
“Ka-kamu,” lirih Rayna.
Dia tak menyangka akan bertemu dengan temannya yang sudah mengkhianatinya.
“Kamu apa kabar, Ray?” tanya Sandra santai tanpa ada perasaan bersalah terhadap Rayna.
“Baik,” lirih Rayna.
Rayna berdiri dan mencari tempat kosong lainnya, dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Sandra di dekatnya.
“Permisi,” lirih Rayna sebelum meninggalkan Sandra.
Sandra pun mengernyitkan dahinya melihat sikap Rayna yang dingin terhadapnya.
“Ada apa dengan Rayna?” tanya Sandra di dalam hati.
Dia masih merasa tak bersalah sama sekali.
Tak berapa lama, dosen pun datang. Sandra mengabaikan sikap Rayna terhadap dirinya, mereka pun mulai belajar. Di hari pertama kuliah, Rayna mencoba mengikuti hingga materi kuliah pun usai.
Satu per satu mahasiswa keluar dari kelas itu mengiringi langkah dosen yang keluar dari kelas. Sementara itu Rayna masih duduk diam di bangkunya, dia tidak berniat keluar dari kelas. Dia masih memiliki jadwal kuliah berikutnya jam setengah sebelas. Itu artinya saat ini Rayna memiliki waktu untuk istirahat.
Rayna mengambil ponselnya, dia membuka pesan whatsapp untuk mengetahui posisi sang suami. Saat ini Satya masih berada di dalam perjalanan.
Satya selalu mengabari Rayna setiap satu jam sekali, hal ini membuat Rayna merasa terharu. Sikap dan perlakuan suaminya membuat dirinya penuh berarti dalam hidup pria itu.
Saat Rayna asyik membuka ponselnya tiba-tiba..
“Hai, boleh duduk di sini?” seorang mahasiswi datang mendekati Rayna.
“Boleh,” jawab Rayna ramah.
“Kamu mahasiswi baru, kan?” tanya mahasiswi tersebut.
“Eh, iya.” Rayna mengangguk.
“Kenalkan, namaku Fitri,” gadis berhijab dengan gaya yang sederhana itu mengulurkan tangannya ke arah Rayna untuk mengajak Rayna berkenalan.
“Aku Rayna,” ujar Rayna sambil menyambut uluran tangan mahasiswi yang bernama Fitri itu.
“Kamu dari Bandung?” tanya Fitri mencoba menebak.
“Iya,” jawab Rayna.
“Jelas dari logat bicaranya,” ujar Fitri sok akrab.
“Kamu dari Bandung juga, ya?” tanya Rayna.
“Iya, aku juga dari Bandung,” jawab Fitri
Akhirnya merekapun terlibat percakapan saling memperkenalkan diri. Waktu istirahat mereka habiskan dengan saling mengenal satu sama lain, Rayna merasa senang di hari pertamanya bisa berkenalan dengan gadis yang ramah seperti Fitri. Rayna merasa nyaman bergaul dengan mahasiswi ramah itu.
“Fit, aku izin ke toilet dulu ya, kebelet,” bisik Rayna mulai akrab dengan Fitri.
“Oh ya udah,” sahut Fitri.
“Kamu tahu di mana toiletnya?” tanya Rayna.
“Di lantai 1 di bagian pojok, kamu mau aku temani?” tanya Fitri menawarkan diri.
__ADS_1
“Enggak usah, aku sendiri aja,” ujar Rayna merasa tidak enak merepotkan Fitri.
“Oh, ya udah,” lirih Fitri.
Rayna pun melangkah ke luar dari kelas menuju toilet, Fitri terus memandangi Rayna hingga dia keluar dari kelas.
Di toilet, Rayna tak sengaja berjumpa dengan Sandra.
“Eh, kamu, Ray?” sapa Sandra.
Rayna hanya menoleh ke arah Sandra yang berusaha bersikap manis di hadapan Rayna.
“Mhm” gumam Rayna malas menanggapi Sandra.
Rayna masuk ke dalam toilet lalu menyelesaikan hajatnya, setelah itu dia berniat keluar dari toilet, tapi Sandra masih berada di sana.
“Ray, kamu kenapa?” tanya Sandra heran dengan sikap Rayna yang tak mengacuhkan dirinya.
“Mhm, harusnya kamu tanya diri kamu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan padaku?” ujar Rayna tegas.
Dia tak ingin Sandra terus-terusan mengganggu dirinya.
“Maksud kamu apa, Ray?” Sandra pura-pura tidak mengetahui apa-apa.
“San, aku tak menyangka kamu bisa melakukan hal jahat padaku, untuk itu mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak usah sok akrab denganku, anggap saja kita tidak pernah kenal,” ujar Rayna tegas.
Dia berusaha bersikap berani di hadapan Sandra agar gadis itu berhenti mengganggunya. Rasa bencinya pada Sandra membuat Rayna tidak ingin berlama-lama berad di dekat mantan sahabatnya itu.
Rayna keluar dari toilet, dia malas meladeni Sandra.
“Ray, tunggu!” teriak Sandra.
Rayna langsung mempercepat langkahnya, dia berlari ketakutan. Dia takut Sandra akan terus-terus mengganggunya. Dia tidak mau traumanya kembali datang. Rayna menguatkan dirinya agar tidak lemah.
“Hallo,” ujar Satya langsung mengangkat panggilan dari istrinya.
“Mas, di sini aku bertemu Sandra,” seru Rayna mulai cemas.
“Apa? Sandra juga kuliah di sana?” tanya Satya ikut panic.
“Iya, bahkan dia satu kelas sama aku, Mas.” Rayna langsung menceritakan apa yang terjadi pada sang suami.
“Oke, kamu tenang dulu, ya. Tarik napas dalam-dalam, kamu usahakan kamu saat ini berada di kelas atau di tempat yang rame biar dia tidak bisa mengganggumu,” ujar Satya memberi arahan pada istrinya.
“Kamu tenang aja, nanti aku akan beritahu Kayla untuk datang ke kelas kamu,” ujar Satya.
“Iya, Mas,” lirih Rayna.
Setelah itu Rayna memutuskan panggilan. Dia langsung melangkah menuju kelas.
Sementara itu Satya langsung menelpon orang kepercayaannya untuk waspada dalam menjaga istrinya.
“Kamu kenapa?” tanya Fitri khawatir melihat wajah Rayna yang pucat.
“Mhm, enggak apa-apa,” lirih Rayna gugup.
Fitri langsung berdiri, dia merangkul Rayna.
“Kamu tenang, ya. Kalau ada apa-apa kamu cerita saja sama aku. Anggap saja saat ini aku adalah sahabatmu,” ujar Fitri lalu dia tersenyum.
__ADS_1
Fitri menggiring Rayna untuk duduk di bangku tempat dia tadi. Setelah itu, Fitri menyodorkan sebotol air mineral pada Rayna.
“Minumlah,” lirih Fitri.
Rayna mengambil botol minuman itu, lalu menenggak minuman yang diberikan oleh Fitri.
“Terima kasih, Fit,” ucap Rayna setelah dia mulai merasa tenang.
“Nanti kalau kamu mau ke mana pun, sama aku aja,” ujar Fitri.
“Aku udah enggak apa-apa. Aku enggak ngerepotin kamu,” ujar Rayna merasa tidak enak hati.
“Ray, anggap aja aku sahabat kamu. Aku senang berteman sama kamu,” ujar Fitri dengan tersenyum.
“Makasih ya, Fit,” ujar Rayna.
Baru saja dia mengenal wanita sederhana itu, Rayna sudah merasa nyaman berada di dekat Fitri. Rayna berharap Fitri bisa menjadi sahabatnya dan tidak mengkhianati kepercayaannya seperti Sandra.
Tak berapa lama Sandra masuk ke dalam kelas, dia melirik Rayna yang terlihat akrab dengan Fitri.
“Ngapain Rayna dekat-dekat wanita kampung itu,” gumam Sandra di dalam hati tidak suka.
****
Sebelum shalat dzuhur materi kuliah di kelas Rayna sudah usai, dia dan Fitri melangkah keluar dari kelas. Kayla meminta Rayna menunggunya di depan gedung. Fitri menemani Rayna menunggu sang kakak di gazebo yag terdapat di depan gedung Fakultas Syari’ah yang biasa di pakai oleh mahasiswa sebagai tempat mengerjakan tugas.
“Eh, itu kak Kayla,” tunjuk Rayna pada sang kakak.
“Mhm, aku duluan ya, Fit,” ujar Rayna.
“Oke, hati-hati, ya,” ujar Fitri.
Rayna berdiri dan melangkah menghampiri sang kakak, saat dia melintasi jalan, sebuah mobil van. Seseorang di mobil Van itu menarik tangan Rayna dan membawanya masuk ke dalam mobil itu.
“Rayna!” teriak Kayla panic.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏