
"Halo, Za," ujar Nick saat tak lagi mendengar suara Nick.
"Eh, iya." Reza tersentak dari lamunannya.
Penyesalan kini hadir di dalam dirinya.
"Are you oke?" tanya Nick saat tanggapan Reza sudah berbeda
"Oh, oke. Semua sudah terlambat, Nick." Reza berkata dengan nada penuh penyesalan.
"Apa maksud lu berbicara seperti itu?" tanya Nick penasaran.
"Gue sudah menikah," jawab Reza jujur.
Bagi Reza tak ada yang harus disembunyikan, lebih baik Lisa tahu kenyataannya sekarang daripada nanti saat dia kembali berharap.
"Apa?" teriak Nick tak percaya.
Suara Nick yang menggema di ruangan itu membuat semua mata tertuju pada dirinya.
Mereka menatap Nick dengan penuh tanda tanya, meminta penjelasan apa yang sudah terjadi.
Raffa melangkah menghampiri Nick.
"Ada apa?" tanya Raffa.
Nick langsung menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Raffa.
"Siapa ini?" tanya Raffa sambil menautkan kedua alisnya.
"Reza," lirih Nick.
Deg.
Jantung Lisa berpacu dengan cepat saat mendengar nama pria yang dicintainya diucapkan oleh Nick.
"Hai, Bro apa kabar?" tanya Raffa setelah menempelkan ponsel Nick di telinganya.
"Baik, lu apa kabar? Lagi pada ngumpul, ya?" jawab Reza.
"Iya, Nih. Gue baru saja wisuda S2. Syukuran sedikit," ujar Raffa.
"Oh, selamat ya, Bro. Semoga ilmunya berkah," ujar Reza.
Terjadi percakapan biasa antara Raffa dan Reza, hal ini membuat Raffa semakin penasaran dengan apa yang dibicarakan Nick dengan Reza.
Namun, Raffa merasa tidak enak hati untuk menanyakannya secara langsung.
Tak berapa lama mereka mengobrol sambungan telpon pun diputus Raffa.
__ADS_1
"Ada apa, Bro?" tanya Raffa pada Nick mulai penasaran.
Melihat wajah Nick yang kaget dan sedih membuat Raffa tidak sabar ingin tahu pembahasan apa yang dibicarakan Nick dan Reza tadinya.
"Reza sudah menikah," jawab Nick pelan.
Namun, masih jelas terdengar oleh Lisa. Semua mata tertuju pada Lisa karena selama ini yang mereka tahu Lisa adalah gadis yang dicintai oleh Nick.
"Apa?" Raffa juga kaget mendengar pernyataan Nick.
Satu hal yang membuat Raffa heran, kenapa acara pernikahannya tidak diketahuinya.
Padahal selama ini dia termasuk orang terdekat bagi Reza.
Lisa tertunduk, hatinya hancur berkeping-keping. Sekuat tenaga dia berusaha menguatkan dirinya. Namun, dia tetap tidak bisa menahan air mata jatuh membasahi pipinya.
Kayla yang duduk di samping Lisa langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.
"Sabar ya, Lis? Mungkin dia bukan jodoh yang terbaik untukmu, Tuhan sudah menyediakan pria yang lebih baik dari Reza untuk kamu," lirih Kayla berusaha menghibur sahabatnya.
Kini penyesalan hadir di dalam dirinya, selama ini Lisa pasrah dengan takdir tanpa berusaha untuk memperjuangkan cintanya.
Seandainya dia tidak menghindari Reza waktu itu, kemungkinan besar Reza tidak akan menikah secepat ini.
Di tempat lain, Reza merasa hancur saat mendapatkan telpon dari teman Raffa.
Reza masuk ke dalam kamarnya, dia mulai mengenang kejadian satu bulan yang lalu.
Flash back On.
"Za, tanggal pernikahanmu dan Gisella sudah kami tentukan, pernikahan kalian akan diadakan secepatnya." Maryam mulai membuka obrolan setelah selesai menyantap menu makan malam.
"Aku tidak mau menikah dengan wanita pengumbar aurat seperti Gisella, Ma," tolak Reza tidak terima dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Masalah itu, kita bisa bicarakan. Mama yakin Gisella mau menutup auratnya setelah menikah denganmu," ujar Maryam memaksa Reza setuju menikah dengan wanita pilihannya.
"Aku tidak mau menikah dengan gadis itu, Ma. Aku minta mama mengerti keputusanku," ujar Reza
Reza pun keluar dari ruang makan, dia langsung melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan rumah.
Reza melajukan mobilnya menuju kawasan Mandeh, sesampai di pantai Reza langsung mengambil Speedboat yang biasa dipakainya dan melakukannya membelah lautan lepas.
Dia memilih menenangkan diri di pulau Cubadak. Tempat yang biasa dikunjunginya saat hatinya sedang kacau atau gelisah.
Reza telah membangun sebuah pondok kecil yang berkualitas di sana, dia memilih mengurung diri di sana.
"Lihat, Pa. Reza tidak setuju dengan pernikahan ini. Kita harus bagaimana?" tanya Maryam pada Sultan.
"Walau bagaimanapun kita harus tetap melanjutkan perjodohan ini. Kita sudah sepakat untuk tetap melanjutkan perjodohan dengan keluarga Sasa," ujar Sultan memaksakan kehendak mereka.
__ADS_1
Sultan bisa berbicara seperti itu karena menurutnya Gisella tertarik dengan putranya sehingga Reza nanti akan bisa mencintai Gisella setelah mereka menikah.
"Kamu tidak lihat, Pa. Reza pergi begitu saja. Dan kita sendiri tidak tahu ke mana perginya anak itu," keluh Maryam pada suaminya.
Sasa dan Lingga sangat menyukai Reza untuk menjadi menantunya, kegigihan Sasa dan Lingga membujuk mereka dalam perjodohan ini membuat Sultan dan Maryam tak sanggup menolak sehingga mereka memutuskan sepihak tanpa memikirkan perasaan putra bungsunya.
"Kita harus memikirkan ide, agar Reza setuju dengan pernikahan ini," ujar Sultan memberi sebuah usulan.
Sepasang suami istri itu pun mulai berpikir keras, mencari ide agar Reza setuju dengan pernikahan yang sudah mereka rencanakan.
Sejenak mereka terdiam, hingga akhirnya Maryam tersenyum.
"Kenapa, Ma? Kamu sudah punya ide?" tanya Sultan pada istrinya.
"Iya, Pa." Maryam mulai berbisik di telinga sang suami.
"Kita harus suruh Merry datang secepatnya ke sini," ujar Sultan.
"Ya sudah, mulai hari ini kamu berkurunglah di kamar seolah-olah kamu sakit benaran. Aku akan menghubungi Merry sekarang," ujar Sultan.
Mereka melangkah menuju kamar, dan Sultan pun menghubungi putri sulung mereka yang tinggal kota Jakarta meminta Merry langsung berangkat ke Pesisir Selatan.
Keesokan harinya, Merry sudah berada di rumah kedua orang tuanya. Dia pun meninggalkan kewajibannya demi permintaan kedua orang tuanya.
"Lalu anak itu sekarang di mana, Ma?" tanya Merry pada kedua orang tuanya.
"Mama sama papa juga tidak tahu," jawab Maryam.
"Huhhft." Merry menghela napas panjang.
Dia mencoba menghubungi adiknya.
Maryam dan Sultan terpaksa meminta bantuan putri sulung mereka untuk membujuk Reza agar menerima perjodohan ini.
"Nomor ponselnya tidak aktif," ujar Merry setelah berkali-kali dia menghubungi adiknya.
"Lalu bagaimana, Mer?" tanya Maryam penuh harap pada putrinya.
Merry tidak setuju dengan ide yang sedang direncanakan oleh kedua orang tuanya, tapi sebagai seorang anak dia terpaksa setuju demi berbakti kepada orang tua.
Merry tampak berpikir dia teringat sesuatu.
"Pa, mana kunci mobil? Aku harus pergi mencarinya," ujar Merry meminta kunci mobil.
Sultan mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas lalu memberikannya pada putrinya.
Merry mengambilnya lalu dia pun pergi meninggalkan rumah.
Bersambung...
__ADS_1