Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 289


__ADS_3

Di rumah kediaman keluarga Hendra semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Raffa dan Kayla juga sudaha ada di sana.


Raffa dan Kayla yang tidak menginap di hotel dapat telpon dari bunda Hurry. Bunda Hurry memberi kabar apa yang sudah terjadi pada Akifa, oleh karena itu dia bergegas datang ke rumah Bundanya.


“Bagaimana menurutmu, Raffa?” tanya Ayah Hendra pada Raffa.


Ayah Hendra sengaja meminta pendapat pada Raffa karena mereka sudah tahu bahwa Raffa sangat mengenali Farhan. Hendra juga tidak ingin gegabah memutuskan sesuatu untuk masa depan putrinya.


“Mhm, kalau dilihat dari keluarganya, Farhan tumbuh di lingkungan keluarga yang Baik. Farhan sempat menjadi anak nakal, tapi dia sudah berubah, Yah. Aku perhatikan sifat dan sikapnya menjadi lebih baik setelah dia menjadi pengacara,” jelas Raffa.


Dari perkataannya, Raffa setuju dengan keputusan saudara iparnya dan ayah mertuanya.


“Baguslah kalau, begitu. Kita tunggu saja kedatangan pria itu dnegan kedua orang tuanya,” ujar Hendra.


“Tidak! Aku tidak mau menikah dengan dia, Ayah,” ujar Akifa menolak keputusan tersebut.


Hendar menautkan kedua alisnya saat mendengar penolakan Akifa. Bertahun-tahun Akifa sekolah di pesantren selama itu dia tidak pernah menolak apa pun yang dikatakan oleh Hendra. Dia merupakan gadis yang sangat penurut, Hendra tak menyangka Akifa berani menolak keputusannya.


Hendra menatap dalam pada putri kecilnya.


“Kenapa kamu menolaknya?” tanya Hendra berusaha menahan diri untuk tidak mengabaikan keinginan putri kecilnya.


"Aku tidak mencintainya," jawab Akifa jujur.


"Sayang, dalam sebuah pernikahan tak harus dilandasi dengan cinta. Lihatlah kakak-kakakmu, mereka menikah tanpa dilandasi cinta sebelum menikah," nasehat Hendra pada putrinya.


"Tapi, Yah. aku sudah mencintai pria lain," tutur Akifa jujur mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


Hendra kaget mendengar penuturan jujur dari putri kecilnya. Raffa dan Kayla saling melempar pandangan mereka kaget saat mendengar ucapan adik kecilnya.


Alex menggelengkan kepalanya tak percaya dengan keberanian gadis belia yang selama ini selalu dilindungi dan dimanjakannya.


Agung terdiam mendengar penuturan Akifa yang di luar dugaan.


"Kamu mencintai pria lain? Siapa?" tanya Hendra pada putrinya.


"Mhm, Hansel, Yah. Pria yang sudah menolongku," lirih Akifa jujur.

__ADS_1


Dengan berani Akifa mengungkapkan siapa pria yang sudah disukainya selama ini. dia yakin bahwa Hansel adalah pria yang pernah menolongnya di waktu dia masih kecil. Cinta pertamanya.


Hendra mengalihkan pandangannya pada Agung dan Alex, seolah dia ingin meminta pendapat kedua putranya tentang masa depan adiknya.


Agung dan Alex saling berpandangan, mereka tampak berpikir.


"Bagaimana, Gung, Lex?" tanya Hendra pada kedua putranya meminta pendapat karena terlihat keduanya hanya diam.


"Yah, kalau ayah menanyakan pendapatku, sampai kapanpun aku tidak setuju Akifa menikah dengan pemuda yang bernama Hansel itu," tutur Alex.


Akifa menatap tajam pada Alex, dia tak menyangka bahwa pria yang selalu menjaga dirinya menolak pilihannya.


"Aku belum mengenali pria yang dikatakan Akifa, tapi aku tahu Alex pasti memiliki alasan tersendiri menolak pilihan Akifa." Agung Ikut berpendapat. Mereka sangat mengenali Alex dengan baik.


Selama ini, apapun yang dilakukan oleh Alex selalu terbaik untuk keluarganya.


Semua terdiam sejenak, mereka mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kita bahas lagi masalah ini nanti, jika Farhan datang ke sini membawa kedua orangtuanya sebagai bukti tanggungjawabnya berarti dia adalah pria yang baik untuk Akifa, tapi jika Farhan tidak datang Ayah akan mempertimbangkan keinginan Akifa." Hendra mengambil keputusan setelah berpikir sejenak.


Kayla berpindah duduk kesamping adiknya. Dia merangkul pundak adiknya.


"Kak, aku tidak ingin menikah dengan pria itu," rengek Akifa pada sang kakak.


Saat ini hanya Kayla tempat Akifa mengadu agar dia bisa lepas dari keputusan ayah dan Abang-abangnya.


Kayla mengelus lembut pundak adiknya. Kayla belum bisa memberi pendapat karena juga belum mengenal pria yang disukai oleh adiknya.


Alex melihat iba pada adiknya, tapi Alex lebih tega membiarkan adiknya bersedih saat ini daripada adiknya bersedih setelah dia bersama Isria yang bernama Hansel.


Dia pun berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Mau tak mau Irene pun ikut berdiri dan mengikuti langkah sang suami.


"Sayang, apakah tidak keterlaluan kamu menolak keinginan Akifa tanpa menyampaikan alasannya pada Akita?" tanya Irene berusaha membujuk suaminya.


"Sayang, kita tidak bisa mengungkap kejelekkan Hansel tanpa adanya bukti," ujar Alex pada istrinya.


"Sayang, apa salahnya kita memberitahukan apa yang dilakukan oleh Hansel waktu itu." Irene masih membajuk Alex untuk memberitahukan apa yang sudah mereka lihat waktu itu.

__ADS_1


"Sayang, Akifa tidak akan percaya sebelum dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jadi, lebih baik kita menunggu Akifa tahu sifat asli pria itu." Alex menjelaskan prinsipnya pada sang istri.


Akhirnya Irene pun diam, dia tidak lagi membantah apa yang diucapkan oleh suaminya.


"Kak, Hansel itu pria yang sangat baik. Dia pria yang sholeh," ujar Akifa pada Kayla di saat mereka sudah berada di dalam kamar Akifa.


"Dek, tidak semua yang ada di hadapan kita menjadi tabiat dia sesungguhnya. Kakak harap kamu lebih jeli menilai seseorang," nasehat Kayla pada adiknya.


"Sejak aku mengenalinya dia sangat taat beribadah, dia rutin mengerjakan shalat sunat," ujar Akifa membela pria yang disukainya.


"Iya, Dek. Saat ini, kita serahkan semuanya pada Ayah, Bang Agung dan Alex. Kakak yakin mereka tidak akan membiarkan kamu terjebak dalam pernikahan yang akan membuatmu menderita." Kayla mulai mengutarakan pendapatnya.


Akifa mengerucutkan bibirnya bentuk kekecewaannya terhadap sang kakak yang tidak mendukung pilihannya.


"Jangan ngambek dong," bujuk Kayla.


"Kenapa kakak tidak mendukung pilihanku?" tanya Akifa kecewa.


"Bukan kakak tidak mendukungmu, kita harus menyerahkan semuanya pada Allah, Dek. Seharusnya kamu lebih tahu dari kakak tentang hal ini, toh kamu tamatan pesantren," ujar Kayla.


Akifa terdiam saat Kayla mengingatkan bahwa dirinya adalah alumni sebuah pesantren terkenal di Indonesia.


"Baiklah, Kak. Aku akan serahkan semua ini pada takdir yang ditentukan Allah untukku," lirih Akifa.


Akifa berdiri dan melangkah menuju kamar mandi dan berwudhu, dia bersiap untuk shalat Dhuha dan istikharah.


"Ya Allah, jika memang Farhan datang nanti malam ke rumah ini, itu artinya dia adalah pria yang terbaik untukku," lirih Akifa saat berdo'a usai shalat.


Kayla meninggalkan Akifa seorang diri di kamarnya, membiarkan sang adik untuk menenangkan dirinya.


Setelah selesai makan malam, semua orang sudah duduk di ruang keluarga menunggu kedatangan Farhan.


Mereka berharap dengan kedatangan Farhan dan keluarganya, berbeda dengan Akifa yang berharap pria itu tidak datang membawa keluarganya sebagai bentuk tanggung jawabnya.


Alex sudah berdiri di teras rumah, dia yakin bahwa Farhan akan datang. Namun, hingga jam 9 malam belum ada tanda-tanda tamu yang akan datang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2