Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 208


__ADS_3

Setelah melihat kebahagiaan Kayla dan Raffa, Raymond pun mengajak Alita untuk kembali ke Jakarta esok harinya.


Raymond tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya mengurus kafe pada Nick seorang diri.


Mengurus 5 cabang di Jakarta dan 3 cabang kafe di Bandung akan membuat Nick kewalahan memantaunya seorang diri.


Apalagi saat ini Raffa dan Satya masih berada di Padang, otomatis semua tanggung jawab akan tertumpu pada Nick.


Memang mereka yakin dengan kelihaian Nick mengurus semua ini, tapi tetap saja Raymond tidak tega membebankan semua tanggung jawabnya pada Nick.


Pria yang masih berstatus lajang itu akan kesulitan bolak balik Jakarta Bandung menghandle segala urusan kafe.


"Bun, Yah, mungkin besok aku dan kita akan berangkat ke Jakarta lebih dulu," ujar Raymond di sela-sela obrolan keluarga yang berkumpul di ruang rawat Raffa dan Kayla.


"Lho?" kenapa cepat sekali?" tanya Hurry.


Mengingat masa libur Alita masih ada sekitar satu Minggu lagi.


"Aku masih ada pekerjaan yang terbengkalai di Jakarta, Bun," jawab Raymond.


"Oh ya udah, enggak apa-apa kalau memang begitu," ujar Hurry.


"Aku juga kembali ke Jakarta besok, Bun. Mau mengurus kepindahan kuliah Irene di Jakarta. Lagian, nanti aku bisa dipecat sama pak Bos. Baru juga diterima kerja udah banyak liburannya," ujar Alex sambil melirik Raffa.


Alex sadar diri walaupun pemilik kafe tempat dia bekerja adalah kakak iparnya, dia tidak boleh bersikap semena-mena karena dengan pekerjaan yang diberikan Raffa lah, Alex akan menghidupi keluarga kecilnya.


Kalau tidak bekerja mau dikasih makan apa anak orang yang baru saja dinikahinya.


Raffa hanya tersenyum mendengar ocehan Alex.


Setelah beberapa hari mereka melewati liburan, rasa cemburu dan amarah Raffa terhadap Alex memudar begitu saja.


Beriring berjalannya waktu, Raffa pun mulai menganggap Alex sebagai adiknya sendiri. Perhatian Alex terhadap Kayla adalah bentuk sayangnya seorang adik pada sang Kakak.


"Lho, kok semuanya mau tinggalin bunda, sih?" lirih Hurry cemberut.


"Agung masih di sini setia menemani, Bunda." Agung berdiri menghampiri Hurry dan menghiburnya.


"Iya, Bunda. Kami masih di sini kok," timpal Dian menghibur ibu mertuanya.


"Iya, Sayang. Nanti kalau kuliah kamu selesai, kamu mau kan menetap di Padang? Ngurusin butik bareng Agung," ujar Hurry.


"Iya, Bun. Sebagai seorang istri aku akan mengikuti suamiku, kalau pun sekarang Bang Agung memintaku pindah kuliah aku juga akan melakukannya," ujar Dian menyetujui permintaan ibu mertuanya.

__ADS_1


Agung dan Dian sudah sepakat untuk mengizinkan Dian tetap melanjutkan kuliahnya, Dian akan tetap tinggal di asrama seperti biasanya.


Dalam jangka satu Minggu sekali atau dua Minggu sekali Agung akan datang mengunjungi istrinya sekaligus mengurus berbagai urusan butik yang juga biasa dilakukannya.


"Oeek," tangis salah satu bayi Kayla dan Raffa pecah.


Mungkin dia buang air kecil atau buang air besar.


Hurry dan Arumi pun bangun dari duduknya, mereka langsung melangkah menghampiri bayi yang menangis.


"Dia buang air kecil," ujar Arumi bersiap mengangkat tubuh mungil bayi yang masih berumur 2 hari itu.


"Biar aku yang gantikan popoknya," tawar Hurry.


"Tenang, Hur. Aku udah mengerti cara pasang gurita dan bedongnya, kamu liatin aku aja," ujar Arumi bersemangat.


Dua orang nenek ini sangat peduli pada cucu mereka yang baru lahir, mereka seolah berlomba untuk mengurus cucu-cucu mereka.


Belum selesai Arumi mengganti popok bayi yang satunya, bayi yang lainnya terbangun.


Hurry langsung mengalihkan perhatiannya pada bayi yang kini menangis.


Hurry mengecek bagian belakang si bayi, ternyata si bayi pup.


"Aduh, cucu nenek pup, ya. Sini biar nenek ganti popoknya," ujar Hurry.


Surya dan Hendra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istri mereka.


"Pak Hendra, sepertinya istri bapak mau nambah lagi, deh," ujar Surya menggoda Hendra.


"Haha, sepertinya kita harus bekerja ekstra supaya mereka bisa,--" ucapan Hendra tergantung karena tatapan tajam dua wanita itu membuat Surya dan Hendra memilih untuk diam dan tidak berkomentar lagi.


"Hahaha," tawa semua orang pun pecah.


Kayla menoleh ke arah Raffa, dia merasa bahagia menyaksikan keharmonisan keluarga besarnya.


Semenjak kecil Kayla tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga dalam hidupnya.


Kini hidupnya semakin sempurna dengan hadirnya 3 bayi mungil yang akan merepotkan kedua neneknya.


"Oh iya, Raffa, Kayla, kalian mau kasih nama apa putra-putri kalian?" tanya Hurry di sela-sela pekerjaannya membedong si bayi mungil.


"Iya, Fa, Kay. Apakah kalian sudah mencari nama yang cocok untuk putra putri kalian?" tanya Arumi juga ikut-ikutan.

__ADS_1


Raffa menoleh pada istrinya begitu juga Kayla, mereka sama sekali belum memikirkan nama untuk ketiga bayi mereka.


Sejak awal mereka sengaja tidak melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin karena mereka ingin menjadikan surprise.


Berhubung banyaknya kegiatan yang mereka lakukan akhir-akhir ini hingga kecelakaan yang terjadi membuat mereka tak sempat memikirkan nama untuk bayi-bayi mereka.


"Kami belum memikirkan nama untuk mereka, Ma, Bun," jawab Raffa.


Sepasang suami istri itu tampak mulai memikirkan nama yang cocok untuk bayi-bayi mereka.


"Bagusnya siapa, ya?" lirih Hurry dan Arumi serentak.


Mereka pun mulai memikirkan sebuah nama untuk bayi-bayi Kayla dan Raffa yang baru saja lahir.


Semua orang di ruangan itu tampak berpikir sejenak mencari-cari nama yang bagus untuk putra-putri Kayla dan Raffa.


"Mhm, Bagaimana dengan Raja dan Raju?" usul Surya memberikan nama untuk kedua bayi Raffa.


"Trus buat yang perempuannya siapa, Pa?" protes Arumi berpikir lagi.


"Mhm, siapa ya?" lirih Surya tampak bingung.


"Bagaimana kalau untuk yang perempuan namanya Ratu," usul Hurry tiba-tiba teringat pasangan seorang raja adalah seorang Ratu.


Mereka yang berada di sana mengangguk setuju, ide Hurry memang cocok untuk nama pelengkap dari ide Surya tadi.


"Bagus, itu aku setuju," sahut Surya mengangguk.


"Iya, Bun. Keren nama mereka. Raja, Raju, dan Ratu," ujar Alex.


"Eh, bagaimana, Bro. Lu setuju enggak nama bayi-bayi lu sesuai ide mereka?" tanya Agung minta persetujuan kedua orang tua bayi-bayi tersebut.


Kayla dan Raffa kembali saling pandang. Mereka tersenyum dan mengangguk setuju.


Mereka tidak mau semua orang di sana kecewa jika menolak usulan dan Surya dan Hurry, jadi mereka pun memilih untuk mengangguk setuju.


Mereka juga suka dengan nama Raja, Raju dan Ratu. Sekarang mereka hanya tinggal menambahkan nama belakang ketiga bayinya itu.


"Rajaza Raka Atmaja, Rajuza Raka Atmaja, dan Ratuza Raka Atmaja," ujar Raffa memberi nama lengkap untuk ketiga bayinya.


Mereka mengangguk setuju dengan nama yang sudah lengkap yang sudah diberikan Raffa pada anak-anaknya.


Nama Raka, sengaja diambil Raffa dengan artian Raffa dan Kayla.

__ADS_1


Tiba-tiba Alita berdiri menghampiri sang kakak, semua orang saling melempar pandang.


Bersambung...


__ADS_2