
"Sayang," pekik Raffa cemas.
"Sakit, Bang," lirih Kayla menahan rasa sakit.
"Yah, Kayla," teriak Raffa.
Dia tak lagi mengabaikan tangannya yang terluka karena menaiki tali yang membuat tangannya panas dan tergores.
"Kayla, kamu kenapa?" tanya Hurry panik.
Baru saja dia merasa lega dengan selamatnya putri keduanya.
Hurry melihat darah mengalir di kaki putrinya.
"Ayah, cepat bawa Kayla ke rumah sakit. Dia pendarahan," teriak Hurry semakin panik.
Raffa cemas mendengar perkataan Hurry. Dia langsung mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam mobil.
Alita tersenyum sinis melihat apa yang terjadi pada kakaknya. Dia tidak ingin melihat Kayla bahagia bersama Raffa. Bagi Alita hanya dirinyalah yang bisa membahagiakan Raffa.
Melihat Ayah dan Ibunya panik, Alita pun bergegas masuk ke dalam mobil. Alita duduk di bangku depan di samping Ayah Hendra.
Sedangkan, Hurry dan Raffa menemani Kayla di jok belakang.
Ayah Hendra menghidupkan lampu sen pertanda darurat agar para pengemudi lain memberinya jalan padanya.
Hendra yang sudah terbiasa melewati lintasan jalan Padang Solok, sehingga dia bisa menempuh perjalanan dari panorama menuju rumah sakit Semen Padang hanya dalam waktu 20 menit.
Sesampai di depan rumah sakit. Raffa dan Hurry langsung turun dari mobil. Raffa mengangkat tubuh istrinya menuju ruang IGD.
"Suster, tolong istri saya," teriak Raffa pada perawat jaga yang berada di sana.
Dua orang perawat menuntun Raffa untuk membaringkan Kayla di atas sebuah brangkar yang kosong.
Tak berapa lama, dokter jaga datang menghampiri Kayla.
"Dokter, tolong putri saya, ada darah yang keluar dari rahimnya" ujar Hurry panik pada sang Dokter.
"Baik, Nyonya. Kami coba periksa dulu, ya." Dokter pun mendekati Kayla.
Seorang perawat meminta keluarga Kayla untuk menjauh dari ruang pemeriksaan terlebih dahulu, agar dokter dapat memeriksa kondisi pasien.
"Ya Allah, tolong selamatkan janin putriku," lirih Hurry memohon pada sang maha Kuasa.
Raffa kini terduduk lemas di atas kursi tunggu yang terdapat di luar ruang pemeriksaan.
Dia mengusap wajahnya kasar, Raffa tidak bisa membayangkan hal terburuk terjadi pada istrinya.
Raffa pun tak bisa menahan air matanya, kini dia menangis dan terus berharap sang istri dan buah hatinya dapat diselamatkan.
Raffa melihat jam di pergelangan tangannya, waktu ashar sudah masuk. Raffa berdiri dan melangkah menuju mushala rumah sakit sambil menunggu kabar dar sang dokter.
Di mushala rumah sakit Raffa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba, setelah selesai shalat ashar Raffa bermunajat pada Tuhannya agar mengabulkan harapannya.
"Ya Allah, hamba mohon selamatkan istri dan anak-anakku, mereka adalah kebahagiaan dalam hidupku," lirih Raffa memohon pada Allah.
__ADS_1
Setelah selesai shalat dan berdo'a, Raffa bersiap-siap keluar dari mushala.
Hurry yang juga belum melaksanakan shalat ashar datang menghampiri Raffa.
"Bun," lirih Raffa.
Dia mempertanyakan keberadaan Bunda Hurry di depan mushala rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Kayla, Bun?" tanya Raffa pada Hurry.
Hurry tersenyum lega.
"Alhamdulillah, Kayla tidak apa-apa. Dokter bilang saat ini dia butuh istirahat, Kayla hanya mengalami shock," jawab Hurry menjelaskan kondisi Kayla pada Raffa.
"Alhamdulillah," lirih Raffa mengusap wajahnya.
"Aku ke sana dulu ya, Bun," ujar Raffa.
"Iya, Bunda mau shalat dulu, ya." Hurry pun masuk ke kawasan mushala.
Raffa pun melangkah lega menuju ruang pemeriksaan. Dia tak sabar ingin melihat kondisi istrinya.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih atas kemurahan yang engkau berikan," lirih Raffa di sepanjang langkahnya.
"Sayang," ujar Raffa saat sudah berada di ruangan tempat Kayla berada.
Raffa langsung memeluk tubuh sang istri yang masih terbaring di atas brangkar.
Pria tampan itu mengabaikan keberadaan Alita yang duduk di samping brangkar Kayla.
"Alhamdulillah, Bang," lirih Kayla
Kayla berusaha untuk bangkit agar dia bisa duduk.
"Sayang, kamu harus istirahat," ujar Raffa melarang Kayla untuk bangun.
"Aku bosan," rengek Kayla manja.
"Ini demi anak kita, Sayang," ujar Raffa.
Dia mengelus lembut puncak kepala istrinya.
"Ehem." Alita sengaja berdehem dengan keras agar sepasang suami istri itu menyadari bahwa dirinya tengah berada di dekat mereka.
Raffa menoleh ke arah Alita.
"Maaf ya, Dek," ujar Raffa malu.
"Aku keluar dulu ya, kak," ujar Alita datar.
Dia merasa kesal dan iri melihat kebahagiaan jelas terpancar di wajah sepasang suami istri tersebut.
Alita berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tempat Kayla di rawat.
Setelah Alita keluar dari ruangan tersebut, Raffa mengecup lembut puncak kepala sang istri.
__ADS_1
"Bang," lirih Kayla sambil meraih tangan Raffa dan meletakkannya di atas perutnya.
"Auww," rintih Raffa menahan rasa sakit di telapak tangannya.
"Kenapa, Bang?" tanya Kayla khawatir.
Kayla mencermati tangan Raffa yang merah dan tergores karena tali.
"I-ini hanya tergores saat menolong Alita tadi," jawab Raffa.
"Ini berdarah, Bang. Mana mungkin biasa saja," ujar Kayla panik.
"Sus, tolong obati tangan suami saya," pinta Kayla pada salah satu perawat yang tadi masuk ke dalam ruangan Kayla.
Suster pun menghampiri Raffa.
"Bisa saya lihat?" tanya suster tersebut.
Kayla mengulurkan tangan Raffa pada sang perawat.
Si perawat melihat kondisi tangan Raffa lalu mengambil kotak yang berisi alkohol dan obat pengering luka.
Perawat itu pun membersihkan luka yang ada tangan Raffa dengan alkohol, lalu si perawat memasangkan perban dan memberikan obat di tangan Raffa agar cepat sembuh.
"Makasih, Sus," ucap Kayla.
"Sama-sama," jawab si perawat.
Dia pun keluar dari ruangan Kayla, Raffa menoleh ke arah sang istri setelah si perawat keluar dari ruangan sang istri.
Raffa menatap dalam pada istrinya.
"Aku sangat mencemaskan dirimu dan anak kita," lirih Raffa tiba-tiba.
"Benarkah?" gumam Kayla pelan.
"Iya, Sayang," lirih Raffa.
"Sayang, terima kasih kamu sudah menyelamatkan Alita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tak ada kamu," ujar Kayla mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Aku sebagai suamimu juga merupakan kakak dari Alita, aku juga memiliki tanggung jawab terhadap dirinya," ujar Raffa dengan bijak.
"Terima kasih," ucap Kayla lagi.
"Kamu tidak perlu mengucapkan hal itu," ujar Raffa sambil mencubit lembut hidung Kayla.
"Ih, Bang Raffa nyebelin," celetuk Kayla juga mulai mencubit lengan kekar sang suami.
Mereka tersenyum, dalam musibah ini hati mereka semakin erat terikat antara satu sama lain.
Hurry dan Hendra memilih pergi ke kantin setelah mereka selesai melaksanakan shalat ashar. Sedangkan Alita meminta izin untuk pulang terlebih dahulu.
Tinggallah Raffa yang menemani Kayla di rumah sakit, Kayla diminta dokter untuk menginap di rumah sakit untuk memastikan keadaan kandungan Kayla baik-baik saja.
Raffa dan Kayla asyik bercerita, tak berapa lama seseorang membuka ruang rawat Kayla.
__ADS_1