Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 120


__ADS_3

Kayla membungkuk mengambil benda yang baru saja jatuh ke lantai.


Tatapan mata Raffa tak beralih dari benda yang kini dipegang oleh istrinya.


"Boleh aku lihat?" tanya Raffa menengadahkan tangannya di hadapan Kayla.


Kayla memberikan benda itu pada Raffa.


Deg.


Jantung Raffa mulai berdegup dengan kencang.


"Milik siapa ini?" tanya Raffa penasaran.


"Mhm," gumam Kayla.


Kayla pun duduk di atas tempat tidur tepat di samping sang suami.


Kayla kembali meminta benda yang ada di tangan suaminya. Dia menatap dala pada benda tersebut yang dia sendiri tak mengerti arti benda itu bagi dirinya.


"Sebelum ayah Bram meninggal, beliau berpesan dia menyimpan sesuatu yang penting untukku." Kayla mulai menceritakan yang selam ini dipendamnya pada sang suami.


"Ayah berharap aku bisa menemukan keluarga kandungku dengan benda yang disimpannya itu. Setelah pemakaman ayah, aku langsung menuju ruang kerja ayah untuk mencari benda yang dimaksud ayah. DI sana aku menemukan album dan kalung ini," ujar Kayla.


Kayla menghela napasnya panjang.


Raffa yang melihat sang istri masih ingin menyampaikan sesuatu, dia memilih untuk diam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh istrinya.


"Kamu masih ingat, Bang. Liburan kemarin kita sempat main ke rumah bunda Hurry, saat itu Bunda Hurry memperlihatkan padaku semua foto-foto Ara sewaktu kecil, di saat itu aku merasa foto-foto itu tak asing bagiku. Foto yang kulihat di rumah Bunda Hurry sama persis dengan foto yang ada di album tersebut. Saat itu, Ibu Rita masuk ke dalam ruang kerja Ayah Bram, dan aku sempat menanyakan siapa dua gadis yang ada di album itu, dia mengatakan bahwa yang di album tersebut adalah aku dan Rayna, makanya aku ingin bertemu kembali dnegan bunda Hurry untuk mempertanyakan hal ini," ujar Kayla menyelesaikan ceritanya.


"Lalu kalung ini?" tanya Raffa.


"Aku juga tidak tahu sepenting apakah kalung itu untukku, hanya saja menurut cerita Bang Agung. Aku sangat menyukai Kalung itu sewaktu aku masih kecil," jawab Kayla.


Kayla mulai mencermati kalung yang tali yang berwarna hitam, dan di sanan terdapat mainan dengan inisial ZR.


"Semenjak aku melihat kalung ini, entah mengapa aku merasa sangat menyukai kalung ini. Ingin aku pakai tapi sudah kekecilan, hehe," ujar Kayla lagi diiringi dengan kekehan kecil.


"Mhm jangan-jangan Kayla adalah Zahra?" gumam Raffa di dalam hati.


Raffa termenung,pikirannya jauh terbang entah ke mana.


Kayla mengalihkan pandangannya pada sang suami.


"Bang," panggil Kayla heran melihat suaminya menatap kosong ke depan.


"Eh," lirih Raffa tersentak dari lamunannya.


"Kamu lagi mikirin apa, Bang?" tanya Kayla penasaran.


"Mhm, enggak mikirin apa-apa kok," jawab Raffa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tak terasa waktu maghrib pun masuk, pasangan suami istri itu pun bersiap-siap untuk melaksanakan kewajiban shalat tiga rakaat.

__ADS_1


"Sayang, kita makan di kafe aja, ya," ajak Raffa pada istrinya.


Mereka baru saja sampai di Jakarta. Raffa tidak mau merepotkan istrinya untuk memasak.


"Boleh," ujar Kayla setuju dengan usulan sang suami.


"Ya udah aku panasin mobil dulu, ya,"ujar Raffa.


"Enggak usah pake mobil, kita jalan aja. Kafe kan dekat dari rumah kita," ujar Kayla.


"Kamu yakin enggak capek jalan?" tanya Raffa pada istrinya.


"Yakin, lagian kayaknya seru kalau kita JJM," ujar Kayla dengan ekspresi yang menggemaskan.


"Hah? JJM? Apa itu?" tanya Raffa bingung.


"Jalan-jalan malam, Bang," jawab Kayla tertawa kecil.


Raffa pun mencubit hidung Kayla karena gemas melihat sang istri.


"Dasar, kamu ini ada-ada saja," ujar Raffa.


"Hehe." Kayla memamerkan senyumannya yang indah paa sang suami.


"Ya udah, yuk siap-siap," ajak Raffa.


Mereka pun berdiri, Kayla membuka mukenanya dan melipat alat sembahyangnya dengan rapi.


Raffa dan Kayla pun mulai keluar dari rumah mereka. Jarak rumah yang dibeli Raffa dengan kafe SatRa's hanya sekitar 2 km. Makanya Kayla memilih jalan dari pada naik mobil sekaligus dia ingin menikmati suasana malam di Jakarta bersama sang suami.


Raffa menggandeng tangan istrinya, dia tidak ingin melepaskan genggaman itu.


"Bang, kamu tahu, enggak?" Kayla mulai membuka topik pembicaraan.


"Apa?" tanya Raffa menoleh pada istrinya.


"Saat ini aku masih bersedih kehilangan Ayah Bram, tapi di sisi lain aku bahagia sudah menemukan keluarga kandungku," ujar Kayla.


"Inilah yang namanya hidup di atur oleh sang Khalik, kita sebagai hamba hanya bisa menjalaninya. Dalam kita kehilangan Allah menghadirkan yang lain dalam hidup kita," ujar Raffa menanggapi sang istri.


"Aku hanya berpikir, kenapa ayah Bram memberi tahuku di saat dia ingin pergi meninggalkanku?" lirih Kayla sendu.


Raffa merangkul pundak sang istri.


"Takdir tak ada yang tahu, kita tidak tahu apa alasan Ayah Bram menyembunyikan hal ini dari kamu, tapi yang penting sekarang kamu sudah berjumpa dengan keluarga kandungmu. Di saat Ayah Bram pergi, Allah langsung menggantinya dengan Ayah Hendra yang juga sangat menyayangimu," ujar Raffa menghibur sang istri.


Sepasang suami istri itu pun terus melangkah menyusuri trotoar yang mulai sepi pejalan kaki, di saat Kayla melangkah dia tidak memperhatikan jalannya hingga hampir saja dia masuk ke dalam lubang got yang terbuka.


"Sayang, awas!" teriak Raffa.


Raffa langsung menarik tubuh sang istri hingga Kayla jatuh dalam pelukannya.


"Alhamdulillah," lirih Raffa.

__ADS_1


Dia bersyukur sang istri tidak jatuh ke dalam lubang got yang terbuka itu.


Kayla yang panik dan takut mencoba mengatur napasnya di dalam pelukan sang suami.


"Dasar ceroboh! Aku sudah bilang sama kamu untuk selalu hati-hati dan jangan ceroboh!" Raffa memarahi Kayla.


Kayla mendongakkan kepalanya, dia melihat wajah sang suami yang kini sedang marah padanya.


Raffa membuang pandangannya ke arah lain menunjukkan kalau dia kesal pada istrinya yang selalu ceroboh.


"Maaf," lirih Kayla menyadari kesalahannya.


"Sayang, kenapa sih, kamu itu ceroboh sekali. Kamu enggak ingat di dalam rahim kamu itu ada tiga nyawa yang harus kamu jaga," ujar Raffa dengan nada mulai merendah.


"Iya, maafkan aku. Aku tahu aku salah," sesal Kayla.


"Untuk hal seperti ini kamu tidak cukup dengan hanya meminta maaf, untuk ke depannya kamu harus hati-hati di mana pun dan kapan pun. Kamu tak hanya menjaga dirimu tapi menjaga buah cinta kita," gerutu Kayla masih meluapkan kekesalannya.


"Iya, untuk ke depannya aku akan berusaha untuk hati-hati," lirih Kayla menunduk menyadari kesalahannya.


Entah kenapa, tiba-tiba Kayla pun menangis. Kemarahan Raffa membuat hatinya bersedih.


Raffa melihat istrinya yang sedang menangis.


"Lho, kamu kenapa nangis?" tanya Raffa panik.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2