
Raymond terus melangkah, dia tidak mengetahui bahwa istrinya terjatuh.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Rio.
"Kayaknya kakiku terkilir," jawab Alita merintih menahan sakit.
"Sini, coba aku lihat," ujar Rio.
Rio pun menyentuh pergelangan kaki Alita yang kini terlihat memar.
Rio memijat kaki Alita dengan pelan, di saat itu Raymond menyadari istrinya tak berada di belakangnya.
Mata Raymond menangkap istrinya tengah disentuh oleh pria yang tidak dikenalnya.
Hatinya langsung memanas, dia bergegas melangkah mendekati istrinya.
Brukk, Rio terjatuh setelah mendapat tendangan dari Raymond.
"Rio!" pekik Alita cemas.
"Beraninya kau menyentuh istriku!" bentak Raymond.
“Istri,” lirih Rio sambil menyentuh bibirnya yang terluka karena sepatu Raymond tepat mengenai sudut bibirnya.
Raymond kembali ingin menghajar Rio, dia sudah bersiap mengangkat tangannya ingin memukul pria yang sudah berani menyentuh tubuh istrinya.
“Stop! Hentikan!” pekik Alita menghentikan gerakan sang suami.
Seketika Raymond menghentikan gerakannya, tangannya kini masih melayang di udara. Dia membalikkan tubuhnya, dia melihat Alita masih menahan rasa sakit akibat kakinya yang terkilir.
Raymond bergegas mendekati Alita.
“Kamu kenapa? Apa yang dilakukan pria itu padamu?” tanya Raymond pada Alita.
“Entahlah,” lirih Alita.
Alita berusaha berdiri, dengan susah payah akhirnya dia mampu berdiri. Dia melangkah perlahan, dengan tertatih dia meninggalkan Raymond.
Alita merasa malu dengan perlakuan Raymond pada Rio, temannya. Ditambah saat ini mulai banyak mata yang melihat perbuatan Raymond pada Rio.
“Al!” panggil Raymond dan Rio bersamaan.
Alita tidak menghiraukan panggilan kedua pria itu. Raymond bergegas mengejar langkah sang istri begitu juga dengan Raymond.
“Hei! Apa urusanmu dengan istriku?” Raymond menghadang Rio yang mencoba mengikuti langkah Alita.
“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” jawab Rio pelan.
__ADS_1
Ada rasa takut menyelinap di hatinya. Mengingat postur tubuh Raymond dan dirinya tidak sebanding.
“Semua tentang istriku bukan urusanmu!” ujar Raymond tegas sambil meruncingkan telunjuknya tepat di wajah Rio.
Rio pun terdiam, dia tak lagi banyak bicara. Melihat ekspresi Rio yang ketakutan, Raymond langsung meninggalkan pemuda yang tidak dikenalnya itu.
Raymond berusaha mengejar Alita yang masih tertatih melangkah. Raymond langsung mengangkat tubuh sang istri, dia menggendong tubuh mungil istrinya lalu melangkah keluar dari mall.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Alita protes dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
“Aku sedang membantu istriku yang sedang kesulitan berjalan,” jawab Raymond.
“Turunkan aku,” ujar Alita berusaha menolak bantuan dari sang suami.
“Diamlah, aku tidak akan menurunkanmu.” Raymond terus melangkah sambil menggendong istrinya.
Beberapa mata memperhatikan sikap Raymond terhadap sang istri. Beberapa wanita yang berstatus jomblo menatap Raymond kagum. Seketika jiwa jomblo mereka meronta dan berharap memiliki pasangan seromantis Raymond.
Kini mereka tengah berada di eskalator turun ke lantai satu, Raymond masih kuat menggendong sang istri. Bersyukur Raymond sudah terbiasa berolah raga sehingga kekuatannya untuk menggendong sang istri tidak diragukan lagi.
Alita menatap wajah tampan yang kini berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya, Lagi dan lagi Alita terpesona dengan aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh sang suami. Napas segar yang dihembuskan sang suami berhasil membuat ALita terbuai ke langit yang ke tujuh.
“Ya ampun, ternyata suamiku ini benar-benar tampan. Sosok yang sangat diincar oleh para wanita, tapi kamu itu menyebalkan,” gumam Alita di dalam hati.
Alita yang awalnya mulai mengagumi sosok sang suami langsung menepis kekagumannya mengingat sikap Raymond yang menurutnya selalu menyiksa dirinya.
Mereka hanyut dalam pandangan yang kini mereka sendiri tidak tahu makna tatapan itu.
Raymond hanyut dalam tatapan Alita, dia melihat benih-benih cinta yang tumbuh di mata sang istri. Raymond ingin mengecup bi*ir sang istri. Alita yang juga menginginkan hal itu mulai memejamkan matanya.
Teeeth.
Terdengar bunyi klakson mobil yang baru saja masuk ke area parkir, membuat sepasang suami istri itu tersadar dari buaian cinta yang mulai menyelimuti hati mereka.
“Mhm,” gumam Raymond mulai canggung.
Wajah Alita seketika berubah warna menjadi merah karena menahan malu, dia kedapatan mulai menyukai pria yang kini sudah sah sebagai suaminya.
Raymond langsung berdiri.
“Auww,” pekik Raymond saat kepalanya terbentur pintu mobil.
Dia juga merasa malu dengan apa yang akan dilakukannya. Raymond mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit akibat terbentur pintu mobil. Lalu dia melangkah menuju pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil.
Raymond langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkiran mall menuju rumah Raymond yang terletak tak jauh dari kafe Satra cabang Jakarta Selatan. Salah satu kafe cabang yang dikelolanya.
Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, mereka hening dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku saat ini? Apakah aku sudah mulai jatuh cinta padanya?” gumam Alita di dalam hati.
“Astaghfirullah, memalukan sekali.” Raymond merutuki dirinya di dalam hati karena dia ingin menci*um bibir sang istri.
“Tapi, seingatku tadi dia hendak memejamkan matanya. Apa jangan-jangan dia sudah mulai mencintaiku?” gumam Raymond di dalam hati.
Saking sibuk merutuki dirinya yang hampir jatuh cinta pada Raymond, Alita pun merasa lelah hingga akhirnya dia pun lelah dan tertidur di dalam mobil sebelum mereka sampai di rumah.
Raymond memarkirkan mobilnya di depan rumah, dia menoleh ke arah sang istri yang kini sudah tertidur di bangku sampingnya.
Raymond tersenyum, lagi-lagi dia bersiap-siap untuk mengangkat sang istri masuk ke dalam rumah.
Raymond kembali menggendong Alita masuk ke dalam rumah, mereka masih tidur terpisah atas permintaan Alita berhubung di rumah itu ada banyak kamar dan hanya mereka berdua yang tinggal di sana.
Raymond membawa Alita ke dalam kamarnya, lalu membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Raymond melepaskan sepatu yang dikenakan istrinya saat itu dia dapat melihat kaki istrinya yang memar.
“Kenapa kaki Alita?” gumam Raymond bertanya-tanya di dalam hati.
“Apakah ini semua ada hubungannya dengan pria tadi yang bersama Alita?” gumam Raymond lagi di dalam hati.
Raymond bersiap-siap keluar dari kamar Alita, mereka sudah sepakat tidak akan tidur satu kamar hingga batas waktu yang tidak ditentukan semua ini atas permintaan Alita.
Raymond menyetujui permintaan Alita karena dia tidak ingin menuntut haknya sebagai suami di saat istrinya belum mencintainya.
Namun, di saat dia berdiri Alita menarik tangan suaminya. Raymond menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
Dia melihat mata ALita yang masih terpejam rapat, dia menautkan kedua alisnya heran dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.
“Ray,” lirih Alita menyebut nama sang suami.
Raymond pun terdiam dia menatap dalam pada wajah polos sang istri yang kini masih tertidur dengan pulasnya.
Raymond mencermati setiap inci wajah sang istri, kali ini dia dapat melihat wajah polos sang istri. Tak ada dendam dan kebencian yang terpancar dari sana.
“Apakah Alita sudah berubah?” lirih Raymond.
“Ray, kenapa kamu selalu jahat padaku?” lirih Alita dalam tidurnya.
“Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu selalu bersikap kejam terhadapku? Hah?” lirih Alita lagi.
Raymond tersenyum mendengar ocehan Alita di dalam tidurnya. Raymond tidak bisa menahan diri, akhirnya dia memilih tidur di kamar Alita. Dia membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
Raymon pun merentangkan tangannya, tiba-tiba Alita berpindah ke dalam pelukan sang suami.
“Aku bisa saja jatuh cinta padamu, tapi kamu harus merubah sikapmu padaku,” lirih Alita lagi.
Raymond hanya tersenyum lalu membiarkan Alita tertidur pulas di dalam pelukannya. Dia semakin senang saat Alita juga membalas pelukannya.
__ADS_1
Bersambung...