Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 278


__ADS_3

Malam semakin larut, semua tamu sudah kembali ke rumah masing-masing.


Keluarga Reza juga sudah pulang ke Padang, mereka datang hanya untuk menghadiri acar akad nikah Reza.


Sultan dan Maryam sadar dengan tindakannya waktu menjodohkan Reza dengan Gisella merupakan kesalahan yang fatal.


Sehingga di saat Merry ingin menjodohkan Reza dengan Lisa, mereka setuju dan mendukungnya.


Sultan dan Maryam menyadari dalam sebuah rumah tangga tidak perlu mementingkan pendidikan atau pun kedudukan seseorang karena kebahagiaan dalam rumah tangga adalah salah mencintai, saling memahami dan saling mengerti satu sama lain.


Saat makan malam, Reza duduk di ruang makan bersama kedua mertuanya yang ramah.


Dia sudah melepas kursi rodanya. Awalnya kedua orang tua Lisa kaget melihat Reza berdiri tegap dan berjalan dengan kedua kakinya, tapi Reza pun menjelaskan alasannya berbohong dan kedua orang tua Lisa memahaminya.


"Bapak tak menyangka ternyata Lisa berjodoh dengan pria tampan dan sehat luar dalam," ujar Bapak Lisa setelah mereka duduk di kursi meja makan.


Mereka berdua sedang menunggu Lisa dan ibunya sedang menyiapkan makanan di atas meja makan.


"Alhamdulillah, Pak. Setelah sekian tahun kami berpisah karena satu hal akhirnya kami berjodoh juga," tutur Reza jujur.


"Jadi, Nak Reza ini pernah bertemu dengan Lisa sebelumnya?" tanya Bapak Lisa.


"Iya, Pak. Kami pernah bertemu saat Lisa liburan ke kota Padang bersama Kayla dan Raffa," jawab Reza.


"Iya, Pak. Padahal waktu itu Lisa ketemu sama Reza pas dia lagi bersih-bersih meja makan dan karena aku kasihan sama dia aku bantuin cuci piring. Aku kira dia karyawan di sana taunya malah pemilik resort itu," ujar Lisa bercerita riang pada bapaknya.


Lisa memang anak yang terbuka pada kedua orang tuanya. Kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka hidup sangat harmonis.


"Iya, Pak. Gara-gara Lisa tahu kalau aku yang punya resort eh aku malah dicuekin sampe empat tahun lamanya," tambah Reza jujur pada bapak Reza.


Lisa pun tersenyum mendengar keluhan dari suaminya, semua yang dikatakan Reza memang benar.


"Yang penting kalian itu cocok dan bahagia," celetuk ibu Lisa ikut nimbrung obrolan mereka.


Sambil mengobrol hidangan makan malam pun sudah siap untuk dinikmati.


"Ayo, kita makan," ujar ibu Lisa mengajak makan.


Ibu Lisa mengambil piring lalu mengisi piring itu dengan nasi dan lauknya untuk Bapak Lisa.


Melihat apa yang dilakukan oleh ibunya, Lisa pun mulai meniru apa yang dilakukan sang Ibu terhadap bapaknya.


Lisa mulai belajar menjadi seorang istri yang baik untuk Reza.


Reza tersenyum menatap istrinya, dia kagum dengan apa yang dilakukan oleh Lisa.


Sejenak Reza teringat dengan mantan istrinya yang sama sekali tidak pernah memberikan perhatian khusus terhadap dirinya.

__ADS_1


Reza mulai bersyukur dengan perceraian yang berujung membawanya pada cinta pertamanya.


Setelah piringnya terisi, Lisa meletakkan piring itu di depan Reza.


"Silakan dimakan, kalau enggak enak, anggap aja enak, ya. Soalnya aku jarang masak kalau di rumah," ujar Lisa sambil tersenyum.


"Bagi setiap suami, makanan istri adalah makanan yang paling enak walaupun makanan tersebut hanya makanan yang sederhana" Bapak menasehati putri dan menantunya.


Reza dan Lisa tersenyum mendengar nasehat bapak Lisa.


Setelah makan malam Reza dan bisa beralih duduk di teras depan rumahnya sambil mengobrol.


Reza meraih tangan istrinya dan menggenggam erat tangan wanita yang sangat dicintainya.


"Sayang, Apakah kamu bahagia?" tanya Reza pada istrinya.


Lisa menoleh menatap dalam pada wajah tampan sederhana milik suaminya.


Dia tersenyum, lalu berpindah duduk menjadi lebih dekat dengan suaminya.


"Menikah denganmu adalah takdir terindah dalam hidupku," lirih Lisa.


"Mhm, mulai sekarang kamu jangan panggil nama lagi, ya," pinta Reza.


"Mhm, kamu mau aku panggil apa? Mas? Aa atau,--"


"A-abang?" tanya Lisa masih berat menyebutnya.


"Iya, Abang kalau tidak mau panggil Uda juga boleh," ujar Reza terkekeh.


"Enggak ah, aku panggil Abang aja," ujar Lisa.


Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba adzan isya berkumandang akhirnya mereka pun beralih masuk kamar dan bersiap-siap untuk melamaikan ibadah salat isya berjamaah.


Usai shalat isya, sepasang suami istri itu pun duduk di tempat tidur.


"Sayang, kenapa kamu masih memakai hijabmu di hadapanku?" tanya Reza pada istrinya yang sejak tadi masih menyembunyikan mahkota indahnya.


Wajah Lisa memerah, dia tersipu malu. Selama ini dia sangat menjaga auratnya di mata para lelaki, dia masih malu memperlihatkan rambutnya pada sang suami.


Reza mendekati sang istri.


"Aku buka hijabmu, ya," ujar Reza meminta izin pada istrinya.


Lisa mengangguk malu, mengiyakan permintaan sang suami.


Dengan perlahan Reza melepaskan hijab Lisa, dia menatap kagum pada kecantikan istrinya tanpa mengenakan hijab.

__ADS_1


Reza melepaskan ikatan rambut Lisa, rambut yang lembut dan halus lurus panjang membuat gadis itu semakin mempesona.


Hati Reza berdesir saat melihat keindahan ciptaan Tuhan yang kini berada di hadapannya, Reza pun tidak dapat menahan hasrat yang kini sudah membara dalam jiwanya.


Dengan malu, Lisa menerima setiap perlakuan dari sang suami, hingga akhirnya mereka melewati malam panas yang panjang. Memadu kasih meluapkan rasa yang membuncah yang sudah tertahan 4 tahun lamanya.


Keesokan harinya sebelum azan subuh berkumandang, Lisa terbangun dari tidurnya. Dia terbangun saat berada dalam hangatnya dekapan sang suami.


Lisa menatap dalam suaminya yang masih terlelap.


"Sayang," lirih Lisa pelan.


"Mhm," gumam Reza.


"Bangun, yuk. Kamu mandi duluan, ya," lirih Lisa.


"Mhm," gumam Reza lagi.


"Sayang, kamu harus mandi sekarang sebelum ayah dan ibu bangun," ujar Lisa lagi.


Lisa mengingatkan suaminya bahwa di kamar Lisa tidak ada kamar mandi. Mereka harus mandi di kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Seketika Reza membuka matanya.


"Ya ampun, untung kamu mengingatkan aku." Reza langsung bangkit lalu mengenakan pakaiannya yang tadi berserakan di lantai kamar.


Reza melangkah ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti langsung.


Bergegas Reza melangkah menuju kamar mandi agar tidak ketahuan dengan kedua orang tua Lisa.


Lisa tersenyum melihat wajah panik suaminya, Reza pasti malu jika kedapatan oleh mertuanya mandi sebelum subuh.


Reza melangkah keluar dari kamar perlahan sambil memperhatikan ke sekelilingnya.


Dia melihat lampu ruang tengah dan dapur belum menyala itu artinya Bapak atau ibu Lisa belum bangun.


Bergegas Reza melangkah menuju kamar mandi, dan membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Reza keluar masih memperhatikan keadaan sekelilingnya berharap belum ada yang bangun.


Saat Reza keluar dari kamar mandi dan melewati dapur.


"Nak Reza sudah bangun?" tanya Ibu Lisa yang kini sudah mulai menyiapkan sarapan.


Kaki Reza terhenti, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2