
"Ya ampun, gimana dong?" tanya Kayla terlihat kesal.
Dian merasa tidak enak hati melihat raut wajah Kayla yang kesal.
"Maaf ya, Kay," lirih Dian merasa bersalah.
"Ya udah, aku balik dulu ke asrama buat jemput," ujar Dian.
Dian yang belum sempat duduk langsung membalikkan tubuhnya lalu melangkah keluar kelas menuju asrama.
Kayla hanya diam membiarkan sahabatnya pergi sendirian.
"Dian!" panggil Gita.
Namun, Dian sudah tak terlihat lagi.
Gita dan Lisa saling melempar pandangan melihat ekspresi Kayla yang kini cemberut.
Keceriaan mereka sirna seketika dengan perubahan sikap Kayla. Gita dan Lisa memilih untuk diam dan mereka duduk di kursi masing-masing.
Dian melangkah cepat menuju asrama karena takut terlambat masuk perkuliahan jam pertama.
Saat Dian melintasi jalan.
Tiiit, terdengar klakson sepeda motor gede yang memekakkan telinga.
Dian menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah jalan. Dia mematung di tempatnya sambil menutupi telinganya karena kaget dan takut.
Melihat wanita yang berkerudung panjang berwarna biru langit itu ketakutan, sang pria langsung menginjak rem.
Dia memarkirkan sepeda motornya di tengah jalan itu.
Lalu menghampiri Dian yang masih diam.
"Hei, are you oke?" tanya sang pria.
Perlahan Dian mencermati sosok pria tampan yang ada di hadapannya. Pria yang memiliki brewok tipis dan kaca mata hitam masih bertengger di hidungnya.
"I'm ok," lirih Dian pada sosok pria itu.
Kini tatapan mereka beradu, walaupun Dian tak dapat melihat dengan jelas bola mata sang pria berpostur tubuh atletis dan tinggi badan ideal yang dimilikinya membuat mata setiap kaum hawa memuji ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
"Subhanallah, cantiknya," gumam sang pria di dalam hati.
Seketika hati si pria mulai bergetar dan membuat jantungnya berdegup dengan kencang.
"Astaghfirullah," pekik Dian.
Wanita berhijab itu pun langsung berlari, dia tak lagi mempedulikan keberadaan pria tampan yang sempat mengajaknya bicara.
Dian langsung masuk ke dalam asrama mengambil beberapa tugas yang dibutuhkan Kayla.
Setelah itu dia kembali bergegas melangkah menuju kampus dengan berlari kecil agar tak terlambat masuk perkuliahan jam pertama.
Tanpa disadarinya, ada sorot mata yang mengikuti setiap pergerakannya hingga dia menghilang di koridor gedung perkuliahan fakultas Syari'ah.
"Ya Allah, jika Engkau mempertemukan aku kembali dengan wanita itu, berarti dia adalah jodohku," gumam sang pria yang mengagumi Dian pada pandangan pertama.
"Alhamdulillah, dosen belum datang," gumam Dian.
Dian melangkah masuk kelas lalu menyodorkan beberapa tugas yang tertinggal untuk Kayla.
"Maaf ya, Kay," lirih Dian.
__ADS_1
Kayla menatap Dian sekilas, lalu mengambil tugas-tugas tersebut. Dia hanya diam tak seperti biasanya yang ramah dan ceria.
Dian menoleh ke arah dua sahabatnya yang duduk di belakang Kayla.
Gita dan Lisa hanya mengangkat bahu, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Dian pun memilih diam, dia duduk di kursi samping Kayla. Dia berpikir, mungkin saja Kayla sedang ada masalah rumah tangga dengan Raffa.
Tak berapa lama dosen pun masuk, dan mereka pun memulai pelajaran pagi ini.
Setelah pelajaran usai, ketiga sahabat Kayla yang tadi pagi belum sempat sarapan merasakan cacing cacing di dalam lambungnya mulai meronta.
"Kay, kita ke kantin, yuk!" ajak Gita.
"Aku enggak nafsu makan," lirih Kayla.
"Ayolah, Kay. Kalau kamu masih kenyang, kamu kan bisa pesan minum saja," ajak Dian mulai memaksa Kayla.
Kayla melayangkan tatapan mata yang sulit diartikan, ketiga sahabatnya merasa serba salah.
"Kay, aku minta maaf ya. Aku tahu aku salah, tapi jangan begini, dong," bujuk Dian semakin merasa bersalah.
"Enggak apa-apa, kalian pergi saja. Aku mau di sini menyelesaikan tugas-tugas ku yang ketinggalan," ujar Kayla.
"Kamu enggak apa-apa di sini sendirian?" tanya Lisa hati-hati.
"Enggak apa-apa kok," jawab Kayla. Kalian pergi aja, aku sudah sarapan tadi di rumah," ujar Kayla lagi.
Akhirnya 3 gadis itu pun melangkah menuju kantin. Mereka sudah tidak sabar untuk mengisi perutnya yang terasa sangat lapar.
Di sepanjang koridor ketiga sahabat itu saling mempertanyakan sikap Kayla yang berubah drastis.
"Kayla kenapa, sih?" gerutu Dian merasa tidak enak dengan sikap sahabat terdekatnya.
"Iya, Git. kamu benar, kita kan jadi serba salah." Lisa setuju dengan ucapan Gita.
"Hei," panggil Raffa yang tak sengaja melihat ketiga sahabat istrinya.
Ketiga gadis itu menghentikan langkahnya.
Raffa menautkan kedua alisnya heran melihat sang istri tak bersama ketiga sahabatnya.
"Kalian cuma bertiga? Kayla mana?" tanya Raffa heran.
"Kayla di kelas, Mas. Enggak tahu kenapa, dia enggak mau ikut sama kami," cerita Gita terus terang pada Raffa.
Raffa menghela napasnya panjang.
"Ada apa, Mas? Kalian bertengkar, ya?" tanya Gita mulai kepo.
"Aku sendiri juga bingung sama dia," tutur Raffa jujur pada sahabat istrinya.
"Hah? Ada apa ya sama Kayla?" gumam Lisa.
Raffa mengangkat bahunya.
"Aku bingung, seketika dia bisa nangis, habis itu tertawa. Suasana hatinya berubah-ubah," tutur Raffa menceritakan perubahan sikap istrinya.
"Setahu aku, Kayla tidak pernah merasa kesal sama kami, dia sosok wanita yang ceria dan ramah. Eh tadi, kayaknya kami bukan sahabatnya kenal dengan dia," gerutu Gita mengungkapkan apa yang ada di benaknya.
"Apakah jangan-jangan perubahan sikap Kayla karena dia sedang hamil?" gumam Raffa dengan pelan.
Namun ketiga sahabat Kayla masih dapat mendengar apa yang dikatakan oleh suami sahabat mereka.
__ADS_1
"Hah? Kayla hamil?" tanya ketiga gadis itu kaget saat mengetahui sahabatnya tengah berbadan dua.
"Iya," lirih Raffa mengangguk menjawab pertanyaan mereka.
"Alhamdulillah," sahut ketiga gadis berhijab itu.
"Benar itu, Mas. Biasanya kan hormon wanita hamil suka berubah-ubah." Dian menyetujui pendapat Raffa tadi.
"Kalau begitu kami tidak perlu khawatir dengan sikap Kayla yang tiba-tiba ketus dan kesal pada kami," ujar Gita.
Dian dan Lisa mengangguk setuju dengan ucapan Gita.
"Makasih sih, ya. Kalian memang sahabat yang penuh pengertian," puji Raffa.
"Aku minta maaf dengan sikap Kayla yang membuat kalian tersinggung," ujar Raffa.
"Enggak masalah, Mas. Kami sahabat forever yang sudah pasti saling pengertian," ujar Gita.
"Syukurlah, aku senang Kayla memiliki sahabat seperti kalian," ujar Raffa.
Ketiga sahabat Kayla pun tersenyum.
"Oh iya, sekarang Kayla ada di mana?" tanya Raffa pada ketiga gadis yang masih berada dihadapannya.
"Di kelas, Mas," sahut Dian.
"Ya udah kalau gitu aku samperin ke sana saja langsung," ujar Raffa.
"Oke, Mas. Kami ke kantin dulu udah lapar," ujar Gita.
Mereka pun berpisah, Raffa langsung melangkah ke kelas Kayla.
Di dalam kelas, Raffa mendapati Kayla sedang mengobrol dengan seorang pria yang duduk membelakangi posisinya.
Seketika wajah Raffa berubah merah padam, dia mulai emosi melihat sang istri berduaan di kelas bersama seorang pria.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1