
"Iya, Kak. Aku di Jakarta. Sekarang aku sudah di depan asrama kamu," ujar Rayna lewat sambungan telpon.
"Kenapa kamu enggak bilang-bilang aku kalau mau ke Jakarta?" tanya Kayla bingung.
"Mas, Satya buru-buru. Banyak masalah yang harus diselesaikannya di perusahaan ayah, jadi aku di suruh ke sini dulu," jelas Rayna.
"Terus Ibu bagaimana?" tanya Kayla.
"Ibu sudah berangkat ke Padang, dia ingin menenangkan diri di kampung," jawab Rayna.
"Oh, ya udah aku keluar, ya," ujar Kayla.
"Ada apa, Kay?" tanya Dian khawatir.
"Rayna ada di depan asrama," jawab Kayla.
“Aku lihat Rayna di luar dulu, ya,” ujar Kayla.
Kayla pun berdiri dan melangkah keluar asrama untuk menjemput Rayna yang menunggunya di luar.
Di luar asrama, Rayan dan Satya sudah berdiri di depan gerbang asrama.
”Adek,”panggil Kayla.
Rayna menoleh ke arah Kayla yang datang menghampirinya.
”Kay, aku minta tolong Rayna di sini dulu, ya. Aku mau mengurus pendaftaran kuliah Rayna,” ujar Satya pada Kayla.
”Iya, enggak apa-apa,” sahut Kayla.
“Sayang, kamu di sini dulu. Aku akan urus semua urusan perkuliahanmu, supaya besok kamu bisa mulai belajar,”ujar Satya sebelum meninggalkan istrinya.
“Iya, Bang.”Rayna mengangguk.
“Ya udah, kalian masuk dulu,” perintah Satya.
Satya akan pergi setelah kakak beradik itu masuk ke dalam gedung asrama, dia ingin memastikan dua wanita itu masuk ke dalam asrama dengan selamat. Satya tak bisa lengah menjaga istrinya karena dia tidak ingin Rayna diganggu lagi oleh pria yang bernama Jordy.
Sejak peristiwa penculikan itu, Satya mengetahui dalang dibalik itu semua adalah Jordy. Satya tidak bisa memastikan pria itu akan berhenti mengganggu istrinya karena Diatidak bisa menemukan keberadaan pria itu hingga saat ini.
Hanya satu hal yang bisa dilakukan Satya, yaitu menjaga Rayna seketat mungkin agar taka da satu orang pun yang bisa menyakiti dirinya.
Satya pun melangkah masuk ke dalam mobil setelah kedua wanita itu masuk ke dalam asrama.
Sore harinya, Raffa datang menjemput Kayla ke asrama, dia menunggu istrinya di dalam mobil, Raffa sengaja tidakturun agar mereka bisa langsung pulang. Beberapa hari ini ada maslah yang harus dihadapi kafe, beberapa pemasok bahan baku makanan membatalkan kerja sama karena ada resto yang memberi harga llebih tinggi dari kafe miliknya.
Raffa harus meyelesaikan maslah itu dan mencari pemasok bahan baku yang lain dan langsung melakukan kontrak dalam beberapa tahun agar masalah ini tak terulang lagi di kemudian hari.
__ADS_1
“Bang,” lirih Kayla mengetuk pintu mobil milik sang suami.
Raffa yang tak sengaja tertidur karena lelah, kaget saat melihat sang istri sudah berada di depan pintu mobil.
Raffa pun membukakan pintu mobil, Kayla masuk ke dalam mobil diikuti oleh Rayna yang masuk melalui pintu belakang. Raffa sudah tahu adik iparnya akan ikut dengannya ke rumah sambil menunggu Satya mengurus urusan perkuliahan istrinya.
Kayla melihat wajah suaminya yang terlihat begitu lelah, dia merasa kasihan melihat suaminya.
“Kamu capek ya, Bang?” tanya Kayla sambil mengelus lengan Raffa.
Raffa menoleh ke samping menatap pada sang istri. Dengan susah payah Raffa berusaha mengembangkan senyuman di wajahnya, walaupun Raffa tersenyum Kayla tahu saat ini suaminya belum bisa menyelesaikan masalah yang kini dihadapinya.
“Bang, apa pun masalah yang kini kamu hadapi kita serahkan pada Allah, ya,” ujar Kayla berusaha menghibur sang suami.
Raffa menoleh ke arah istrinya, dia mengelus pipi wanita yang sangat dicintainya.
“Makasih ya, Sayang,” ucap Raffa.
“Ehem, nyamuk. Aku jadi anti nyamuk, nih,” gerutu Rayna yang duduk di jok belakang.
Dia merasa iri dengan keromantisan dua insan yang lebih dewasa darinya, walaupun Satya lebih romantic dari kakak iparnya tapi cara mereka saling mencintai berbeda dengan kisah cintanya.
“Eh, ada orang ya di belakang?” ledek Raffa menjahili adik iparnya.
“Bukan, Mas. Aku cuma anti nyamuk,” ujar Rayna cemberut.
“Kalian menyebalkan,” gerutu Rayna kesal.
Mereka pun tertawa, sejenak Raffa lupa dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah yang sudah dibeli Raffa. Rumah yang tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Di rumah itu terdapat 3 kamar tidur dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar, serta ruang keluarga yang di sana terdapat TV besar untuk beristirahat sambil menonton.
“Wah, rumah kakak nyaman sekali,” ujar Rayna kagum pada sang kakak.
“Alhamdulillah, Dek.” Kayla tersenyum pada adiknya.
“Nanti kalau kamu sudah kuliah, kamu akan tinggal di sini,” ujar Raffa.
Satya sudah membicarakan hal ini ada Raffa, tapi Raffa belum sempat memberitahukan sang istri karena kesibukkan yang mereka jalani.
Kayla mengernyitkan dahinya bingung.
“Maksudnya apa, Bang?” tanya Kayla bingung.
“Rayna akan kuliah di sini, awalnya Satya akan meminta Rayna untuk tinggal di asrama, tapi aku menawarkan Rayna tinggal bersama kita agar Satya bisa datang apa saja kalau dia mau ketemu dengan Rayna,” ujar Raffa.
Kayla menoleh tak percaya, kenapa suaminya lebih tahu dari pada dirinya.
__ADS_1
“Kamu udah tahu, Rayna mau kuliah dan akan tinggal bersama kita, Bang? Kamu enggak kasih tahu aku sama sekali, aku kecewa sama kamu!” teriak Kayla mulai emosi.
Kayla tidak memperdulikan perasaan adiknya yang akan terluka dengan perkataannya. Dia pun masukke dalam kamar sambil menghempaskan pintu kamar.
Rayna bingung melihat sikap sang kakak, dia tak menyangka Kayla akan menolak kehadiran dirinya di rumah Kayla.
Raffa menoleh pada adik iparnya yang kini menundukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca setelah mendengar penolakkan keberadaannya dari kakak yang selama ini sangat menyaynginya.
“Ray, maafkan Kayla, ya. Dia hanya lagi emosi saja, Aku harap kamu tidak memasukkan apayang dikatakannya di dalam hati.” Raffa berusaha meminta pengertian adik iparnya.
Rayna masih diam, dia mulai berpikir untuk mengurungkan niatnya untuk kuliah dan memilih untuk membatalkan rencananya.
"Mungkin alangkah lebih bagus aku tidak usah melanjutkan kuliah," lirih Rayna bersedih.
"Dek, kamu jangan ngomong seperti itu. Kakakmu saat ini sedang mengandung, hormon kehamilannya tidak stabil dan suka berbuat seenaknya. Emosinya berubah-ubah, jadi kita sebagai manusia yang waras lebih baik kita memaklumi perkataannya" ujar Raffa meminta adiknya untuk mengerti suasana hatinya.
Rayna hanya diam, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia di ruang tamu.
Tak terasa kini buliran bening jatuh membasahi pipinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Satya panik
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏