
Rayna menoleh ke arah Satya.
"Mama mau izin apa, Ma?" tanya Rayna penasaran.
"Ibu mau pulang ke Padang, mungkin untuk sementara waktu, Ibu mau menenangkan diri di sana." Rita menatap sendu pada putrinya.
Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Rayna di Bandung. Di saat Satya sibuk bekerja sudah dipastikan putrinya itu akan tinggal seorang diri di rumah.
Rayna kembali menoleh ke arah sang suami, dia tidak tahu harus menjawab apa.
Di saat dia sudah kehilangan sosok sang ayah, ibunya pun juga ingin pergi meninggalkan dirinya.
"Kalau ibu merasa lebih tenang di sana, aku setuju," sahut Satya menanggapi permintaan ibu mertuanya.
"Mas," lirih Rayna.
Dia ingin membantah, tapi Satya langsung menggenggam tangannya.
Akhirnya Rayna memilih untuk diam.
"Aku tahu, kenyataan ini sulit untuk kita lewati, tapi walau bagaimanapun kita tetap haru terus melanjutkan perjalanan kita, jika Ibu merasa lebih tenang tinggal di Padang. Kami mendukung keputusan ibu," ujar Satya dengan bijak.
"Lalu bagaimana dengan Rayna? Di saat kamu pergi kerja, otomatis dia akan tinggal seorang diri," tanya Rita mengkhawatirkan putri semata wayangnya.
"Ibu tenang saja, Rayna akan melanjutkan kuliahnya. Rayna akan kuliah di Universitas Al-azhar dengan Kayla." Satya mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan sang istri yang akan menjalaninya.
"Benarkah begitu, Rayna?" tanya Rita langsung pada putrinya yang dia sendiri tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.
"I-iya, Bu." Rayna mengiyakan ucapan sang suami.
Rayna masih bimbang dengan apa yang sudah diputuskan oleh suaminya, karena dia sendiri belu tentu sanggup untuk berpisah dengan sang suami.
"Ya sudah, kalau begitu. Ibu akan berangkat besok." Rita memutuskan.
"Secepat itu, Bu?" tanya Rayna.
Rita mengangguk.
"Kalau kamu ingin ikut ke Padang bersama Ibu dulu, boleh," ujar Satya mengizinkan.
"Enggak, aku di sini saja bersama kamu, Mas," lirih Rayna.
Sejak Satya sah menjadi suami Rayna, gadis belia itu tak sanggup berpisah sedikit pun dari sang suami.
Rayna sudah terlanjur tergantung pada suaminya yang selalu menjaga dan melindunginya.
Setelah percakapan mereka selesai, mereka pun menyelesaikan kegiatan sarapan mereka.
Satya bersiap-siap untuk berangkat ke kantor Brama Corp. Satya melaksanakan perintah Raffa untuk menggantikan posisi Bram sementara waktu hingga Kayla siap untuk mengelola perusahaan tersebut.
Bagi Raffa, perusahaan Bram tidak terlalu diinginkannya karena Satya sendiri akan melanjutkan perusahaan Papanya di Padang.
Raffa ingin memberikan perusahaan tersebut pada Rayna agar tak ada lagi kebencian Rita pada sang istri. Oleh sebab itu, Raffa memerintahkan Satya mengelola perusahaan tersebut.
"Mas, kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Rayna pada Satya saat mereka telah berada di teras rumah.
__ADS_1
Satya hendak berangkat menuju kantor.
"Iya, Sayang. Aku tidak suka melihatmu terus-terusan bersedih. Jika kamu memiliki kegiatan, lambat lain kamu akan melupakan kesedihanmu," ujar Satya.
"Tapi, Mas. Aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu," ujar Rayna keberatan.
"Jakarta-Bandung tidak terlalu jauh, aku akan datang mengunjungimu kapanpun kamu mau," ujar Satya sambil membelai lembut pipi istri belianya.
Mau tak mau akhirnya Rayna pun mengalah, tak ada alasan baginya untuk membantah keputusan sang suami karena Rayna yakin setiap keputusan yang sudah diambil Satya pasti sudah dipikirkannya dengan matang.
"Baiklah, aku akan mengikuti semua keputusan kamu, Mas," ujar Rayna setuju.
Satya pun tersenyum pada istrinya, lalu pria tampan itu mengecup lembut puncak kepala sang istri.
"Aku berangkat dulu, ya. Kamu jaga ibu baik-baik dan jangan perlihatkan kesedihanmu agar ibu tidak sedih juga," ujar Satya menasehati sang istri.
Rayna mengangguk lalu menyalami dan menciumi punggung tangan suaminya.
"Aku mencintaimu, Mas," lirih Rayna.
Satya mengacak kepala Rayna yang terbungkus hijab sambil mengembangkan senyumannya yang menawan.
Setelah itu, Satya pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Bramantyo.
Keesokan harinya, Rayna dan Satya mengantarkan Rita ke Bandara.
"Bu, aku minta ibu di sana hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, ibu harus langsung menghubungiku. Aku pasti akan merindukan Ibu." Rayna memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya.
Dia tak sanggup menahan air matanya, Rayna melepas kepergian ibunya dengan Isak tangis.
Dengan berat hati Rita harus meninggalkan kota yang penuh kenangan bersama sang suami tercinta.
Dia memilih untuk kembali ke tanah kelahirannya berharap di sana bisa melakukan sesuatu yang membuat dirinya lupa akan kesedihannya.
"Kita pulang?" tanya Satya pada Rayna setelah Rita masuk ke dalam ruang tunggu penumpang.
"Lalu kita mau ke mana, Mas?" tanya Rayna pada sang suami dengan polosnya.
"Mhm, enggak tahu," ujar Satya sambil mengangkat bahunya bingung.
"Ya udah, ikut aku saja," ajak Satya.
Pria yang memiliki tinggi 170 itu menarik tangan istrinya menuju parkiran, mereka langsung masuk ke dalam mobil setelah berada di dekat mobil mereka.
Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tengah memikirkan tempat yang pas untuk dikunjungi agar Rayna bisa terhibur dan lupa dengan kesedihannya.
"Oke, lebih baik aku bawa Rayna ke pantai," gumam Satya di dalam hati.
Sambil mengemudikan mobilnya, Satya mengetik pesan pada seseorang.
"Mas, kalau nyetir jangan main hp," ujar Rayna mengingatkan suaminya saat melihat Satya asyik dengan ponselnya.
"Iya, Sayang. Sebentar kok, ada yang penting," ujar Satya dengan senyuman.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Bandara mereka sampai di sebuah pantai nan indah yang tidak jauh dari kota Bandung.
__ADS_1
"Wah pantai," pekik Rayna senang.
Rayna memang sudah lama tidak melakukan perjalanan mengunjungi pantai. Semenjak Kayla kuliah di Jakarta, Bram mulai jarang mengajak mereka piknik.
Rayna juga malas pergi piknik tanpa Kayla, karena sejak kecil Kayla selalu menjadi kakak dan sahabat terbaik baginya.
Satya tersenyum melihat ekspresi istrinya yang mulai ceria.
"Kamu suka?" tanya Satya pada sang istri.
"Aku suka, sudah lama kami tidak pergi ke pantai," jawab Rayna jujur.
"Yuk," ajak Satya.
Mereka turun dari mobil, Satya menggenggam tangan istrinya dengan erat.
Mereka mulai melangkah menyisiri pantai, menatap jauh ke lautan yang sangat indah.
Baru beberapa meter mereka melangkah, Satya berhenti lalu membuka sepatunya.
"Ayo buka sepatunya," pinta Satya bersiap membukakan sepatu sang istri.
Rayna pun mengangkat kakinya, dengan senang hati Satya membantu Rayna membuka sepatu. Setelah itu mereka kembali menyisiri pantai yang dibasahi oleh ombak.
Sepasang suami istri itu pun mulai mengabadikan kenangan mereka melalui ponsel mereka.
Sambil menikmati angin laut yang menyejukkan mereka terus melangkah ke suatu tempat yang sudah disiapkan oleh Satya.
"Lihatlah!" tunjuk Satya ke arah depan.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ