
Saat azan subuh berkumandang, Alita terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya. Kesadarannya masih belum seutuhnya kembali, tapi dia merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.
Alita mencoba melepaskan sesuatu yang ada di atas tubuhnya, dia masih belum menyadari keberadaan Raymond di sampingnya.
“Aaakk,” teriak Alita ketakutan saat mengangkat tangan Raymond.
Dia mengira ada tangan hantu yang ikut tidur bersamanya. Dia menutup wajahnya dengan selimut.
Raymond terbangun saat mendengar teriakan istrinya yang hampir saja memecahkan gendang telinganya.
Raymond langsung bangkit dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
“Ada apa?” lirih Raymond dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Alita mendelikkan matanya saat mendengar suara yang tidak asing baginya.
“Hah? Kenapa Raymond ada di sini?” Alita bertanya-tanya di dalam hati.
Perlahan Alita membuka selimut yang menutupi wajahnya, dia mengintip apakah suara yang didengarnya itu suara manusia atau hantu.
“Kamu?” pekik Alita kaget.
Saking kagetnya Alita langsung bangkit dan turun dari tempat tidur.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Alita khawatir Raymond mencari kesempatan untuk menyentuh dirinya.
Alita mencoba mengecek pakaiannya, dia khawatir Raymond melakukan kewajibannya sebagai suami di saat dia tertidur dengan pulasnya.
“Alhamdulillah, pakaianku masih aman,” gumam Alita di dalam hati.
“Kamu pasti mau melakukan yang bukan-bukan samak aku! Ayo ngaku!” teriak Alita.
Alita yang kesal melihat keberadaan Raymond langsung mengambil guling dan memukul Raymond dengan guling tersebut. Raymond tak bisa berbuat apa-apa, dia yang belum sempat membela diri, sudah dihujani dengan pukulan sang istri.
“Dasar suami enggak ada akhlak! Mencari kesempatan dalam kesempitan!” teriak Alita masih saja dnegan aksi memukuli tubuh Raymond.
Raymond bingung saat mendapat serangan mendadak dari sang istri, dia hanya bisa berusaha menghindar, walaupun pukulan Alita masih saja tepat mengenai kepalanya.
“Hei, ampun,” seru Raymond memohon agar Alita menghentikan aksinya.
__ADS_1
“Kamu jahat! Menyebalkan!” Alita terus memaki sang suami hingga akhirnya dia berhenti karena lelah.
“Huhhfft.” Alita menghela napas panjang.
Raymond pun turun dari tempat tidur, dia juga kelelahan karena aksi beringas sang istri.
Lalu dia duduk di sofa yang ada di kamar itu.
“Apakah sudah puas?” tanya Raymond kesal dengan tindakan yang dilakukan oleh istrinya.
“Belum! Kamu pasti melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan,” jawab Alita.
“Asal kamu tahu!” ujar Raymond dengan nada sedikit penuh tekanan, yang memaksa aku tidur di sini adalah dirimu sendiri. Kamu yang menarikku dan memintaku untuk memelukmu,” ujar Raymond menyampaikan pada Alita alasan keberadaan dirinya di dalam kamar sang istri.
Raymond tidak mau dituduh melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh istrinya.
“Bohong! Kamu pasti bohong dan berusaha mencari-cari alasan,” ujar Alita masih tetap menuduh Raymond mencari kesempatan untuk mendekatinya.
“Oh, kamu memang mau aku deketin?” Mendadak Raymond merasa kesal dituduh yang bukan-bukan.
Raymond berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati Alita, dia tidak mempedulikan Alita yang sudah melangkah mundur sehingga Alita sudah terduduk di atas tempat tidur, Raymond masih saja mendekati istrinya akhirnya Alita pun terbaring di atas tempat tidur.
“Kamu mau aku apakan?” tanya Raymond tepat di wajah Alita.
Alita hanya diam, jantungnya mulai berdegup dengan kencang. Dia memalingkan wajahnya, takut.
Raymond menatap dalam wajah cantik sang istri, jantungnya kini juga mulai berdegup dengan kencang.
Raymond mengangkat tubuhnya dan berdiri tegap. Dia keluar dari kamar Alita, dia tak lagi dapat menahan hasratnya, sesuatu yang sejak tadi ditahannya kini talk lagi dapat dikondisikan, wajahnya sudah memerah menahan hasrat yang menggelora di dalam jiwanya.
Raymond memilih keluar dari kamar itu, dia takut tidak bisa mengontrol dirinya, dia melangkah menuju kamarnya membiarkan Alita yang masih cemas dengan kelakuan sang suami pada dirinya.
“****, sampai kapan aku akan menahan hal ini?” gerutu Raymond yang masih belum bisa memiliki sang istri seutuhnya.
Seperti lelaki normal biasanya, Raymond pun melancarkan aksinya di dalam kamar mandi. Menyalurkan hasratnya yang terpendam dengan caranya sendiri.
Alita menutup wajahnya dengan tangan selepas kepergian Raymond dari kamarnya.
“Ya ampun, apa sebenarnya yang sudah terjadi?” gumam Alita.
__ADS_1
Tak berapa lama Alita berdiam diri menenangkan dirinya, dia bangkit dari posisi berbaringnya. Dia berusaha menstabilkan suasana hatinya yang masih bergejolak. Alita pun melangkah menuju kamar mandi bersiap-siap untuk melaksanakan shalat subuh.
Sepanjang dia melakukan kegiatan, di benaknya hanya terlintas wajah tampan sang suami dengan penuh pesonanya.
Usai shalat subuh, Alita langsung menuju dapur menyiapkan sarapan. Dia harus menyiapkan diri entah apalagi yang akan diperbuat suaminya terhadap dirinya hari ini.
Bisa jadi hari ini, Raymond kembali memaksa dirinya ikut bekerja seperti hari sebelumnya. Tak butuh waktu lama Alita selesai memasak nasi goreng untuk sarapan. Walaupun masakannya tidak seenak masakan Raymond tapi dia tetap melakukan hal itu karena tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Setelah nasi goreng terhidang di atas meja makan, Raymond masuk ke dalam ruang makan. Dia terlihat canggung mengingat apa yang baru saja dilakukannya terhadap sang istri.
Raymond duduk di kursi meja makan, dia langsung menikmati nasi goreng yang sudah tersedia di piringnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya mereka menikmati sarapan pagi dalam situasi yang canggung.
“Hari ini, kamu di rumah saja. Aku ada pertemuan mendadak dengan Satya dan Raffa. Mereka sudah berada di Jakarta,” ujar Raymond pada Alita setelah dia menghabiskan sarapannya.
“Mhm,” gumam Alita ada rasa sedih menyelinap di hati Alita.
Selama ini dia selalu berada di samping Raymond, dan ini pertama kalinya Raymond tidak membawanya ke mana dia pergi walaupun bekerja.
Setelah selesai sarapan, Raymond berdiri dan melangkah keluar rumah, diikuti oleh Alita dari belakang.
“Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu suka, tapi aku tidak mengizinkanmu keluar dari rumah,” ujar Raymond sebelum berangkat bekerja.
Alita mengangguk, lalu diam menatap kepergian suaminya. Dia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Raymond tak terlihat lagi. Alita menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Dia menghidupkan TV.
“Apa yang akan aku lakukan satu hari ini?” gumam Alita di dalam hati.
Dia bingung harus melakukan apa di rumah ini, semua pekerjaan rumah akan dilakukan pembantu rumah tangga yang sebentar lagi datang ke rumah, Raymond memang mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga di rumahnya. PRT itu datang setiap hari untuk melakukan berbagai hal menyangkut kebersihan rumah, termasuk mencuci dan menggosok pakaian.
Alita menekan tombol remote mengganti chanel TV, berulang-ulang dilakukannya tapi tak ada chanel yang dirasanya cocok untuk dirinya.
“Huhhfft.” Alita menghela napas panjang. Dia mulai bosan tinggal seorang diri di rumah.
Baru satu jam Raymond pergi dari rumah, Alita sudah tidak tahan berdiam diri di rumah seorang diri.
Dia juga mencoba membuka ponselnya untuk menghibur diri, tapi entah mengapa hidupnya terasa hampa dan selalu ingin berada di dekat sang suami.
“Apa aku coba telpon dia saja?” gumam Alita.
Dia menekan nomor ponsel Raymond dan bersiap untuk melakukan panggilan dengan sang suami, tapi…
__ADS_1
Bersambung…