Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 286


__ADS_3

"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Hurry heran.


"Pokoknya aku tidak setuju, Bunda." Alex tidak mengungkap alasan penolakannya.


“Raffa, tolong Ayah angkat 3R ke dalam kamar, mereka sudah tidur,” ujar Ayah Hendra yang tiba-tiba datang.


Raffa dan Alex pun berdiri dan melangkah keluar menuju mobil Ayah Hendra lalu mengangkat 3R yang sudah tertidur lelap dan membawa mereka ke kamar.


Setelah itu mereka pun kembali ke ruang keluarga, mereka lupa dengan pembicaraan mereka tadi.


“Lex, kamu kapan kembali ke Jakarta?” tanya Ayah pada Alex.


“Rencananya munggu depan, Yah,” jawab Alex.


“Kalau begitu kamu masih bisa ikut acara syukuran di perusahaan ayah. Alhamdulillah, perusahaan ayah baru saja menang tender, sebagai rasa syukur kami akan mengadakan syukuran dan sedikit berbagi dengan anak-anak yatim, yang akan diadakan hari jum’at,” ujar Hendra.


“Mhm, bisa, Yah.” Alex mengangguk.


Mereka pun lanjut mengobrol membahas berbagai hal hingga malam pun semakin larut. Alex mengajak Irene masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.


Di kamar, Irene mengganti pakaiannya, lalu berbaring di atas tempat tidur, dia menatap kosong pada langit-langit kamarnya.


Alex menangkap kesedihan yang terpancar di wajah sang istri.


“Sayang,” panggil Alex.


“Mhm,” gumam Irene pelan.


“Kenapa sedih?” tanya Alex pada istrinya.


“Mhm, aku sedih karena tidak bisa memberitahukan berita bahagia yang kita dapat pada kedua orang tuaku,” lirih Irene sendu.


Alex menghela napas panjang, dia menarik tubuh istrinya lalu memeluk sang istri dengan erat.


“Bukan kita yang tidak ingin memberi tahukan berita bahagia ini pada mereka, tapi merekalah yang tidak ingin tahu tentang kita,” ujar Alex berusaha menghibur sang istri.


“Aku minta sama kamu, jangan pikirkan masalah itu. Kamu tidak boleh bersedih dengan kondisi seperti ini karena itu akan berpengaruh pada janin yang ada di dalam kandunganmu,” ujar Alex pada istrinya berharap Irene tak bersedih lagi.

__ADS_1


Irene membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, mencari kehangatan di dalam dekapan suaminya berusaha menghibur hatinya bahwa saat ini masih ada Alex dan keluarganya yang akan mendampingi dirinya dalam menjalani masa kehamilannya.


“Semua masalah akan berlalu, aku akan selalu ada di sampingmu,” ujar Alex.


Alex mengelus lembut punggung sang istri hingga Irene tertidur dalam pelukannya.


Acara syukuran perusahaan Hendra akan dilaksanakan nanti malam, semua karyawan perusahaan akan hadir serta beberapa tamu yang diundang oleh perusahaan dari kalangan rekan bisnis, kolega dan teman-teman Hendra.


Semua anggota keluarga juga ikut dalam acara tersebut, begitu juga dengan Akifa.


“Ayo, Dek!” ajak Alex pada adiknya karena mereka sudah ditunggu oleh Hendra dan Hurry di dalam mobil.


“Iya, Bang.” Akifa keluar dari kamarnya dengan mengenakan gamis putih dan hijab berwarna merah maroon, memberi kesan menarik dengan hijab terang yang dikenakannya.


Gadis belia itu memoles sedikit make up natural di wajahnya membuat sang gadis terlihat semakin anggun.


Mereka pun melangkah keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


Perusahaan mengadakan acara syukuran


“Lama banget kamu,” ujar Alex.


“Nah, itu kak Irene tahu,” ujar Akifa cuek.


Sifat Akifa bersama keluarganya memang berbeda dengan di luar rumah. Dia cerewet dan banyak bicara di saat dia bersama keluarganya tapi jika berada di lingkungan luar rumah dia terkesan sebagai anak yang pendiam.


“Kenapa lama, Lex?” tanya Hurry setelah mereka berada di dalam mobil.


“Itu, Bun. Ada yang dandannya lama. Mau cari jodoh kali,” jawab Alex sambil melirik ke arah adiknya.


“Ih, Bang Alex nyebelin,” gerutu Akifa sambil mengerucutkan bibirnya.


Bunda Hurry dan Ayah Hendra tersenyum melihat Alex yang menggoda sang adik. Alex dan Akifa memang lebih dekat daripada Akifa dengan Agung.


Sosok Alex memang terlihat acak-acakan, tapi Alex paling dekat dan perhatian pada saudara perempuannya.


Berbeda dengan Agung wibawa yang terpancar dari wajah Agung membuat adik-adik perempuannya tidak sedekat mereka dengan Alex.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan heboh dengan suara Akifa yang beradu mulut dengan Alex yang sangat hobi mengerjai adik kecilnya. Irene hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Alex.


Mereka pun sampai di sebuah hotel ternama di kota Padang. Acara akan dilaksanakan di hotel ini setelah shalat maghrib.


Sesampai mereka di hotel, Hendra menagjak anggota keluarganya masuk ke dalam kamar yang sudah dipesannya untuk keluarganya.


Mereka melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu setelah itu melangkah menuju ballroom hotel.


Raffa dan Kayla juga ikut tanpa 3R karena mereka takut ketiga buah hati mereka akan rewel saat acara berlangsung.


Mereka meninggalkan 3R bersama Mak Ijah dan Bi Sari. Arumi dan Surya juga ikut di acara tersebut mereka berangkat dengan satu mobil setelah melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu.


Jarak rumah Surya dnegan hotel tersebut tidak terlalu jauh oleh sebab itu mereka memilih shalat maghrib terlebih dahulu di rumah.


Mereka sampai di ballroom hotel sebelum acara di mulai, acara syukuran ini berlangsung dengan sepatah kata dan dua patah kata dari pemimpin perusahaan serta staf yang sudah berhasil memenangkan proyek ini.


Setelah itu pembacaan do’a dari salah seorang ustad yang diundang dan pembagian amplop untuk beberapa anak yatim yang sudah diundang.


Setelah acara resmi selesai, seorang artis lokal diminta untuk mengisi acara sambil semua tamu menikmati hidangan yang telah disediakan.


“Bun, Ayah. Aku ke kamarku terlebih dahulu, ya,” ujar Akifa pada Ayah dan bundanya setelah dia selesai menikmati makan malam.


Akifa merasa bosan berada di ballroom itu, dia hanya dapat menemukan rekan bisnis Ayahnya yang telah berumur. Kalau pun ada yang masih single umurnya sudah terbilang tidak muda lagi seperti dirinya.


“Lho? Kenapa, Sayang?” tanya Hurry heran.


“Enggak apa-apa, Bun. Aku cuma mau istirahat saja, capek,” lirih Akifa memberi alasan.


“Oh, gitu. Ya udah, tapi kamu langsung masuk kamar, ya. Jangan keluyuran ke mana-mana.” Bunda Hurry mengingatkan putrinya.


“Iya, Bun. Bunda sama Ayah tenang aja, aku akan jaga diri baik-baik,” ujar Akifa.


Gadis itu keluar dari ballroom, lalu melangkah santai menuju kamar yang sudah dipesankan ayahnya untuk dirinya.


Seorang pria melihat gadis itu berjalan sendirian menuju kamarnya, Dia masuk ke dalam kamarnya dan langsung melangkah menuju kamar mandi.


Perlahan Akifa melepas hijabnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama lengan panjang. Dia keluar dari kamar mandi dengan tidak mengenakan hijabnya lagi karena dia sudah bersiap untuk tidur.

__ADS_1


“Aaaakh,” pekik Alita saat melihat seorang pria berada di dalam kamarnya.


Bersambung...


__ADS_2