersama Irene.


"Terima kasih, Hans," ujar Alex sebelum meninggalkan klinik.


Hansel memberikan kunci mobil Akifa yang sudah diperbaiki oleh temannya.


"Sama-sama, Bang." Hansel tersenyum.


"Terima kasih, Hans. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu," ujar Akifa sekadar basa basi.


"Santai aja, besok istirahatlah di rumah. Aku akan menyampaikan pada dokter pembimbing kalau kamu kurang sehat," ujar Hansel pada Akifa agar gadis itu beristirahat terlebih dahulu setelah apa yang menimpanya.


"Terima kasih," ucap Akifa sekali lagi.


Alex membantu Akifa melangkah, dia masih terlihat sangat lemah. Alex merangkul pundak adiknya agar Akifa tak terjatuh.


Dia pun membawa adik bungsunya pulang ke rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex saat dia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Hurry berlari tergopoh-gopoh menghampiri putrinya.


"Akifa, gimana keadaan kamu, Sayang?" tanya Hurry sangat mengkhawatirkan putri bungsunya.


Akifa belum menjawab apa-apa. Hurry menggiring Akifa untuk duduk di sofa ruang keluarga sebelum dia masuk ke dalam kamar.


Irene juga mendekati adik iparnya, dia ikut khawatir dengan keadaan adik iparnya itu.


"Alhamdulillah, Akifa tidak apa-apa, Bun. Kebetulan ada temannya yang langsung menangani sayatan di lehernya," ujar Alex.


Akifa menyingkap hijabnya untuk memperlihatkan luka yang ada di lehernya.


"Ya ampun, putri Bunda." Hurry memeluk putrinya.


"Kamu ngapain lewat jalan itu?" tanya Bunda pada putrinya.


Beberapa minggu terakhir memang banyak terdengar berita kejahatan yang ada di lokasi tersebut.


"Rencananya, aku mau ambil sesuatu di rumah teman jadi aku pikir bisa lewat jalan itu sebagai jalan pintas," jawab Akifa.


"Lain kali, kalau mau ke mana aja, mending lewat jalan raya aja, enggak usah pakai jalan pintas segala," ujar Alex menasehati adiknya.


"Iya, Bang." Akifa mengangguk.


"Eh, Bang Alex sama kak Irene kapan datang?" tanya Akifa penasaran.


"Tadi siang, karena khawatir aku langsung menuju tempat yang dikabarkan temanmu," jawab Alex.


"Tumben, kamu pulang, Bang. Biasanya sibuk aja terus," ujar Akifa.


"Mhm, enggak ada. Irene ingin pulang. Kebetulan Raymond dan Alita mau bantuin aku ngurus kafe untuk sementara," jawab Alex.


"Oh," lirih Akifa.


Dia hanya bisa ber-oh-ria.


Mereka mengobrol sejenak hingga akhirnya Akifa merasa lelah dan meminta pada Bundanya untuk mengantarkannya menuju kamarnya.


"Ya udah, kamu istirahat dulu.'" ujar Hurry.


Setelah itu, Bunda dan yang lainnya pun melangkah menuju ruang makan karena Irene dan ayah Hendra belum makan.


Saat Hurry dan Irene menyiapkan makanan malam. Alex asyik menceritakan apa yang terjadi pada Akifa tadi pada Bundanya.


"Di sana memang rawan kejahatan," timpal Hurry.


Prank!


Sebuah piring terjatuh ke lantai bersamaan dengan jatuhnya Irene ke lantai.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2