
"Kamu menangis?" tanya Raffa lagi.
Kayla bergegas menghapus buliran bening yang sudah mulai membasahi pipinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Raffa lagi mulai khawatir.
Kayla menoleh ke arah sang suami, dia menatap dalam wajah tampan milik suaminya.
Dia sadar pengorbanannya saat itu membawanya dalam kebahagiaan yang tak terhingga.
Pria yang awalnya menolak akan kehadiran dirinya kini sangat mencintainya dengan sepenuh jiwa dan raganya.
Kayla menangkupkan wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya.
"Terima kasih, Sayang. kamu sudah menjadi orang yang yang sangat berharga dalam hidupku," ujar Kayla terharu.
Raffa heran melihat sikap istrinya.
Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Raffa lagi.
"Tidak apa-apa, Bang. Aku hanya teringat dengan pernikahan kita, walaupun awalnya luka yang aku rasakan tapi kini aku bahagia bisa hidup bersamamu," ujar Kayla.
Raffa pun langsung memeluk tubuh ibu dari calon ketiga anak-anaknya.
"Aku bersyukur saat itu kamu mau menggantikan Irene sebagai calon pengantin wanita, jika tidak aku akan menyesal seumur hidupku." Raffa juga kembali mengingat memori yang terjadi setahun yang lalu.
Di tempat lain Raymond menarik tangan Alita ke sebuah meja yang jauh dari keramaian.
"Ray, hentikan!" bisik Alita dengan suara penuh penekanan.
"Ikut aku sekarang juga atau aku akan memberitahukan ke semua orang bahwa kamu adalah kekasihku," ujar Raymond mengancam.
Awalnya Alita ingin menolak, tapi mendengar ancaman dari Raymond dia juga tidak ingin menjadi sorotan mata para tamu, akhirnya dia pun mengikuti langkah mantan bosnya itu.
"Kamu ngapain tarik-tarik aku seperti ini?" tanya Alita kesal pada Raymond.
"Aku hanya ingin bicara," jawab Raymond.
"Bicara apa?" tanya Alita ketus.
"Hei, kenapa kamu sekarang jutek begitu padaku?" tanya Raymond heran melihat tingkah Alita.
"Suka-suka aku, aku malas ngomong sama kamu," ketus Alita menjawab pertanyaan Raymond.
"Kamu kenapa berubah sama aku, Al? Waktu kerja di kafe kamu baik banget sama aku." Raymond mempertanyakan perubahan sikap Alita terhadap dirinya.
"Karena kamu juga berubah terhadap aku," jawab Alita santai.
"Aku Berubah?" tanya Raymond heran.
__ADS_1
"Iya, kamu berubah. Kamu pasti ada niat lain baik terhadap aku," gumam Alita di dalam hati.
"Kenapa diam?" tanya Raymond yang semakin heran dengan Alita.
"Enggak ada," jawab Alita ketus.
"Ya sudah, kamu mau kan temani aku makan dan minum di sini?" tanya Raymond memohon.
"Ya udah," ujar Alita.
"Yuk, kita ambil makanan dulu, " ajak Raymond.
"Atau kamu yang mengambilkan untukku?" tanya Raymond sambil menarik turunkan alisnya.
Alita menatap kesal ke arah Raymond. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengikuti kemauan mantan bosnya.
Alita berdiri lalu dia melangkah menuju meja prasmanan yang di sana terhidang berbagai menu makanan yang menggugah selera.
"Alita mengambilkan dua piring makanan. Dia tak lupa menaburi merica yang banyak di atas piring yang akan diberikannya pada Raymond.
"Nih," ujar Alita sambil menyerahkan piring yang sudah diberi jebakan untuk Raymond.
Raymond mengambil piring itu, lalu meletakkan di atas meja tepat di hadapannya.
"Al, sepertinya kamu melupakan sesuatu," ujar Raymond pada Alita.
"Apa?" tanya Alita merasa tidak kekurangan apa-apa.
Alita pun kembali berdiri, dia melangkah menuju meja yang di sana terdapat botol minuman serta minuman segar lainnya.
Alita membawakan dua gelas es jeruk serta dua botol air mineral.
Dia meletakkan minuman tersebut di atas meja tempat Raymond sudah menunggunya.
"Terima kasih," ucap Raymond senang.
Alita hanya tersenyum terpaksa. Dia tidak memiliki jalan lain untuk bisa menjauh dari pria yang pernah menjadi bosnya.
Untuk saat ini lebih baik dia mengalah dari pada semua keluarga percaya dengan ocehan Raymond yang mengada-ada.
Hal itu akan merusak rencananya untuk bisa mendapatkan Raffa.
"Ya sudah, ayo kita makan!" ajak Raymond pada Alita.
Terlihat Raymond tersenyum smirk melirik ke arah Alita.
Alita pun dengan cuek mulai. menikmati makanannya, kebetulan rasa lapar sudah mulai menyerangnya, dia melahap makanan tersebut tanpa memperdulikan rasa yang masuk ke dalam mulutnya.
Tak beberapa lama.
__ADS_1
"Hah, huhah." Alita merasakan mulutnya terbakar.
Rasa pedas kini menjalar di seluruh rongga mulut dan kerongkongannya.
Dia langsung menyambar segelas es jeruk yang ada di hadapannya, tak cukup dengan segelas es jeruk, dia juga menyambar es jeruk milik Raymond.
"Hei, ada apa?" tanya Raymond pura-pura tak tahu apa-apa.
Raymond masih asyik menyantap makanan yang ada di dalam piringnya dengan santai tanpa merasakan pedas yang berlebihan.
Alita tak menghiraukan pertanyaan Raymond. Dia masih berusaha menghilangkan rasa pedas yang membakar rongga mulutnya.
"Kamu kenapa, Al. Masih butuh minum?" tanya Raymond lagi.
Raymond berusaha menyimpan tawanya di dalam hati.
Wajah Alita yang kini sudah memerah bertambah merah padam menahan amarah pada pria yang kini berada tepat dihadapannya.
"Kamu keterlaluan, menyebalkan!" gerutu Alita penuh penekanan.
Alita menatap tajam ke arah pria menyebalkan dalam hidupnya.
"Hei, kenapa kamu marah padaku?" tanya Raymond pada gadis yang kini tengah dilanda emosi yang membara.
"Kamu enggak usah pura-pura tidak tahu. Kamu pasti sudah mengganti piringku dengan piringmu!" bentak Alita dengan nada yang tidak terlalu keras.
Alita tidak mau menjadi tontonan gratis oleh para tamu yang hadir dalam acara pernikahan Abangnya.
"Hei, ini makanan kamu yang ngambil. Bukan aku," bantah Raymond mencoba membela diri.
"Dasar breng*sek, seharusnya kamu yang merasakan pedasnya, tapi kenapa jadinya senjata makan tuan?" gerutu Alita di dalam hati.
Alita masih saja menatap Raymond dengan tatapan tajam, sedangkan yang ditatap hanya bersikap santai tanpa bersalah.
Raymond sempat melihat Alita memberikan bubuk merica sekilas dari kejauhan saat Alita memasukkannya ke dalam piring Raymond.
Jadi, di saat Alita mengambil minuman, Raymond sengaja menukar piring yang ada di atas meja.
Raymond sengaja melakukan hal itu untuk memberikan efek jera pada Alita, bukan dia tidak merasa kasihan pada gadis itu, tapi dia ingin mendidik dan mengajari Alita untuk tidak terbiasa berbuat jahat.
Raymond sudah mengetahui semua tentang Alita dari Alex, satupun tidak ketinggalan diceritakan Alex padanya mengenai Alita termasuk obsesi Alita untuk mendapatkan Raffa suami dari kakak kandungnya.
Alex juga sudah mengizinkan Raymond untuk melakukan apa saja yang menurutnya baik, sehingga Raymond bisa mendidik dan merubah Alita menjadi lebih baik.
Alex tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memantau Alita, itu pun tidak bisa dilakukannya setiap saat karena Alex juga memiliki kesibukan sendiri.
"Kamu menyebalkan, Ray," ujar Alita setelah rasa panas di mulutnya sudah reda.
"Ingat, Al. Hari ini menyebalkan suatu saat nanti kamu pasti menyukaiku," gumam Raymond di dalam hati sambil menatap dalam pada gadis yang terlihat kesal padanya.
__ADS_1
Bersambung...