Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 240


__ADS_3

Di kamarnya, Irene kembali membuka ponselnya untuk menghibur dirinya yang galau dengan perkataan sang suami.


Berkali kali Irene mencoba untuk memejamkan matanya, tapi masih saja terpikirkan kata-kata Alex tadi.


Pagi hari pada pukul 04.00 pagi. Irene terbangun dari tidurnya, dia langsung turun dari tempat tidur dan langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dia pun bersiap-siap untuk melaksanakan shalat subuh. tak berapa lama dia siap untuk melaksanakan shalat subuh, Alex masuk ke dalam kamar dia kaget saat melihat sang istri sudah mengenakan mukena dan duduk di atas sajadahnya menunggu adzan subuh berkumandang.


Alex langsung melangkah menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi Alex berucap syukur berharap ini awal perubahan sikap istrinya.


Setelah Alex menyelesaikan rutinitas mandinya dia keluar dari kamar mandi, Alex juga melihat pakaian yang akan dikenakannya sudah tertata di atas tempat tidur.


Alex yang akan pakaiannya lalu bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.


Alex hanya tersenyum di dalam hati dia tidak memperlihatkan kebahagiaan yang kini ada di hatinya atas perubahan yang dilakukan oleh istrinya.


Alex sengaja menyembunyikan rasa bahagia agar piring tidak besar kepala. Dia ingin melihat perubahan yang sesungguhnya.


Dia harus memastikan Irene benar-benar berubah atau hanya sekedar berbuat baik karena dirinya sudah memberikan uang kepadanya.


Setelah menyelesaikan shalat subuh Irene membantu Mak Ijah menyiapkan sarapan di dapur, sedangkan Alex seperti biasa dia membaca Alquran di ruang keluarga tanpa mengetahui keberadaan istrinya yang sibuk memasak di dapur bersama Mak Ijah.


Pada siang harinya di kampus Irene dan teman-temannya sedang menikmati makan siang bersama.


Mereka duduk di meja bagian pojok samping jendela kantin. mereka tengah menyantap makan siang yang sudah mereka pesan sejak tadi.


"Ren, ada temen gue mau kenalan sama lu. Lu mau, enggak?" tanya Lola pada Irene di sela-sela santap siang mereka.


Lola salah satu teman terdekat Irene sejak dia pindah ke Jakarta.


Irene memiliki 4 orang teman dekat, tapi kedekatan mereka hanya untuk senang-senang saja bukan untuk saling berbagi setiap masalah yang tengah mereka hadapi.


Keempat teman Irene sudah memiliki pasangan hanya Irene yang mereka tahu masih single.


Selama ini teman-teman Irene tahu dia adalah gadis lajang. Irene tidak pernah mengungkap statusnya sebagai seorang istri di hadapan teman-temannya.


"Hah? Siapa?" tanya Irene penasaran.


Dia tak menyangka Lola berniat mengenalkan dirinya dengan pria asing.


"Teman kekasih gue," jawab Lola santai.


"Mhm, gimana ya?" Irene terlihat bingung dan salah tingkah.

__ADS_1


"Bentar lagi dia juga bakal datang kok," jawab Lola.


"Nanti kita jalan bareng, ya!" ajak Lola lagi.


Irene menautkan kedua alisnya.


"Jalan ke mana?" tanya Irene merasa panik.


Tak berapa lama, kekasih Lola melangkah masuk ke dalam kantin bersama seorang pria yang belum dikenalinya sama sekali.


Seorang pria dengan rambut gondrong yang terikat rapi dan kaca mata hitam yang melekat di matanya.


Penampilannya sedikit acak-acakan dengan kaos putih yang dipakainya serta jaket kulit yang menempel di tubuhnya.


Tak lupa celana jeans yang terdapat sobekan di bagian lututnya.


"Tuh, dia datang," seru Lola sambil melambaikan tangannya pada sang kekasih.


Irene menoleh ke arah dua pria yang kini mulai melangkah menghampiri meja mereka.


"Hai, Guys. Kenalin ini teman gue, namanya Varo," ujar kekasih Lola.


Semua orang yang ada di sana menjabat tangan Varo kecuali Irene.


"Sayang, lihat deh pasangan itu!" tunjuk Irene ke arah sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari posisi mereka saat mereka sedang bersantai di pinggir pantai Padang.


Sepasang kekasih itu terlihat duduk sangat dekat, tangan sang pria melingkar di pinggang si wanita, melihat umur mereka bisa dipastikan mereka bukanlah sepasang suami istri.


"Kalau aku ingin, aku yakin kamu pasti mengizinkanku menyentuhmu, tapi aku hanya ingin menghargaimu. Aku akan menyentuhmu saat kita sudah halal nanti," ujar Alex pada Irene saat mereka sudah setahun pacaran.


Alex sangat menjaga Irene, dia tak berani menyentuh wanita pujaan hatinya karena selalu dinasehati oleh sang Bunda agar menjaga pergaulan jika dia sudah memiliki kekasih.


"Alex sangat menjaga harga diriku, dan apa yang kini aku lakukan?" gumam Irene di dalam hati.


"Ren," lirih Lola menyenggol lengan Irene yang masih diam menatap kosong ke arah Varo.


"Maaf, aku harus pergi," ujar Irene lalu dia meninggalkan teman-temannya.


Teman-teman Irene merasa bingung dengan sikap Irene.


"Ren!" panggil Lola.


Irene mengabaikan panggilan Lola, dalam benaknya hanya ada satu nama yaitu Alex.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" tanya Varo heran.


Lola dan yang lainnya hanya bisa mengangkat bahu tidak tahu.


Irene melangkah keluar dari kampus dia melupakan jadwal mata kuliah setelah dzuhur.


Ada rasa rindu yang membuncah di hati Irene pada pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.


Dia mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukannya.


Irene memesan sebuah ojek online dan berangkat menuju kafe tempat Alex bekerja, dia ingin langsung meminta maaf atas kesalahannya selama ini.


Seharusnya dia menerima Alex apa adanya, bukan menuntut berbagai hal yang tidak sanggup dilakukan oleh suaminya itu.


Saat sampai di kafe, Irene langsung melangkah masuk ke dalam kafe, dia hendak mencari sosok sang suami.


Namun, Irene melihat Alex sedang makan siang dengan wanita lain. Terlihat wajah ceria yang terpancar di paras mereka.


Hati Irene hancur, sudah satu bulan dia tak lagi melihat wajah tampan itu tersenyum dan tertawa ceria seperti saat ini.


"Ya Allah, apakah ini hukuman untukku," lirih Irene.


Irene membalikkan badannya lalu melangkah keluar dari kafe, dia terus berjalan tanpa arah tujuan. Dia hanya mengikuti kehendak kaki yang terus melangkah entah ke mana.


Hingga akhirnya Irene sampai di sebuah taman yang dipenuhi pohon lindung nan rimbun sehingga dia memilih untuk beristirahat di sana.


Dia duduk di sebuah bangku taman, Irene menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Irene menangis tersedu-sedu meluapkan rasa sakit di hatinya.


"Lex, maafkan aku. Aku mang istri yang tak berguna! Aku tak pantas kamu perjuangkan!" Hati Irene berteriak.


Ingin rasanya Irene meneriaki kebodohan yang sudah dilakukannya.


"Kamu bodoh, Ren. Kamu sudah mengabaikan pria yang masih peduli denganmu, kini di saat kamu menyadarinya dia sudah bahagia bersama wanita lain." Irene masih saja terisak meluapkan tangisnya.


Dia tak peduli jika ada orang yang akan datang menghampirinya dan mengira dia wanita gila.


Setelah sekian menit dia menangis, sebuah tangan menyentuh bahu Irene.


Irene kaget, dia langsung berdiri dan menatap marah pada orang itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2