Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 288


__ADS_3

Seketika si pria teringat dengan sosok gadis yang kini bersamanya di kamar itu. Tiba-tiba jantungnya berdegup dengan kencang tak keruan.


Ada rasa senang saat teringat pada sosok gadis belia yang sudah mengubah hidupnya menjadi pria yang sukses seperti saat ini.


Dia tersenyum senang melihat wajah polos gadis belia yang sedang tertidur dengan pulas. Si pria mengangkat selimut lalu menutupi tubuh sang gadis dengan selimut tersebut.


Dia melangkah kembali ke sofa, dan mulai mencoba untuk memejamkan mata. Namun, matanya masih saja tidak bisa terpejam dan tertidur karena dinginnya malam membuatnya merasa tak nyaman.


Dengan terpaksa Si pria melangkah menuju tempat tidur lalu memakai sebagian selimut untuk menutupi tubuhnya. Tak berapa lama akhirnya sang pria itupun tertidur.


Sebelum subuh, ponsel milik Hendra terdengar berbunyi pertanda sebuah pesan masuk, dia membuka ponselnya dan ternyata dia mendapat pesan dari nomor yang tak dikenal.


Dia kaget dan cemas saat melihat foto Akifa bersama seorang pria yang sedang tidur di satu tempat tidur dengannya.


“Bun, bangun!” ujar Hendra mendesak Hurry untuk bangun dari tidurnya.


“Ada apa, Yah?” tanya Hurry heran.


“Lihat, Bun!” ujar Hendra panik sambil menyodorkan ponselnya pada sang istri agar Hurry dapat melihat apa yang telah terjadi.


“Astaghfirullah, Akifa!” pekik Hurry.


Mereka langsung bersiap keluar dari kamar mereka lalu melangkah menuju kamar putri bungsunya.


“Bang, bisa saya minta kunci serap kamar 901?” tanya Hendra pada salah seorang pelayan yang sedang melintas.


“Ada apa, Pak?” tanya si pelayan.


“Keadaan darurat, putri saya di kamar itu!” jawab Hendra panik.


“Baiklah, mari ikut saya,” ujar si pelayan.


Agung dan Dian yang juga berada di kamar hotel satu lantai dengan kedua orang tuanya terbangun mendengar suara ribut-ribut di luar.


“Sayang, itu sepertinya suara Ayah dan Bunda,” lirih Dian.


Agung dan Dian pun ikut keluar dari kamarnya.


“Ada apa, Yah, Bun?” tanya Agung.


“Adikmu,” lirih Hurry.


Agung mengernyitkan dahinya bingung, sembari memperhatikan si pelayan hotel sedang membuka kamar adiknya yang terkunci.


“Akifa!” bentak Hendra penuh emosi melihat gadis kecilnya terlelap bersama pria asing di atas tempat tidur itu.

__ADS_1


Akifa dan si pria itu terbangun saat mendengar teriakan Hendra. AKifa kaget saat melihat sang pria sudah berada di sampingnya dalam keadaan satu selimut dengannya.


“Apa yang kau lakukan padaku!” bentak Akifa kaget.


Agung tak percaya saat melihat pria yang berani tidur bersama adiknya itu adalah pria yang dikenalnya. Agung melangkah menghampiri si pria.


Dia tidak dapat menahan emosinya, Agung langsung melayangkan bogem mentahnya pada sang pria.


“Bang Agung, tahan dulu. Aku bisa jelaskan,” ujar si pria meminta Agung berhenti memukulinya.


“Apa yang kau lakukan pada adikku! Hah?” bentak Agung.


“Aku tidak ngapa-ngapain, Bang. Aku bisa jelaskan,” ujar si pria memohon pada Agung.


Akifa yang kesal melihat si pria sudah tidur di sampingnya hanya diam melihat si pria dipukuli oleh Abangnya.


Akifa puas melihat si pria sudah bonyok gara-gara pukulan dari Agung. Dia kesal melihat si pria yang sudah berjanji tidak akan mendekati dirinya.


Hendra masih membiarkan Agung meluapkan emosinya pada si pria karena dia juga ingin melakukan hal itu.


“Udah, Gung. Nanti dia bisa mati!” teriak Hurry saat melihat wajah Farhan sudah tak berbentuk.


Bunda Hurry mendekati si pria, dia mencermati wajah tampan si pria yang kini sudah hancur lebam karena pukulan dari Agung.


“Kamu? Bukankah kamu Far-han?” lirih Bunda Hurry setelah mengingat pria itu.


“I-iya, Bunda,” lirih Farhan sambil meringis menahan kesakitan.


Alex datang dan masuk ke dalam kamar Akifa.


“Ada apa, Bun?” tanya Alex kaget melihat keributan itu.


“Dia berani tidur dengan adikmu,” jawab Hurry.


“Farhan? Apa yang lu lakukan sama adik gue!” bentak Alex saat melihat teman SMA nya berada di kamar adiknya.


“Gue enggak ngapa-ngapain, kami dijebak di kamar ini,” jelas Farhan berusaha membela diri.


“Yakin, Lu?” Alex tak percaya.


“Iya, kalau tak percaya tanyakan adik lu sendiri,” ujar Farhan.


Alex menoleh ke arah sang adik, Akifa diam melihat tatapan Abangnya.


“Iya, Bang. Saat aku sudah masuk ke dalam kamar, aku ke kamar mandi sebentar. Dan setelah itu, aku melihat dia sudah berada di kamar ini, tapi dia sudah janji akan tidur di sofa. Tau-taunya dia malah tidur di sampingku,” jelas Akifa tidak suka Farhan berani tidur di sampingnya.

__ADS_1


“Apa maksud lu tidur satu ranjang dengan adikku?” bentak Alex.


“Gue.” Farhan bingung harus menjawab apa, padahal dia hanya ingin menggunakan selimut karena kedinginan.


“Yah, Dia harus bertanggung jawab sama Akifa, kalau berita ini menyebar nama baik Akifa akan hancur,” ujar Alex.


“Apa?” pekik Akifa dan Farhan tak percaya.


“Iya, Yah. Kita harus menikahkan mereka secepatnya, mana tahu pria ini sudah menyentuh Akifa,” ujar Agung setuju dengan pendapat adiknya.


“Berikan KTP dan nomor ponselmu!” pinta ayah Hendra pada Farhan.


Perlahan Farhan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, lalu dia juga memberikan kartu nama pada Henda yang mana di sana sudah tertera alamat dan tempat Farhan bekerja.


“Oh, seorang pengacara rupanya. Kamu harus bertanggung jawab pada putriku!” bentak Hendra.


“Nanti malam kamu harus datang ke rumah kami untuk membahas masalah ini,” ujar Hendra tegas.


Akifa shock mendengar perkataan Alex dan ayah Hendra yang berniat akan menikahkannya di usia yang masih terbilang dini.


Dia menggelengkan kepalanya tak percaya, dia menolak semua keputusan yang sudah disepakati oleh Abang dan Ayahnya.


“Baiklah, Bang. Gue akan bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi.” Farhan berdiri dan keluar dari kamar tersebut.


Hurry langsung menghampiri putrinya, dia tahu AKifa tidak mau dinikahkan dengan si pria itu, tapi Hurry juga setuju dengan keputusan yang sudah diambil oleh suami dan putranya.


“Bun, aku tidak mau menikah dengannya,” lirih Akifa berusaha menahan tangisnya.


“Tapi, Sayang. Ayah dan Abang-abangmu sudah setuju,” lirih Hurry.


“Bunda kan tahu, aku menyukai pria lain. Aku ingin berjodoh dengannya, Bun,” rengek Akifa.


Hurry mengelus lembut kepala putrinya.


“Kita serahkan semuanya pada takdirmu ya, Nak,”ujar Hurry pada putrinya.


Saat ini Hurry tidak tahu harus berbuat apa, karena Hurry sangat tahu keputusan suaminya tak pernah bisa diganggu gugat. Terlebih Agung dan Alex juga setuju dengan hal itu. Akan sulit bagi Hurry untuk membujuk mereka agar membatalkan keputusan mereka.


Azan subuh berkumandang, Hendra menghampiri putri dan istrinya.


“Shalatlah terlebih dahulu, pagi ini kita akan pulang ke rumah. Dan kita akan membahas masalah ini di rumah,” ujar Hendra tegas.


Mereka keluar dari kamar Akifa satu persatu, Alex tersenyum saat menutup pintu kamar adiknya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2