Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 285


__ADS_3

"Jadi sekarang kamu sudah berani melawan sama tante?" tanya Rita sinis.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menginjak harga diri suamiku termasuk tante," ujar Irene berusaha membela sang suami.


"Irene, jaga mulutmu!" bentak Wisnu pada putrinya.


"Lho, kenapa Ayah jadi sewot?" ujar Irene kesal.


"Tante Rita itu adik ibumu, dan dia juga orang tuamu." Wisnu menasehati Irene tak suka dengan sikap lrene.


"Lagian, betul apa yang dikatakan Tante kamu, Alex itu tidak mampu membahagiakan kamu," tambah Wisnu.


"Tidak, Ayah. Bahkan aku lebih bahagia bersamanya daripada tinggal di sini," ujar Irene terus membela sang suami.


Alex masih diam, dia tidak ingin ikut campur dalam perdebatan istrinya dengan Ayah dan tantenya.


Lina juga diam, dia tidak tahu harus bagaimana, menurutnya apa yang dikatakan suami dan adiknya memang benar, tapi dia tidak ingin melukai hati putrinya sehingga akhirnya dia memilih untuk diam.


"Oh, sudah berani kamu membandingkan apa yang ayah berikan dengan apa yang diberikan oleh suamimu?" bentak Wisnu.


"Iya, Ayah. Alex sudah mengajarkan aku arti kasih sayang dan tulus tanpa materi, karena hidup tidak bergantung dari materi," ujar Irene.


"Irene, kamu memang sudah dibutakan oleh cinta pada pria yang tak memiliki masa depan itu!" ujar Wisnu merendahkan Alex.


"Cukup, Ayah. Jangan pernah hina suamiku lagi!" bentak Irene tak sanggup lagi menahan emosi.


"Ya ampun, Ren. Kamu sudah berani membentak ayahmu?" ujar Rita memanas-manasi Wisnu.


"Pergi kamu dari sini!" bentak Wisnu mengusir putrinya.


"Ayah, apa yang kamu lakukan?" ujar Lina mulai angkat bicara.


"Tidak ada gunanya dia datang ke rumah ini kalau dia terus-terusan membela suaminya," ujar Wisnu tak memperdulikan perasaan putrinya.


"Baiklah, Yah. Mulai hari ini anggaplah putrimu sudah mati. Aku takkan pernah lagi menginjakkan kakiku di rumah ini," ujar Irene.


Irene membalikan tubuhnya, lalu menarik tangan sang suami.


Mereka melangkah menuju mobil, Alex melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mertuanya.


Irene menangis tersedu-sedu di samping Alex. Melihat istrinya yang semakin sedih, dia pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Alex merengkuh tubuh sang istri, dan memberi kehangatan bagi istrinya agar dia bisa meluapkan rasa sedih yang ada di hatinya.


"Sudahlah, maafkan aku, ya. Gara-gara aku, kamu jadi bertengkar dengan keluargamu. Andaikan aku bisa memberikanmu lebih,--"


"Tidak, Sayang. Kamu sudah memberikan lebih buat aku, walaupun hidup kita sederhana. Aku tak pernah merasa kekurangan. Semua yang kamu berikan padaku sudah lebih dari cukup," ujar Irene memotong ucapan sang suami.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, ya. Kita do'akan supaya mereka bisa berubah," ujar Alex berusaha menghibur istrinya.


"Iya," lirih Irene dan menghapus air matanya yang sempat membasahi pipinya.


"Sekarang lebih baik kita pulang ke rumah Bunda," ajak Alex.


Alex pun kembali melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya.


Sesampai di rumah, Kayla dan Raffa masih berada di rumah Bunda Hurry.


Kayla sengaja meminta izin pada Raffa untuk menginap beberapa hari di rumah bundanya agar dia bisa merawat adik bungsunya.


"Bagaimana hasilnya, Ren?" tanya Kayla saat Alex dan Irene sudah masuk ke dalam rumah.


Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV dan menikmati cemilan yang dibikin oleh Bunda Hurry.


Irene tersenyum lalu dia duduk di samping Kayla, sekilas Kayla melihat wajah Irene yang sembab karena menangis.


"Kamu kenapa, Ren?" tanya Kayla penasaran.


"Mhm, enggak apa-apa," lirih Irene.


"Katakan, apa yang terjadi di rumah ibumu?" tanya Kayla pada Irene menduga terjadi sesuatu saat mereka pergi ke rumah orang tua Irene.


"Mhm, Tante Rita,..." Irene mulai menceritakan apa yang sudah terjadi di rumah orang tuanya.


"Jangan, Sayang. Kasihan Rayna dan Satya, mereka pasti bersedih. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdo'a agar Allah membuka hati mereka," ujar Kayla.


Kayla teringat bahwa Rita adalah wanita yang membesarkan dirinya dan ibu dari adik yang sangat disayanginya.


Kayla tidak ingin Rayna bersedih jika suaminya melakukan sesuatu terhadap mereka.


Raffa menatap kagum pada pemikiran istrinya yang selalu memikirkan perasaan siapa pun yang ada di sekelilingnya.


Hal inilah yang membuat Raffa semakin jatuh cinta pada wanitanya.


"Ini semua salahku, seandainya aku bisa memberikan hal yang lebih untuk Irene, keluarganya tidak akan terus-terusan menghinaku di depan Irene." Alex menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Kamu tidak salah, Sayang. Pemikiran mereka yang salah, kalau kamu mau kamu bisa kerja di perusahaan Ayah. Tapi justru kamu lebih memilih berdiri di kakimu sendiri. Mereka akan menyesal setelah kamu sukses nanti," ujar Hendra yang tak tahan putranya dihina terus-menerus oleh besannya.


"Besarkan hati kalian, dan tetap bersabar," nasehat Hendra lagi.


"Allah itu tidak tidur, cukup kita bersabar dan berdo'a," ujar Hurry menambahkan.


"Iya, Yah, Bun" lirih Alex dan Irene.


Irene merasa lebih dianggap sebagai seorang anak saat berada di keluarga suaminya daripada berada di keluarga sendiri.

__ADS_1


****


Saat makan malam bersama di ruang makan kediaman Hendra, semua orang menikmati menu makan malam sambil melihat aksi 3R yang heboh dan super lucu.


"Nenek, aku mau kalahin nenek makan," celetuk Raja.


"Aku mau kalahkan Kakek aja," timpal Raju menirukan Raja.


"Aku kalahkan ummi." Ratu tidak mau kalah.


"Baik, siapa yang habis duluan nanti Kakek belikan es krim," ujar Hendra menyemangati cucunya agar menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Oke!" seru 3R semangat.


"Hore! aku menang!" teriak Ratu memamerkan piringnya yang sudah kosong.


"Aku juga menang!" tiru Raju tidak mau kalah.


"Hiks hiks hiks," tangis Raja pecah karena makanan di dalam piringnya masih bersisa.


"Lho, My king Mama kenapa nangis?" tanya Kayla heran.


"Mhm, aku kalah, Ma." Raja mengadu pada sang Mama.


"Mhm, siapa bilang Raja kalah? saingannya kan bukan Ratu dan Raju, saingannya kakek dan nenek," ujar Kayla membujuk putra sulungnya.


"Iya, nasi nenek sama kakek masih banyak, nih," ujar Hurry ikut membujuk Raja.


"Ayo, habiskan makanan Raja, kalau bisa kalahkan nenek, Kakek belikan es krim." Hendra ikut membujuk cucunya.


"Nenek pasti kalah sama aku," seru Raja seketika sedihnya hilang begitu saja.


Semua orang tertawa melihat Raja, dia pun kembali makan dengan lahapnya.


Setelah selesai makan, Hendra membawa ketiga Cucun keluar ke supermarket untuk menepati janjinya. Sementara itu yang lainnya kembali berkumpul di ruang keluarga kecuali Akifa yang harus banyak istirahat agar cepat sembuh.


"Mhm, menurut kalian bagaimana dengan pemuda yang datang menjenguk Akifa?" tanya Hurry meminta pendapat pada anak-anaknya.


"Memangnya kenapa, Bun?" tanya Kayla penasaran.


"Kelihatannya, Akifa mengagumi pemuda itu," ujar Hurry.


"Aku tidak setuju Akifa dekat dengan pemuda itu," bantah Alex.


Semua mata menatap ke arah Alex yang terus terang menolak pemuda yang telah berbaik hati menolong Akifa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2