Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 130


__ADS_3

Kayla berlari sambil menunjuk ke arah mobil yang membawa Rayna. Bertepatan waktu dzuhur sudah masuk sehingga situasi di sana sangat sepi.


Fitri kaget saat mendengar teriakan Kayla, dia langsung berlari mengejar mobil tersebut, karena masih di kawasan kampus mobil tersebut tidak bisa melaju dengan kencang, sehingga Fitri dapat menghadang mobil itu.


Tak berapa lama dua orang berjas hitam juga ikut membantu Fitri menghadang mobil tersebut. Pengemudi mobil tersenut panic, mereka tak menyangka ada orang yang akan membantu Rayna.


“Turunkan dia!” perintah si pengemudi.


Pria yang tadi menarik tangan Rayna langsung mendorong Rayna keluar dari mobil sehingga Rayna terjatuh kejalanan. Kepala Rayna terbentur ke aspal. Fitri menghampiri Rayna yang kini tergeletak pingsan.


Dua orang berjas itu pun lengah karena panic melihat Kayla, sehingga penculik Kayla dapat kabur dan meninggalkan kawasan kampus.


“Sial!” teriak si pengemudi mobil van itu kesal.


“Bos, sepertinya Rayna ada yang jagain,” ujar pria yang tadi menarik tangan Rayna.


“Lain kali kita harus berhati-hati,” ujar si pengemudi.


“Untung saja situasinya bertepatan shalat dzuhur berjamaah jadinya kampus sedang sepi, kalau enggak kita bisa berurusan denga pihak berwajib,” ujar si pria yang duduk di jok belakang.


“Dek, bangun!” Kayla mengguncang tubuh adiknya.


Pria berjas itu membantu mengangkat Rayna ke sebuah bangku panjang yang tidak jauh dari tempatnya terjatuh.


Kayla mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam tasnya, lalu dia mengoleskan minyak kayu putih itu di hidung sang adik.


Tak berapa lama, Rayna pun terbangun.


“Kakak!” teriak Rayna histeris ketakutan.


“Kak aku takut,” pekik Rayna.


“Kamu tenang dulu, ya,” ujar Rayna menenangkan adiknya.


Kayla memeluk Rayna sambil mengelus lembut punggung adiknya.


Tak berapa lama Raffa datang, dia mendapat kabar dari bodyguard yang menjaga Rayna bahwa Rayna dalam bahaya.


“Bang Raffa,” seru Kayla saat melihat sang suami.


“Kita langsung pulang, ya,” ajak Raffa.


Raffa tidak ingin kerumunan para mahasiswa semakin banyak, untuk itu dia mengajak dua kakak beradik itu langsung pulag.


Kayla membantu Rayna berdiri dan langsung membawa Rayna masuk ke dalam mobil.


“Saya boleh ikut?” tanya Fitri.


Kayla mengangguk dan membiarka Fitri masuk ke dalam mobil, Raffa langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus.


Di rumah, mereka duduk di ruang tamu, di depan rumah Raffa juga sudah berdiri 4orang bodyguard tambahan yang dikirim Satya untuk menjaga istrinya.


Raffa terlihat sangat panic dengan situasi yang kini mereka hadapi, berbagai masalah datang secara bersamaan.


Mereka hanya diam dan berpikir untuk menyelesaikan permasalahan terror yang selalu mengincar Rayna.


“Kak.” Fitri mulai membuka suara.


“Sepertinya mulai saat ini Rayna tidak bisa pergi seorang diri,” ujar Fitri.


“Kamu benar,” seru Raffa menanggapi ucapan Fitri.

__ADS_1


Kayla menoleh ke arah Fitri.


“Kalau boleh tahu, kamu siapa?” tanya Kayla heran.


Raffa memandang Fitri, lalu dia mengangguk. Kaylaheran melihat Raffa yag berinteraksi lewat pandangan dengan wanita yang baru saja dilihatnya.


“Aku salah satu karyawan kafe di Bandung, Bang Satya menyuruh aku untuk selalu menjaga Rayna,” jawab Fitri jujur.


“Jadi, kamu mau berteman dengan aku karena,--“


“Iya, Ray. Bang Satya sengaja memberi fasilitas aku sekolah dan kuliah khusus untuk menjaga kamu,” tutur Fitri jujur.


Kayla tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fitri, dia menatap sang suami untuk menjelaskan semua yang tidak dia mengerti.


“Sayang, Fitri adalah karyawan kepercayaan di kafe yang ada di Bandung, untuk menyelesaikan masalah Rayna, Satya sengaja menyuruh Fitri untuk menjadi mata-mata di sekolah dan sekarang Satya juga menyuruh Fitri kuliah bersama Rayna agar Fitri bisa menjaga Rayna. Awalnya hal ini akan dirahasiakan dari Rayna agar Rayna merasa nyaman berteman dengan Fitri,” jelas Raffa panjang lebar.


Kayla pun mengangguk paham.


“Dalam situasi seperti ini, Fitri akan selalu ada di mana pun Rayna berada, dan Fitri juga akan tinggal di sini.” Raffa mengambil keputusan tanpa meminta pendapat dari Satya.


****


Satu bulan sudah berlalu, sejak Fitri selalu berada di samping Rayna taka da yang berani mendekati Rayna. Hari-hari Rayna semakin hari semakin membaik karena dia memiliki teman sebaik Fitri, walaupun Fitri merupakan orang suruhan saminya, Rayna tetap menganggap Fitri sebaga seorang sahabat.


Malam itu semua orang berkumpul di meja makan, Satya juga datang mengunjungi Rayna. Mereka menyantap makan malam bersama.


“Kalau seperti ini aku jadi anti nyamuk, nih,” lirih Fitri bersiap mengangkat piringnya, dia berniat untuk makan di dapur seorang diri.


“Kamu mau ke mana?” tanya Satya pada Fitri.


“Aku mau makan di dapur aja, Bang,” jawab Fitri.


“Kenapa harus di dapur?” tanya Satya.


Dua pasang suami istri pun tersenyum mendengar jawaban Fitri.


“Kamu juga mau ada pasangan?” tanya Raffa menggoda Fitri.


“Bang Raffa apaan, sih,” gerutu Fitri.


"Hahaha."


Tawa mereka pun pecah mendengar gerutuan Fitri. Terlihat mereka semua akur dan saling memahami tinggal satu atap.


Setelah makan malam semua orang kembali ke kamar masing-masing.


Raffa dan Kayla bersantai di atas tempat tidur setelah selesai menyelesaikan ibadah shalat isya.


Drrrttt... drrrttt...


Terdengar ponsel Kayla berdering, mengusik kebersamaan sepasang suami istri itu.


Kayla melihat nama Bundanya tertera di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Raffa.


Kayla memperlihatkan layar ponsel ke arah sang suami.


Rafa tersenyum.


"Angkatlah!" perintah Raffa.

__ADS_1


"Halo," ujar Kayla setelah panggilan tersambung.


"Halo, Sayang," ujar Hurry.


"Kamu bagaimana kabar, Bunda?" tanya Kayla dengan sumringah.


"Alhamdulillah baik, Bun," jawab Kayla.


"Sayang, besok Bunda ke Jakarta, ya," ujar Hurry memberi kabar kedatangannya.


"Bunda mau ke sini?" tanya Kayla antusias.


"Iya, Nak. Bunda boleh samperin kamu?" ujar Hurry.


"Boleh, dong," seru Kayla bahagia.


"Ya udah, sampe ketemu besok ya," ujar Hurry.


Hurry memutuskan sambungan telponnya.


Keesokan harinya, Raffa menjemput Bunda ke Bandara. Kayla dan Rayna masih ada jadwal kuliah.


"Ayo, Bun," ajak Raffa masuk ke dalam mobil.


Hurry ke dalam mobil menantunya. Hurry hanya datang seorang diri, dia sengaja datang ke Jakarta hanya karena dia merindukan putri sulungnya.


Raffa mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Bundanya duduk dengan nyaman di sampingnya.


Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bun, aku mau tanya sesuatu, boleh?" tanya Raffa memulai obrolan antara dirinya dan sang ibu mertua.


Dia teringat sesuatu yang beberapa bulan terakhir menjadi pertanyaan di benaknya.


"Mau tanya apa, Nak?" Jawab Hurry penasaran.


"Bun, aku mau tanya nama lengkap Ara, siapa?" tanya Raffa terus terang.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan

__ADS_1


-vote


terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏


__ADS_2