
Mata Satya tertuju pada benda pipih di tangannya, dia mulai memutar-mutar benda pipih itu.
"Dasar cewek aneh," gumam Satya dalam hati sambil mengingat kejadian tadi siang.
Satya yang baru saja dari toilet umum kaget melihat Rayna berteriak meminta tolong. Dia juga menangkap bayangan seorang anak remaja laki-laki berlari menjauh dari posisi Rayna.
Dengan langkah seribu, dia berlari mengejar sang anak remaja yang kini tengah bersembunyi di sebuah gubuk reot di luar kawasan objek wisata.
Satya memperlambat langkah kakinya sambil memperhatikan apa yang dilakukan anak remaja itu.
"Aku akan menjual ini untuk pengobatan ibu," lirih anak itu.
"Ponsel siapa itu?" tanya Satya pada anak remaja yang diperkirakan umurnya sekitar 15 tahun.
"Jangan pergi!" bentak Satya sambil mencekal tangan remaja yang hendak melarikan diri.
"Aku bisa saja melaporkan perbuatanmu pada pihak berwajib, jika kau tidak memberikan ponsel itu padaku," ancam Satya pada anak remaja itu.
"Maafkan aku, Tuan," lirih anak itu memohon.
"Tolong jangan laporkan aku," pinta anak itu memohon.
"Berikan ponsel itu," perintah Satya sambil menengadahkan tangannya.
"Tapi, Tuan," lirih anak itu ragu.
Anak itu mulai menangis.
"Tuan, ibu sedang sakit. Aku harus mencari uang untuk membayar pengobatannya." Anak itu mulai bersimpuh di hadapan Satya.
Hati Satya pun tersentuh, akhirnya Satya memberikan 5 lembar uang seratusan pada anak remaja itu.
"Makasih, Tuan," ucap remaja itu.
Lalu dia berlari menuju sebuah gubuk kecil yang tidak jauh dari posisi Satya berdiri.
Setelah tak lagi melihat remaja yang menghilang di balik gubuk miliknya, Satya melangkah kembali menghampiri Rayna.
Awalnya Satya ingin mengembalikan ponsel Rayna tapi karena menadapat tanggapan tidak enak dari Rayna, akhirnya dia memutuskan untuk menyembunyikan ponsel gadis itu.
Satya mengotak-atik ponsel milik Rayna, ternyata Rayna tidak memberi sandi di ponselnya sehingga Satya bisa bebas membuka aplikasi yang ada di sana.
Satya kaget saat membuka galery karena banyak foto dirinya terpajang di sana dengan berbagai posisi karena Rayna mengambil photo itu tanpa sepengetahuan Satya.
"Kenapa photoku bisa ada di sini," gumam Satya di dalam hati.
****
Satu minggu telah berlalu. Perjalanan traveling yang direncanakan Raffa untuk berbulan madu dengan sang istri berakhir dengan lancar.
Meskipun perjalanan tak sesuai dengan keinginannya ulah ikutnya adik iparnya. Namun, Raffa sangat menikmati perjalanan itu.
Mereka mengunjungi berbagai objek wisata yang terdapat di Ranah Minang itu. Ranah yang selalu dikunjungi oleh tourist mancanegara dalam ajang tour de Singkarak setiap tahunnya.
Mereka saat ini tengah dalam perjalanan dari Pesisir Selatan menuju kota Padang.
"Kak, sampai di Padang. Aku nginap di rumah Bibi Lina saja, ya," pinta Rayna pada sang kakak saat mereka di dalam mobil.
"Kenapa?" tanya Kayla heran.
__ADS_1
"Bibi tahu aku sedang berada di Padang dari ibu, jadi enggak enak kalau enggak mampir ke sana," jawab Rayna jujur.
"Terserah kamu, aku juga belum pernah ke sana sejak sampai di Padang," ujar Kayla menanggapi.
"Ya udah besok saja kalian ke sana, hari ini kita istirahat dulu di rumah," usul Raffa menyela pembicaraan kakak beradik itu.
"Baiklah, Mas" jawab Rayna setuju dengan usul.
Menjelang waktu dzuhur masuk, mobil Raffa memasuki pekarangan kediaman keluarga Surya.
"Assalamu'alaikum," ucap Kayla dan Raffa sebelum masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," sahut Arumi yang langsung berlari menghampiri anak dan menantunya.
"Mama kangen, Sayang," lirih Arumi memeluk tubuh menantu kesayangannya.
"Sama Raffa engga kangen, Ma?" protes Raffa memasang wajah cemberut.
"Enggak," jawab Arumi cuek. Dia menggiring menantunya masuk ke dalam rumah.
Arumi mengajak mereka beristirahat sejenak di ruang keluarga untuk melepas rasa rindunya.
Raffa menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal yang ada di sana, sedangkan Kayla duduk tepat di samping ibu mertuanya.
" Ma, mas Raff banyak beliin oleh-oleh buat mama," ujar Kayla memulai pembicaraan dengan ibu mertua.
"Mana?" pinta Arumi.
"Sabar dong, Ma. Lagi diambil sama Bi Sari," jawab Raffa.
"Kayla minta maaf ya, Ma. Kayla nggak ada beli oleh-oleh untuk mama, soalnya Kayla," lirih Kayla menundukkan kepala.
"Yang dibelikan Raffa itu, pasti kamu kan yang memilihnya," tebak Arumi penuh keyakinan.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga Bi Sari datang membawakan barang-barang khas daerah mulai dari tas, songket, dan pernak-pernik lainnya yang merupakan hasil kerajinan daerah yang dikunjungi mereka.
Arumi sangat senang dengan oleh-oleh yang dibelikan anak dan menantunya.
Malam sebelum tidur, Raffa membuka ponselnya, dia melihat beberapa pesan dari grup teman SMA-nya.
Mereka akan mengadakan meet up besok di sebuah cafe tempat mereka biasa berkumpul.
π Fa, lu di mana sekarang?
Sebuah pesan pribadi masuk di pesan wa dari Gamal.
π Di Padang
Raffa membalas pesan Gamal dengan singkat.
π Besok lu ikut acara, kan?
π Mhm
π Enggak asik kalau lu enggak ikut, teman-teman maunya lu datang. Enggak ada penolakkan.
π Ya udah, deh.
Raffa menghela napas panjang. Terpaksa dia besok tidak bisa ikut menemani Kayla berkunjung ke rumah bibinya.
__ADS_1
Keesokkan harinya pasangan suami istri itu melakukan aktifitas seperti biasanya mulai dari bangun tidur pada pukul empat sebelum subuh melaksanakan ibadah yang biasa dilakukannya.
"Sayang, nanti aku ngga bisa temani kamu di rumah Bibi, ya," ujar Raffa pada Kayla usai shalat subuh.
"Kenapa?" tanya Kayla kecewa.
"Besok ada acara meet up teman-teman SMA," jawab Raffa.
"Oh. Ya udah, enggak apa-apa. Nanti aku ikut Rayna aja di antar Satya.
"Enggak bisa, nanti aku antar kamu dulu. Setelah itu aku pergi," bantah Raffa tak ingin Kayla pergi dengan Satya.
"Terserah kamu aja," lirih Kayla.
Setelah selesai sarapan, Irene berkali-kali menghubungi Rayna. Dia sudah tak sabar berjumpa dengan Rayna.
Akhirnya Rayna langsung berangkat menuju rumah bibinya di antar oleh Satya.
"Aku pamit ya, Ma, Pa," ujar Rayna pamit pada mertua kakaknya.
"Iya, kamu hati-hati di sana, kalau enggak betah di sana balik lagi ke sini, ya," ujar Arumi.
Arumi memang sangat ingin memiliki anak perempuan, oleh karena itu dia sangat menyayangi Kayla begitu juga Rayna.
Rayna melangkah keluar rumah, di sana dia belum melihat tanda-tanda Satya menunggunya.
Rayna mondar-mandir di depan pekarangan rumah Kediaman keluarga Surya menunggu
Teeett
Terdengar klakson mobil berbunyi menghampiri gadis itu yang berhasil membuat Kayla terperanjat kaget sambil menutupi telinganya.
"Woi, enggak punya adab lu!" bentak Rayna yang mengira Satya yang usil mau mengerjainya.
"Hah?" Rayna melototkan matanya saat melihat seorang pria yang keluar dari mobil yang hampir menabraknya.
****
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
__ADS_1
-Vote
Terima kasih atas dukungannya πππ