Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 137


__ADS_3

Raffa mendekati istrinya, dia menggenggam erat tangan sang istri.


“Sayang,” lirih Raffa.


Kayla terbangun, dia membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya.


“Di mana aku, Bang?” tanya Kayla pelan.


“Di rumah sakit, Sayang,” jawab Raffa dengan lembut sambil mengelus lembut puncak kepala istrinya.


“Bang, si-siapa Abi dan Ummi?” lirih Kayla meminta penjelasan.


Hurry menghampiri Kayla, dia menatap sendu pada putri sulung adik kandungnya yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.


“Sayang, kamu tenang dulu, ya. Bunda akan menceritakan semuanya,” ujar Hurry.


Akhirnya Hurry menceritakan kisah yang terjadi pada 15 tahun yang lalu, Hurry kembali menangis mengingat kisah yang memilukan itu.


“Setelah kepergian kedua orang tua kandungmu, Bunda merawat kalian seperti anak kandung Bunda, Bunda tidak pernah membedakan kalian dengan Agung maupun Alex. Bagi Bunda kalian adalah anak-anak Bunda,” ujar Hurry.


Wanita paruh baya itu pun mengusap air matanya setelah menyelesaikan cerita kisah 15 tahun yang lalu.


Kayla terdiam, dia terpukul dengan kenyataan hidup yang ditakdirkan Tuhan padanya. Dia merasa terlalu berat perjalanan hidup yang harus dijalaninya selama ini. Walaupun dia hidup nbahagia dan berkecukupan dengan Ayah Bram, tapi ternyata dia sudah tidak lagi emiliki orang tua kandung.


Satu hal yang membuat dirinya tak percaya, wanita yang menginginkan suaminya merupakan adik kandungnya sendiri.


Dirinya sudah menyakiti sang adik, dan adiknya menyakiti sang kakak. Kenapa dua kakak adik mencintai satu pria yang sama?


“Di mana Alita sekarang, Bun?” tanya Kayla.


Dia ingin berbicara dengan adiknya, dia tidak ingin masalah yang terjadi di antara dirinya dan sang adik semakin larut. DIa mengingat kedekatannya dengan Rayna yang sangat akrab walau tak ada hubungan darah apa pun, Kayla juga ingin dia bisa akrab dengan Alita.


Akifa yang juga berdiri di sana masih diam, dia tidak tahu harus berbuat apa.


“Alita pergi,” jawab Hurry.


Ada raut kecewa terpancar di wajah Kayla, lalu Kayla pun menatap ke arah adik bungsunya yang berdiri tak jauh dari Hurry.


“A-akifa,” lirih Kayla memanggil adik bungsunya.


Akifa langsug melangkah mendekati Kayla, saat Akifa berdiri di samping brangkar tempat tidur Kayla, dia langsung memeluk tubun sang adik.


Kayla memeluk sang adik dengan erat, dia tak ingin lagi terpisah dengan adik-adiknya. Saat ini dia adalah pelindung untuk adik-adiknya.


Raffa, Rayna dan Satya terharu melihat apa yang terjadi di hadapan mereka.


****


Sementara itu di tempat lain, Alita dudk seorang diri disebuah taman kota yang mulai sepi karena malam semakin larut.


“Tidak!” teriak Alita meluapkan sesak di dadanya.

__ADS_1


Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa kakak yang selama ini selalu dirindukannya adalah istri dari pria yang sangat dicintainya.


“Kenapa harus wanita itu yang menjadi kakakku? Abi, Ummi, aku merindukan kalian,” lirih Alita mulai terisak.


Dia menutup wajahnya dnegan kedua telapak tangannya. Dia mulai tergugu saat mengingat pedihnya perjalanan hidupnya tanpa orang tua kandung.


Tiba-tiba.


“Menangislah, hingga sesak di dadamu hilang,” ujar seorang pria yang ikut duduk di samping Alita.


Alita kaget.


Dia membuka wajahnya, dia melihat sosok yang tidak asing baginya.


“Bapak, ada apa bapak di sini?” tanya Alita pada mantan bosnya.


“Aku tak sengaja lewat, kebetulan rumahku tak jauh dari sini. Aku melihat wanita seorang diri di sini saat malam semakin larut. Aku takut ada orang jahat mengganggunya nanti,” jawab Raymond, manager SatRa’s cafe.


“Seorang insan bersedih itu boleh, tapi ingatlah keselamatan diri. Selarut ini kamu masih berada di tempat sepi,” nasehat Raymond pada bawahannya.


“Iya, Pak. Terima kasih atas nasehatnya,” ujar Alita.


Alita pun berdiri, dia hendak pergi meninggalkan taman itu.


“Hei, tunggu!” seru Raymond.


“Aku antar kamu,” tawar Raymond.


“Tidak baik, malam seperti ini kamu jalan sendiri, bahaya,” ujar Raymond.


Raymond menarik tangan Alita.


“Sebelum aku mengantarkanmu pulang, kita ke rumahku dulu mengambil mobil,” ujar Raymond.


Alita melirik pada tangan Raymond yang kini telah menggenggam erat tangannya.


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa ikut dengan bapak,” ujar Alita kembali menolak.


Dia tidak ingin menyusahkan Raymond, dia juga tidak tahu bagaimana sifat Raymo sesungguhnya. Alita hanya bersikap menjaga diri.


“Tenanglah, aku tidak aka mengganggumu. Aku hanya ingin menawarka sebuah kebaikan,” ujar Raymond lagi.


Raymond menarik tangan Alita tanpa menunggu jawaban dari Alita. Mereka melangkah menyisiri trotoar, kelap kelip lampu yang bersinar menerangi malam di tengah ota menemani langkah mereka.


Setelah berjalann sekitar 100 meter, Raymond berhenti di depan sebuah rumah besar namun terlihat sangat sederhana. Di sana terparkir sebuah mobil Honda Ja** berwarna merah.


“Sebentar, aku ambil kunci mobil dulu,” ujar Raymond.


Dia membiarkan Alita berdiri di pekaranga rumahnya yang tidak terlalu luas.


Tak berapa lama, Raymond keluar dengan kunco mobil dai tangannya.

__ADS_1


Dia membukakan pintu mobil untuk Alita.


“Masuklah,” ujar Raymond pada gadis yang sedang galau itu.


Dengan berat hati dan ragu, Alita masuk ke dalam mobil milik mantan bosnya itu. Setelah itu Raymond pun masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi.


“Aku antar kamu ke mana?” tanya Raymond pada Alita.


“Mhm,” gumam Alita.


“Ke kost-an?” tanya Raymod memastikan.


“Aku sedang tidak ingi pulang,” lirih Alita.


“Lalu? Kamu mau ke mana?” tanya Raymond jadi bingung.


“Entahlah,” jawab Alita ambigu.


“Huhft.” Raymond menghela napsnya panjang.


Dia bingung harus membawa ke mana mantan karyawannya di SatRa’s café. Alita mengundurkan diri setelah Raffa mengetahui siapa dirinya. Alita tidak ingin bertemu dengan Raffa unuk sementara waktu makanya dia memilih mengundurkan diri bekerja di kafe.


Raymond pun mulai melajukan mobilnya, dia membawa Alita ke sebuah kafe yang buka sampai pagi.


“Kalau kamu masih galau, kamu bisa menghabiskan malam di sini,” ujar Raymond.


Kayla melihat cafe yag ada di hadapannya. Di sana terdapat muda mudi yang menikmati malam yang panjang dengan lantunan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe.


“Yuk, kita turun,” ajak Raymond.


Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe, Raymond mencari sebuah tempat yang agak sepi agar Alita bisa leluasa meluapkan kesedihannya.


Tak berapa lama, pelayan kafe datang menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan mereka


“Kamu mau pesan apa?” tanya Raymond.


Alita hanya diam, dia bingung mau pesan apa, karena dirinya saat ini tidak menginginkan apa pun.


“Coklat panas dan kopi,” ujar Raymond pada pelayan.


“Coklat itu baik untuk seseorng yang lagi stress dan banyak pikiran, makanya akan pesanka coklat panas untukmu,” ujar Raymond.


Alita hanya tersenyum, dia tidak igin banyak-banyak bicara. Sementara itu Raymond mengoceh tak karuan untuk menghibur Alita, sesekali Alita tersenyum mendengar ocehan Raymond.


Tak berapa lama pesanan mereka datang, mereka menikmati minuman yang sudah mereka pesan tadi.


Malam semakin larut, Alita mulai lelah, hingga dia tidak dapat menahan rasa kantuk yang melandanya. Akhirnya Alita tertidur di atas meja tanpa memperdulikan Raymond yang masih ada di hadapannya.


Keesokkan paginya, Alita mendapati dirinya tengah berada di sebuah kamar yang asing baginya.


“Aaaa,” pekik Alita panik seketika.

__ADS_1


__ADS_2