Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 234


__ADS_3

Alex berdiri, dia melangkah keluar dari kamarnya lalu dia pun melangkah menuju kamar yang biasa digunakan Alita jika berada di rumah tersebut.


Mak Ijah sempat melihat Alex melangkah layu menuju kamar lain, Mak Ijah juga menangkap wajah pria tampan itu sembab karena menangis.


"Apa sebenarnya yang sedang terjadi antara Alex dan Irene? Ya Allah aku kasihan melihat Alex bersedih seperti itu.


****


Keesokan harinya, sesuai janji Agung pada istrinya. Sebelum dia berangkat mengurus beberapa urusan butik, Agung mengantarkan istri dan teman-temannya menuju kediaman Kayla.


"Sejak kapan Bang Agung mulai merintis usaha butik?" tanya Gita pada Agung di tengah salah salah perjalanan mereka menuju rumah Kayla.


"Mhm, lumayan lama juga sih, waktu aku masih duduk di bangku SMA Bunda baru mulai merintis usaha butiknya, awalnya Ayah menyarankan Bunda buka usaha butik karena Bunda sering mengeluh kesepian. kami yang sudah mulai dewasa sudah sibuk dengan dunia kami masing-masing, tapi karena Alex tidak tinggal di rumah jadi aku yang bantuin Bunda mengurus berbagai hal mengangkut urusan butik. maka jadilah sekarang aku dan Bunda yang mengurus butik tersebut," jelas Agung panjang lebar pada kedua sahabat istrinya.


"Biasanya kan yang ngurus butik itu perempuan, apa Bang Aku nggak merasa risih kalau ada di butik?" tanya Lisa penasaran.


"Awalnya aku di butik kan hanya bantu-bantu, bantu order barang, bantu ngambil barang, bantu nyusun barang, ya namanya bantu-bantu doang kok. menyangkut desain Dan lain-lainnya itu berurusan dengan Bunda jadi aku santai aja bantuin Bunda," jawab Agung simple.


"Tapi, kan Bang Agung dapat bagian dari bantu-bantu tersebut," celetuk Gita masih penasaran dengan jati diri suami sahabatnya.


"Awalnya aku memang bantuin Bunda tapi karena di butik ada beberapa karyawan yang membantu Bunda dan karyawan tersebut digaji oleh Bunda, akhirnya Bunda juga bagi hasil dari usaha butiknya ke aku, beliau bilang untuk tabungan aku di masa depan, padahal aku bantuin Bunda di sela-sela kuliah," jelas Agung lagi.


Agung mulai mengenal satu persatu sahabat istrinya, dia merasa kedua sahabat istrinya merupakan wanita yang ramah dan ingin tahu.


"Mhm, Bang Agung minat kerja yang lain selain di butik nggak sih?" tanya Gita.


Gita semakin penasaran dengan sosok suami dari sahabatnya itu, dia ingin tahu lebih dalam pribadi pria yang sudah mendampingi sahabatnya.


"Sebenarnya cita-citaku menjadi seorang dosen, tapi melihat Bunda mengurus butik seorang diri aku memilih untuk fokus bekerja di butik bersama Bunda," jawab Agung.


Dian sedari tadi hanya memandang suaminya yang menjawab berbagai pertanyaan dari sahabat-sahabatnya.


"Oh begitu," lirih Gita.


"Sayang, sepertinya aku sedang diinterogasi oleh kedua sahabatmu," ujar Agung pada sang istri yang duduk di sampingnya.


"Hahaha," tawa mereka pun pecah.


Terlihat kehangatan yang terjalin antara kedua sahabat Dian dengan suaminya.


Pribadi Agung dan Rafa tidak jauh berbeda, mereka sama-sama ramah dan tidak pendiam sehingga kedua sahabat Dian merasa nyaman ikut bersamanya.

__ADS_1


30 menit perjalanan mobil yang dikendarai oleh Agung pun berhenti di depan kediaman Raffa.


Gita, Lisa, dan Dian pun turun dari mobil. Sesuai kesepakatan Agung dan Raffa kemarin, Agung akan memakai mobil Raffa untuk menyelesaikan berbagai urusannya terlebih dahulu.


Berhubung hari Sabtu Rafa memilih untuk tetap berdiam di rumah, kebetulan Rafa ada seminar lewat zoom pagi ini sehingga dia tidak membutuhkan kendaraan.


"Sayang, aku langsung berangkat, ya." Agung pamit pada istrinya.


Sebelum itu, Dian sudah menyalami tangan sang suami. Agung sengaja tidak mengecup puncak kepala sang istri karena keberadaan Gita dan Lisa di sana.


"Ya udah, kamu hati-hati ya, Sayang," ujar Dian lirih.


Agung tersenyum lalu langsung melajukan mobil meninggalkan istri dan sahabatnya masuk ke dalam rumah Raffa.


"Assalamu'alaikum," ucap Gita, Lisa dan Dian serentak saat mereka sudah berada di depan pintu.


"Sepertinya, teman-teman aku sudah di sini, Ma, Bun. Aku ke depan dulu, ya," ujar Kayla.


Dia berdiri meninggalkan bunda dan mama Arumi yang selalu asyik bercerita di saat 3R sedang terlelap tidur.


Dua wanita berumur senja itu selalu kompak, karena mereka memang sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMA.


Pribadi dan sifat mereka yang hampir sama membuat mereka selalu akur dan kompak.


"Kangen!" pekik merdeka serentak.


Mereka saling berpelukan melepas kerinduan yang sudah membuncah karena sudah lama tidak bertemu.


"Apa kabar kalian?" tanya Kayla setelah melepas pelukan mereka.


"Baik, aku kangen banget loh sama kamu apalagi sama 3R," ujar Gita.


"Iya, Kay. Aku juga kangen lho sama kamu. Aku juga pengen ketemu sama keponakan aku yang chubby chubby itu," tambah Lisa bersemangat.


"Ayo, masuk," ajak Kayla.


Keempat wanita bersahabat itu pun melangkah masuk langsung menuju kamar 3R.


"assalamualaikum, Bunda, Mama," ucap mereka serempak.


Mereka pun menyalami Bunda Hurry dan mama Arumi secara bergantian.

__ADS_1


"Ya ampun, Mama kangen," seru Arumi semangat saat berjumpa dengan sahabat-sahabat Kayla.


Dia memeluk mereka satu per satu secara bergantian.


Begitu juga dengan Bunda Hurry, dia menyambut hangat kedatangan sahabat-sahabat Kayla.


Hurry dan Arumi yang tidak memiliki anak kandung perempuan merasa bahagia dikunjungi oleh teman-teman Kayla.


"Mama sama Bunda apa kabar?" tanya Gita basa-basi.


"Alhamdulillah, kami baik dan sehat," jawab Arumi.


"Terus papa sama Ayah ditinggal dong, Ma, Bun?" tanya Lisa membuka topik pembicaraan.


"Untuk sementara, seperti ini dulu. Tunggu Raffa selesai tesisnya, habis itu kembali ke Padang. Mereka akan tinggal di Padang, kalau Ayah dan Papa kangen sama kami mereka akan datang ke sini," jawab Mama Arumi.


"Kasihan mereka ya, Bun," celetuk Gita.


"Demi cucu," jawab Bunda Hurry.


Mereka tidak mau cucu mereka di asuh oleh baby sitter, maka mereka harus rela berkorban untuk sementara waktu.


"Aduh, baby baby aunty ngegemesin banget," seru Gita beralih pada sosok 3R yang mulai bangun.


"Gendong Aunty, ya," seru Lisa saat melihat Raja menggeliatkan tubuhnya.


Lisa langsung meraih Raja dan membawa bayi itu ke pangkuannya.


Semua mata pun beralih pada bayi-bayi lucu itu.


"Eh, mumpung kalian di sini, Mama sama Bunda menyiapkan makan siang dulu ya biar kita bisa makan siang bareng di sini," ujar Arumi dia ingin memberi ruang untuk sahabat-sahabatnya.


Arumi dan Hurry pun melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan siang bersama.


Kayla dan teman-temannya pun mulai mengobrol membahas berbagai hal saling melepas rindu.


Sebelum waktu makan siang tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah.


Kayla dan teman-temannya yang sudah berpindah ke ruang keluarga heran saat mendengar ketukan pintu dari luar rumah.


Kayla berdiri diikuti oleh Lisa dari belakang.

__ADS_1


Kayla membuka pintu rumah, mereka kaget tak percaya melihat tamu yang datang.


Bersambung...


__ADS_2