
"Sayang, apa maksud kamu?" tanya Raffa bingung dengan ucapan istrinya.
Kayla melangkah mendekati suaminya dan duduk di samping Raffa.
"Bang, aku yakin cintamu hanya untukku. Dengan kepercayaan yang aku berikan sama kamu, kamu bisa bantu dia, yang mungkin saat ini butuh bantuan ekonomi," ujar Kayla.
Kayla juga merasa kasihan pada Zahra. Kayla dapat merasakan pahitnya kehidupan yang dijalani oleh Zahra. Dia tidak tega melarang Raffa untuk berbuat baik pada gadis malang itu.
Raffa menatap dalam istrinya.
"Ya Allah, kamu tidak hanya memberikanku seorang pendamping. Namun, Kau telah menghadirkan seorang bidadari berhati malaikat," gumam Raffa di dalam hati.
"Mhm, tapi, Sayang," bantah Raffa.
"Anggap saja kita membantu orang yng membutuhkan pertolongan kita," pinta Kayla.
"Baiklah, aku akan membantunya tapi tidak secara langsung," ujar Raffa.
Kayla mengernyitkan dahinya bingung.
"Kamu enggak usah pusing, nanti masalah Zahra aku akan minta bantuan Raymond untuk memberikan gaji lebih untuknya," jelas Raffa saat melihat istrinya tampak bingung.
"Memangnya dia kerja di kafe?" tanya Satya menyela pembicaraan Raffa.
"Iya," jawab Raffa.
"Oh," lirih Satya.
Satya juga mengerti bagaimana cinta Raffa pada gadis kecilnya, karena selama ini Satya sudah berusaha keras mencari Zahra sejak Raffa duduk di bangku SMA.
"Bro, hari senin kita mau berangkat ke Padang. Lu sama Rayna bisa ikut, kan?" tanya Raffa pada Satya mengalihkan pembicaraan.
Raffa sengaja tidak banyak membahas Zahra di depan Kayla untuk menjaga istrinya.
"Mhm, gue tanya Ayah sama Ibu dulu. Kalau mereka
mengizinkan kami akan ikut."Satya menjawab pertanyaan Raffa.
"Kondisi Rayna sekarang bagaimana?" tanya Raffa.
Dia memang tidak terlalu mengetahui keadaan Rayna saat ini.
"Rayna saat ini sudah semakin membaik, tapi masalahnya ada orang yang selalu mengincar Rayna. Gue harus ekstra hati-hati menjaganya," jelas Satya pada Raffa.
"Tapi bisa, kan di bawa ke Padang?" tanya Raffa pada Satya.
"Bisa," jawab Satya mengangguk.
"Mas, kita jalan keluar, yuk!" ajak Rayna tiba-tiba datang dan ikut nimbrung bersama mereka.
"Ke mana?" tanya Kayla semangat.
Raffa dan Satya saling melempar pandangan heran melihat istri mereka yang sangat kompak.
"Enggak tahu, aku sih terserah aja," jawab Rayna santai.
"Bang, kita keluar, yuk cari makan," ajak Kayla pada suaminya merengek manja.
"Hah? Makan lagi?" tanya Raffa memastikan telinganya tidak salah dengar.
__ADS_1
"Iya, Bang. Aku lapar," rengek Kayla.
Raffa menggelengkan kepalanya tidak percaya, karena sepanjang perjalanan dari Jakarta mereka sering berhenti karena Kayla yang selalu merasa lapar.
"Kalau Bang Raffa enggak mau, aku ikut Rayna sama Satya saja," sungut Kayla mulai merajuk.
"Ya udah kita ke kafe aja, ya," ajak Raffa yang tahu istrinya sangat menyukai masakan di SatRa's kafe.
"Ya udah, yuk!" Satya pun berdiri.
Mereka pun melangkah keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil.
Satya dan Rayna duduk di bangku depan, karena Satya yang akan melajukan mobilnya. Sementara itu Kayla dan Raffa duduk di bangku belakang.
Satya melajukan mobilnya menuju SatRa's kafe terdekat dari rumah keluarga Bramantyo.
"Di Bandung juga ada SatRa's kafe, Bang?" tanya Kayla pada suaminya saat mereka hendak masuk ke dalam kafe.
Kayla sempat membaca nama kafe yang mereka masuki.
"Di Bandung ada 3 cabang," jawab Raffa jujur.
"Oh, kalian berdua memang hebat," puji Kayla.
Satya dan Raffa hanya tersenyum mendengar pujian dari Kayla.
Mereka masuk ke dalam kafe dan memesan makanan kesukaan Kayla.
"Kak, kamu sehat, kan?" tanya Rayna heran melihat pesanan makanan kakaknya yang di luar batas normal.
"Aku lapar, Dek," jawab Kayla santai.
Satya dan Rayna tampak heran melihat Kayla yang menyantap makanan yang dipesannya tadi dengan lahapnya.
"Ya ampun, kak. Nanti kamu bisa gendut kalau makan sebanyak itu," ujar Rayna mengomentari sang kakak.
****
Raffa dan Kayla berangkat ke Padang setelah menghabiskan waktu liburan di Bandung selama 3 hari.
Satya dan Rayna juga ikut ke Padang karena Arumi memaksa Satya untuk pulang dengan alasan dia kangen sama Rayna.
Satya pun mengikuti permintaan ibu angkatnya.
"Mama kangen sama kalian, Sayang," ujar Arumi saat anak-anak dan menantunya baru sampai di rumah keluarga Surya.
Arumi memeluk tubuh Kayla dan Rayna secara bergantian.
Dia menyayangi kedua menantunya tersebut tanpa ada pilih kasih karena baginya Raffa dan Satya adalah putra-putranya.
"Kayaknya mama sekarang lebih sayang sama menantunya dari pada kita," ujar Raffa menyindir Arumi yang lebih merindukan menantunya.
"Iya, nih," sahut Satya menyetujui ucapan Raffa.
Arumi tersenyum melihat kedua putranya mulai protes dengan perhatian Arumi yang berlebih pada kedua menantunya.
"Ya iyalah, kalian itu kalaupun pulang selalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis kalian. Kalau menantu mama, mereka dengan senang hati menemani mama pergi arisan atau ke salon," jawab Arumi dengan senyuman di wajahnya.
"Oh itu alasan mama lebih sayang sama menantu mama? Iya deh, kami bisa mengerti. Kalau aku sama Satya kan enggak bisa dibawa seru-seruan di salon," ujar Raffa menggoda wanita yang sudah melahirkannya.
__ADS_1
"Hahaha," Kayla dan Rayna tertawa mendengar perdebatan ibu dan anak itu.
"Ayo, kita makan dulu. Mama udah suruh Bi Sari buat siapkan makanan kesukaan kalian," ajak Arumi.
"Iya, Ma. Aku sudah lapar," sahut Kayla bersemangat.
Mereka pun melangkah ke ruang makan tanpa Surya karena kepala keluarga rumah itu masih berada di kantor.
"Wah, makanannya lezat semua, Ma," seru Kayla saat melihat berbagai menu makanan yang tersedia di atas meja.
"Ya udah, yuk kita makan!" ajak Arumi.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing bersiap untuk makan siang.
"Ini enak sekali, Ma," seru Kayla bersemangat menyantap makan siang bersama.
Arumi mengernyitkan dahinya saat melihat menantunya menyantap makanan dengan lahapnya seperti orang tidak makan berhari-hari.
"Sayang," lirih Arumi menyentuh lembut lengan Kayla yang duduk tepat di sampingnya.
Arumi merasa aneh dengan sikap Kayla yang tidak biasanya makan sebanyak itu.
Seketika Kayla menghentikan kegiatan makannya.
"Ada apa dengan kamu?" tanya Arumi heran melihat menantunya.
Kayla bingung mendapat pertanyaan aneh dari ibu mertuanya.
"Aku baik-baik saja, Ma." Kayla menjawab dengan santai.
Arumi teringat sesuatu.
"Sayang, apa jangan-jangan kamu,--" Arumi menggantung ucapannya karena dia tengah berpikir bagaimana menyampaikan pendapatnya pada anak dan menantunya.
Raffa menghentikan kegiatan makannya. Dia mulai khawatir dengan apa yang akan disampaikan oleh ibunya.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ