Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 274


__ADS_3

Lisa melangkah masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamarnya. Di dalam kamar Lisa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Lagi-lagi bisa kembali menangis meratapi takdir yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Lisa menangis meluapkan semua sesak yang ada di dadanya.


Setelah dia puas meluapkan rasa sedih yang menyelimuti dirinya, dia teringat untuk menghubungi Kak Sandra rekan kerjanya yang sedang mencarikan jodoh untuknya.


Lisa mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya lalu menekan nomor ponsel Kak Sandra.


Lisa mencoba menghubungi Sandra, tapi nomor ponsel rekan kerjanya itu tidak aktif sama sekali.


Lisa semakin frustasi, berharap dia bisa membatalkan apa yang sudah disetujuinya tadi pagi. Namun, sejak tadi Lisa tidak bisa menghubungi Sandra.


Kini Lisa duduk termenung di atas tempat tidur sambil terus berusaha menghubungi Sandra.


"Astaghfirullah hal adzim," lirih Lisa.


Dia sudah merutuki jalan hidup yang telah ditentukan oleh Allah padanya.


Lisa bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, dia pun bersiap-siap untuk melaksanakan shalat isya yang tadi belum dikerjakannya saat berada di hotel.


Lisa melaksanakan shalat wajib lalu ditambahkannya dengan shalat sunat, tak lupa Lisa menunaikan shalat istikharah berharap dia dapat menentukan pilihannya sesuai arahan dari Allah.


Dalam tangis Lisa terus memohon pada Allah agar diberikan pendamping hidup yang terbaik untuknya.


"Ya Allah, jika aku dan Reza memang berjodoh berikanlah jalan yang mudah untuk kami bersatu. Jika kami tidak berjodoh mudahkanlah kami untuk menerima takdir yang sudah engkau tentukan." Lisa memanjatkan doa kepada Sang khalik sehingga hatinya bisa tenang.


Setelah itu Lisa pun mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba untuk melupakan apa yang sudah terjadi satu hari ini, dia mulai memejamkan matanya dan tertidur.


Sementara itu, Reza berdiri di balkon kamar hotel, dia menatap kosong pada keindahan pemandangan malam kota Jakarta yang ada di hadapannya.


Keindahan yang ada di hadapannya kini tidak ada artinya karena saat ini hatinya kecewa.


Di saat dia ingin meraih cintanya yang sempat hilang, kini dia menemukan wanita yang dicintainya itu sudah menerima perjodohan yang dia pinta sendiri pada rekan kerjanya.


Drrrttt drrrttt drrrttt,


Terdengar ponsel Reza berdering, dia menoleh ke atas tempat tidur lalu melangkah meraih ponsel tersebut.


Dia melihat panggilan masuk dari sang kakak, dengan malas Reza mengangkat panggilan tersebut.


"Halo," ujar Reza setelah menekan tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga.

__ADS_1


"Mhm, terserah kamu saja, Kak. Saat ini aku pusing memikirkan hal itu," jawab Reza pasrah.


Reza pun memutuskan panggilan tersebut setelah berbicara sebentar dengan sang kakak.


Kini dia semakin galau karena mendapatkan masalah yang baru.


Reza kembali melangkah ke balkon untuk menenangkan diri sejenak.


Setelah sekian lama Reza bermenung di balkon kamarnya, akhirnya pria tampan dan sederhana itu pun memilih untuk mengadukan semua kegelisahannya kepada Sang Khalik.


Reza melaksanakan shalat tahajud serta shalat istikharah untuk menentukan pilihan dalam hidupnya.


"Ya Allah jika wanita itu memang jodohku maka mudahkanlah jalannya bagiku meraih cintanya kembali. Namun, jika memang kami tidak berjodoh sama sekali mudahkanlah hati ini untuk mengikhlaskan takdir yang telah engkau berikan kepada kami," lirih Reza memohon pada sang pemilik hati.


Satu minggu berlalu, Lisa baru saja bertemu dengan Sandra setelah satu minggu dia mengambil cuti.


"Kak, aku mencoba menghubungimu, tapi ponselmu selalu tidak aktif," ujar Lisa saat dia bertemu dengan Sandra.


"Maaf, Lisa. Satu minggu ini aku pergi ke Yogyakarta dan mengurus urusan perjodohan kamu dan pria yang kemarin aku ceritakan," ujar Sandra memberi alasan.


"Apa? Kakak sudah ke desa bertemu kedua orang tuaku?" tanya Lisa tak percaya.


"Iya, bahkan kedua orang tuamu sudah menyetujui lamarannya, karena saat itu aku mengatakan kamu juga sudah menyetujui perjodohan ini," ujar Sandra sangat senang.


"Ya Allah apakah ini jawaban dari permintaanku? Mungkinkah pria lumpuh itu adalah jodoh yang terbaik untukku?" gumam Lisa dalam hati.


"Kenapa, Lisa? Apakah kamu ragu dengan pria itu?" tanya Sandra heran melihat ekspresi Lisa yang kaget dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Mhm, tidak, Kak. Aku yakin Tuhan tidak akan memberikan jodoh yang tidak baik untukku." Lisa menggelengkan kepalanya.


"Oh, syukurlah, aku sangat senang kamu setuju dengan perjodohan ini. Pria yang ingin aku jodohkan denganmu merupakan adik kandungku sendiri," tutur Sandra jujur mengungkap siapa sosok yang sudah dijodohkannya dengan Lisa.


Lisa memutar bola matanya tidak percaya apa yang baru saja didengarnya, dengan mengetahui bahwa pria itu adalah adiknya Sandra, Lisa semakin tidak enak hati untuk menolak perjodohan itu.


Lisa pun pasrah dengan apa yang harus dijalaninya.


"Semua urusan pernikahan biar aku yang mengurusnya, kebetulan suami aku sedang bertugas di Yogyakarta. Jadi, kamu tinggal menunggu waktu pernikahannya. Sesuai kesepakatan kami dan kedua orang tuamu, pernikahan akan kita adakan dua minggu lagi sedangkan resepsinya kita atur ulang," jelas Sandra panjang lebar.


"Baiklah, Kak," lirih Lisa.


Lisa pasrah dengan apa yang terjadi dia yakin bahwa apa yang kini ada di hadapannya adalah kehendak Tuhan.


"Alhamdulillah, aku senang sekali. Akhirnya setelah 4 tahun dia mencari jodoh, dia menemukan jodohnya," ujar Sandra sangat bahagia.

__ADS_1


Lisa tersenyum, antara bahagia bercampur kecewa. Dia berusaha menenangkan dirinya dan berusaha untuk ikhlas dengan takdir.


Setelah mereka berbicara, mereka pun melaksanakan tugas masing-masing yaitu masuk ke dalam kelas untuk mengajar.


Pada sore hari setelah selesai mengajar, Lisa langsung pulang ke rumah kontrakannya.


Lisa langsung membersihkan diri, dan duduk bersantai di ruang tamu sambil membuka ponselnya.


Di sana Lisa membuka galeri ponselnya, dia mulai menghapus semua kenangan bersama Reza yang masih tersimpan utuh di ponselnya itu.


Dengan air mata yang berlinang, sekuat tenaga Lisa mensugesti dirinya untuk tetap kuat dan ikhlas dalam menghadapi takdir hidupnya.


"Reza, maafkan aku. Mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk bersatu, aku tidak lagi bisa menolak perjodohan itu karena aku sendiri yang sudah menawarkan diri untuk dicarikan jodoh," lirih Lisa.


Tiba-tiba, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah kontrakannya. Lisa berdiri dan mengintip siapa yang datang, terlihat Reza turun dari mobilnya.


Reza melangkah masuk ke dalam rumah Lisa, hati Lisa berdegup kencang saat melihat Reza datang menemuinya.


Lisa bergegas masuk ke dalam kamar dan mengambil hijabnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Reza setelah mengetuk pintu rumah.


Lisa melangkah menuju pintu dan membukakan pintu sambil berusaha menenangkan jantungnya yang kini berdegup di luar batas normal.


"Wa'alaikummussalam," jawab Lisa.


"Aku mau bicara," ujar Reza saat melihat Lisa sudah berada di hadapannya.


"Duduklah," lirih Lisa mempersilakan Reza duduk di teras rumahnya.


Mereka terdiam sejenak.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Lisa mulai membuka suara.


Reza menghela nafas panjang.


"Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang selama ini sudah terjadi di antara kita, jika pertemuan yang terjadi membuat hatimu terluka aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Mulai hari ini aku akan berusaha melupakan rasa yang pernah hadir dalam hatiku," ujar Reza pelan.


Lisa menatap dalam pada Reza, dia merasa sangat sedih mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang sangat dicintainya itu.


"Mungkin kita memang tak berjodoh," ujar Reza.


Reza berdiri dan dia pun meninggalkan Lisa yang masih terpaku tak percaya dengan ucapan Reza.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2