Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 156


__ADS_3

“Iya, Yah. Kita suruh Alex bujukin Agung buat mau dijodohkan sama ank teman Bunda,” ujar Hurry.


“Kamu jangan gila, Bun.” Hendra tidak setuju dengan usulan istrinya.


“Aku serius, Yah. Kalau seandainya Alex berhasil membujuk Agung mau menerima perjodohan itu, baru kita melamar Irene untuk Alex,” ujar Hurry lagi.


Hendra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia semakin pusing memikirkan maslah yang kini dihadapannya.


Hendra menarik selimut lalu menutupi wajahnya agar Hurry tidak lagi mengganggu dirinya.


“Ish, Ayah enggak seru,” dengus Hurry kesal.


Hurry pun berbaring membelakangi Hendra, dia kesal dengan sikap sang suami. Saat Hendra tak mendengar suara Hurry lagi, dia menyibakkan selimut yang menutupi wajahnya tadi, dia melirik istrinya yang kini tengah merajuk.


Keesokan harinya sebelum shalat subuh, Hurry terbangun dari tidurnya. Tanpa disadarinya tangan kekar sang suami sudah melingkar di pinggangnya.


“Yah, berat,” keluh Hurry sambil mengangkat tangan sang suami dari tubuhnya.


“Mhm, masih ngantuk, Bun,” gumam Hendra setengah sadar.


Dia pun kembali mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri.


“Yah, udah mau subuh, Bunda mau bangun,” ujar Hurry kesal.


“Sayang, aku masih mau memeluk istriku,” bujuk Hendra.


Dia masih menutup matanya, dia masih ingin bersama sang istri.


“Ayah apa-apaan, sih. Udah mau subuh, Bunda harus siap-siap buat bantuin bibi masak,” ujar Hurry semakin kesal.


“Bun,” lirih Hendra.


“Kamu itu semakin cantik kalau marah,” ledek Hendra.


“Ish, kamu itu nyebelin, Yah. Minggir,” ujar Hurry dengan nada mulai meninggi.


Hendra pun membuka matanya, dia tersenyum melihat wajah istrinya yang cemberut.


“Sayang, menyambut pagi itu dengan senyuman, bukan dengan wajah jelek kayak gitu,” goda Hendra.


“Mmoh.” Hurry pun bersiap turun dari ranjang.


Hendra pun langsung menarik tangan sang istri hingga Hurry jatuh ke dalam pelukannya.


“Sabar, dong. Aku masih mau berduaan sama kamu,” bisik Hendra menggoda sang istri.


“Huhhfft.” Hurry menghela napasnya panjang.


“Kamu masih marah soal kemarin?” tanya Hendra.

__ADS_1


“Mhm,” gumam Hurry.


“Ya udah, Ayah ikut keputusan kamu saja,” ujar Hendra setuju dengan usulan sang istri tadi malam.


“Benaran, Yah?” tanya Hurry sumringah.


Hendra mengangguk, Hurry pun senang mendengar ucapan sang suami.


“Ya udah, kalau gitu. Aku harus siap-siap masak buat dua jagoan kita,” ujar Hurry bersemangat.


Hurry pun turun dari tempat tidur, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Hendra tersenyum melihat tingkah sang istri, dia bersyukur memiliki istri mandiri seperti Hurry yang sangat menyayangi anak-anaknya. Dia tidak pernah mengatakan lelah untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya hingga sekarang semua anak-anaknya sudah dewasa.


“Makasih ya Allah, engkau masih memberikan kesehatan untuk kami. Semoga kebahagiaan ini selalu mengiringi kita, Aamiin,” lirih Hendra.


Setelah Hurry selesai membersihkan diri dia keluar dari kamar mandi menggunakan handuk dengan rambut basah yang terurai, Hendra pun berdiri menghampiri istrinya.


“Kamu menggodaku, Bun?” bisik Hendra menggoda sang istri.


“Ayah!” Hurry melototkan matanya pada sang suami.


“Aku menginginkanmu,” bisik Hendra di telinga sang istri.


“Kamu jangan aneh-aneh deh, sana mandi!” ujar Hurry lalu mendorong sang suami untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Hendra pasrah, dia pun membersihkan dirinya bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Pada pukul 06.15 hidangan sarapan pagi di kediaman keluarga Hendra sudah terhidang. Aroma menggugah selera menyeruak di setiap sudut rumah.


“Wah, aromanya bikin aku lapar, Bun,” ujar Agung saat dia baru saja masuk ke dalam ruang makan.


“Iya, Bun. Bikin rasa kantukku hilang begitu saja,” tambah Alex yang juga ikut masuk ke dalam ruang makan.


“Bunda kamu itu lagi bahagia, makanya masakannya menggugah selera,” timpal Hendra tiba-tiba ikut nimbrung dengan kedua putranya.


“Bahagia kenapa, Yah?” tanya Alex penasaran.


“Ayah juga enggak tahu,” jawab Hendra asal.


Dia tidak mungkin memberitahukan alasan sang istri bahagia, karena dia takut hal itu akan membuat putra sulungnya bersedih.


Hendra harus memikirkan cara untuk menyampaikan rencananya pada Agung, agar putra sulungnya tidak tersinggung dan sakit hati.


Di atas meja sudah terhidang nasi goreng kesukaan keluarga besar Hendra. Nasi goring seafood dengan bumbu rendang yang diracik dengan tangan seorang bunda yang memiliki rasa sayang yang melimpah untuk keluarganya.


“Kita udah boleh makan nih, Bun?” tanya Alex yang sudah siap-siap mengambil piringnya.


Agung melirik Alex, dia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Alex yang sedari dulu tak pernah berubah.

__ADS_1


“Boleh, Sayang. Yuk kita makan bareng,” ujar Hurry.


Hurry pun mengambil piring yang ada di hadapan sang suami, lalu mengisi piring itu dengan nasi goreng spesial buatannya.


“Udah, Yah?” tanya Hurry pada sang suami setelah memasukkan dua sendok nasi goreng ke piring sang suami.


“Segitu dulu, Bun. Nanti kalau mau lagi, kan bisa nambah,” jawab Hendra pada istri tercintanya.


Hurry menambahkan bumbu rendang kesukaan keluarga besarnya, lalu memberikan piring itu pada sang suami.


Setelah itu, dia pun mengambil makanan untuk dirinya, sedangkan Agung dan Alex mengambil makanan mereka sendiri-sendiri.


“Bunda memang ibu terhebat di dunia ini,” puji Alex pada sang Bunda.


“Masa’ sih?” lirih Hurry menautkan kedua alisnya.


“Benar, Bun. Aku belum pernah ketemu sama ibu terhebat seperti Bunda,” tambah Alex.


“Alah gombal. Karena ada maunya,” celetuk Agung.


“Idih, kenapa lu yang sewot, Bang?” ledek Alex.


“Udah-udah, jangan berantem. Nanti makanannya jadi enggak enak.” Hendra menghentikan perdebatan antara kedua putranya.


“Lagian Bang Agung yang mulai duluan, Yah,” keluh Alex.


“Udah, Abang kamu Cuma bercanda,” bela Hurry.


Agung hanya tersenyum melihat wajah kesal Alex.


Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan makan mereka. Semua anggota keluarga Hendra menikmati sarapan pagi dengan lahap disertai perasaan yang bahagia.


Tak ada terdengar suara apa pun kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring mereka masing-masing.


Selesai mereka menyantap hidangan sarapan pagi. Mereka duduk sebentar sambil menunggu makanannya turun ke perut.


“Alex, Agung. Ayah mu bicara serius dengan kalian berdua.” Hendra mulai membuka topik pembicaraan yang akan disampaikannya.


Alex dan Agung saling melempar pandangan, mereka tak sabar mendengar apa yang akan disampaikan oleh sang Ayah.


“Begini, Nak. Ayah dan Bunda sudah memikirkan apa yang diminta oleh Alex kemarin malam,” Hendra sengaja menjeda ucapannya menunggu reaksi dari kedua putranya.


“Lalu?” tanya Alex sudah taka sabar menunggu kelanjutan ucapan sang Ayah.


“Alex adalah putra bungsu di rumah ini, jika kamu meminta izin untuk menikah saat ini, itu artinya kamu melangkahi Agung sebagai putra sulung di rumah ini,” ujar Hendra menghela napas panjang.


Dia berusaha menyampaikan apa yang mereka rencanakan dengan sebaik mungkin agar Agung tidak salah paham.


“Jika Alex memang mau menikah, Ayah dan Bunda mengizinkan dengan satu syarat Agung juga mau menikah!” ujar Hendra.

__ADS_1


Agung memutar bola matanya tak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh sang Ayah.


Bersambung...


__ADS_2