
Raymond sudah berada di depan pintu kamar Alita, dia sudah memegangi kenop pintu hendak membukanya, tiba-tiba Raymond ragu untuk membuka pintu. Akhirnya Rayhan mencoba mengetuk pintu. Takutnya Alita sedang ganti baju atau apalah yang bisa membuat dirinya malu.
Tok tok tok.
Raymond mengetuk pintu kamar Alita, tapi belum ada sahutan dari dalam kamar, Raymond mencoba mengulangi mengetuk pintu, tapi masih saja sama taka da sahutan sama sekali. Akhirnya Raymond pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Alita, kebetulan kamarnya tidak dikunci.
Saat Raymond membuka pintu kamar, dia mendapati ALita sudah tertidur lelap di atas tempat tidur dengan ponsel di tangannya.
Raymond menghampiri Alita yang tertidur dengan pulas. Dia menatap dalam wajah polos Alita, dia dapat melihat raut wajah Alita yang terlihat lelah. Raymond merasa kasihan untuk membangunkan wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Raymond melihat ponsel Alita masih terbuka, ada beberapa pesan wa yang masuk ke ponselnya. Entah mengapa Raymond mulai penasaran dnegan sosok Alita yang sesungguhnya.
Raymond mengambil ponsel tersebut, lalu dia mulai membaca beberapa pesan pribadi dari teman-temannya. Ada satu pesan dari teman Alita yang menarik perhatian Raymond.
Raymond membaca semua pesan dari nomor tersebut, dia juga tidak lupa menyalin nomor teman Alita ke ponselnya. Mana tahu suatu saat dia membutuhkan nomor tersebut.
Setelah itu Raymond pun mengangkat tubuh Alita keluar dari kamar, dia berencana tetap akan membawa Alita pulang ke rumah bunda Hurry dalam keadaan tidur.
Raymond melangkah ke luar kamar dengan menggendong istrinya, lalu dia menuruni anak tangga satu per satu, dengan postur tubuh yang kekar tidak menjadi hal yang sulit bagi Raymond untuk menggendong istrinya menuju mobil yang terparkir di depan rumah Rahman.
“Lho? Alitanya sudah tidur, Ray?” tanya tante Rahma saat melihat Raymond menuruni anak tangga sambil menggendong Alita.
“Iya, Tan,” jawab Raymond.
“Ya sudah, kalian menginap di sini saja,” ujar Rahman kasihan melihat Raymond susah payah menggendong keponakannya.
“Enggak usah, Om. Kami pulang saja, lagian kami belum menyiapkan barang-barang untuk berangkat besok,” ujar Raymond menanggapi tawaran Rahman.
“Oh, yakin?” tanya Rahman memastikan.
“Iya, Om.” Raymond mengangguk.
“Kami pamit pulang ya, Om,” ujar Raymond lagi sebelum Raymond keluar dari rumah Rahman.
“Hati-hati, ya,” sahut Rahman.
Raymond memasukkan Alita ke dalam mobil, mungkin karena lelahnya, Alita tak sedikitpun terbangun. Raymond sengaja sedikit memiringkan kursi mobil agar Alita bisa tidur dengan nyaman.
Setelah itu, Raymond pun melangkah mengitari mobil lalu masuk ke dalam mobil lewat pintu kemudi.
Raymond mulai melajukan mobil meninggalkan kediaman keluarga Rahman menuju rumah kediaman keluarga Hendra.
Di rumah Hendra hanya tinggal Alex dan Irene, Hendra dan Hurry menginap di rumah sakit, karena Hurry tak tega meninggalkan Arumi mengurusi ketiga cucunya seorang diri. Sedangkan Agung dan Dian masih sibuk mengurusi butik, kemungkinan besar mereka akan menginap di butik.
__ADS_1
Sesampai di depan rumah Hendra, Raymond mengetuk pintu rumah. Tak berapa lama pembantu rumah tangga di rumah Hendra pun keluar membukakan pintu rumah.
“Hah? Aku di mana?” gumam Alita saat dia terbangun.
Alita mencoba mencermati sekelilingnya, dia sadar bahwa dia tengah berada di dalam mobil. Alita juga menyadari bahwa mobil sudah terparkir di depan rumah Bunda Hurry.
Alita memicingkan matanya, dia memiliki satu ide untuk mengerjai sang suami. Alita kembali berpura-pura tidur saat Raymond membuka pintu mobil.
Alita membiarkan Raymond susah payah menggendong tubuhnya masuk ke dalam kamar. Sesampai di kamar Raymond membaringkan tubuh Alita di atas tempat tidur.
“Huhfft.” Raymond menghela napas panjang.
“Lumayan berat juga, kalau sering-sering gini bisa patah nuh pinggang gue,” lirih Raymond pelan tapi masih dapat didengar oleh Alita.
“Baru juga gendong segitu, sudah mengeluh. Gimana nanti kalau lebih dari itu, apalagi kalau aku nanti hamil apa enggak sanggup menggendong aku,” ujar Alita tiba-tiba.
Raymond membulatkan matanya tak percaya, dia tak menyangka Alita sudah bangun.
“Apa jangan-jangan sejak tadi dia sudah bangun?” gumam Raymond di dalam hati.
“Hah, kamu sudah bangun? Sejak kapan?” tanya Raymond protes.
“Sejak tadi,” ujar Alita santai.
Dia pun bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
“Baru juga dari depan rumah ke sini, tubuhku juga masih ringan. Bagaimana kalau aku lagi hamil pasti lebih berat, apa kamu enggak mau gendong aku
?” ujar Alita.
“Emangnya kamu mau hamil anak aku?” tanya Raymond menjebak pertanyaan Alita.
“Hah? Kamu kan sudah tidur denganku, mana tahu aku hamil,” jawab Alita santai.
Raymond pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya bisa cenge-ngesan tak keruan.
“Tidurlah! Besok kita akan melakukan perjalanan jauh,” perintah Raymond pada istrinya mengalihkan pembicaraan.
Raymond tidak mau keceplosan bahwa malam itu dia tidak menyentuh Alita sama sekali. Raymond memilih melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri bersiap-siap untuk tidur.
Saat Raymond keluar dari kamar mandi dia melihat Alita sudah memejamkan mata, tapi dia tidak tahu bahwa Alita sudah tidur atau masih bangun. Raymond memilih untuk mengabaikannya, lalu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tepat di sebelah Alita.
Keesokan harinya, Alita dan Raymond pun bersiap-siap untuk berangkat. Mereka berangkat penerbangan pada pukul 11.00. Sebelum mereka berangkat, Raymond dan Alita mampir di rumah sakit untuk berpamitan pada seluruh anggota keluarga yang ada di sana.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi, Alex dan Irene juga Alita dan Raymond berangkat menuju rumah sakit, Alex dan Irene lah yang akan mengantarkan sepasang suami istri itu nantinya ke Bandara.
Mereka sampai di rumah sakit pada saat Arumi dan Hurry sedang heboh menggendong Raja dan Raju, sementara itu Kayla sedang menyusi Ratu, tentunya Kayla menyembunyikan putrinya yang menyusu dibalik hijabnya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Raymond dan Alex saat masuk ke dalam ruang rawat Kayla dan Raffa.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Arumi dan Hurry.
Semua mata tertuju pada rombongan Alex yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Irene meletakkan makanan yang dibawanya dari rumah untuk sarapan keluarga yang menunggui Kayla dan Raffa di rumah sakit.
“Kamu bawa sarapan untuk kita, Ren?” tanya Hurry pada menantunya.
“Iya, Bun,” jawab Irene.
“Kalian sudah sarapan?” tanya Hurry lagi.
“Sudah, Bun,” jawab Irene.
“Bunda mau sarapan sekarang?” tanya Irene.
Dia membuka satu per satu rantang yang dibawanya dan menyusunnya di atas meja.
“Ayah sama Pak Hendra kayaknya mau sarapan duluan, tolong kamu siapkan ya, Ren,” pinta Hurry pada menantunya.
Hurry sengaja meminta bantuan sang menantu karena saat ini masih menggendong Raja yang sednag menunggu antrian untuk disusukan.
“Baik, Bun.” Irene pun langsung menyiapkan makanan untuk ayah mertuanya dan ayah mertua Kayla.
Dua pria berumur hampir 60 tahun itu maih setia menemani sang istri yang sibuk mengurusi cucu mereka yang baru lahir. Mereka juga rela untuk tidak masuk ke kantor sementara.
“Sepertinya, nasib kita setelah ini akan sering diabaikan, Pak Hendra,” ujar Surya setelah memegang piring yang berisikan nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Irene.
“Begitulah, Pak Surya. Setelah kita punya cucu. Istri kita akan jadi milik cucu-cucu kita,” ujar Hendra menanggapi ocehan Surya sambil melirik kea rah Arumi dan Hurry.
Arumi dan Hurry saling berpandangan dan tersenyum mendengar keluhan suami mereka.
“Sabar, dong. Lagian ini juga di saat Kayla dan Raffa masih belum pulih,” ujar Arumi memberi alasan.
“Yay a ya.” Surya mengangguk paham.
Mereka pun tertawa melihat para orang tua yang berbeda pendapat itu.
Tak berapa lama setelah itu, Raymond dan Alita berpamitan untuk berangkat ke Jakarta. Sebelum pulang Alita ingin menciumi pipi Ratu yang kini sudah beralih ke tangan Arumi.
__ADS_1
“Jangan sentuh putriku!” bentak Raffa tak suka.
Bersambung…