
Agung menatap tajam ke arah Alex.
“Apakah aku tidak boleh datang ke sini?” tanya Alex santai.
Alex melangkah pelan masuk ke dalam ruangan kakaknya.Alex pun langsung duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu.
“Bang, maafin gue. Masalah gue malah bikin lu jadi terlibat,” ujar Alex memulai pembicaraannya.
“Gue sedang enggak mood membahas masalah itu,” ujar Agung malas.
“Bang, gue mohon sama lu. Apa salahnya sih, lu setuju dengan usulan Bunda sama Ayah. Paling tidak lu liat dulu gadis yang akan dijodohin sama lu.” Alex diam sejenak.
Agung masih menatap Alex dengan tatapan tidak suka.
“Kalau nanti lu udah ketemu dengan gadis itu dan lu tidak mau, gue bisa terima untuk kehilangan Irene,” ujar Alex pada sang kakak.
“Gue enggak setuju,” ketus Agung.
“Bang, gue mohon!” Alex mengatupkan kedua tangannya memohon pada sang kakak.
“Atau lu punya cewek yang lu suka, katakan sama gue. Gue bakal kasih tahu Ayah dan Bunda.” Alex mengira-ngira.
“Ini semua tak semudah yang lu pikirkan, Lex! Lu jangan egois, dong!” Suara mulai meninggi karena kesal.
“Kalau memang lu ada cewek yang lu sukai, gue bakal bantuin lu buat dapatkan dia,” usul Alex mengabaikan amarah Agung.
“Lu terlalu memaksakan kehendak lu sama gue, Lex. Sekarang lu keluar dari ruangan ini!” usir Agung menolak bujukan Alex.
“Bang, selama ini gue enggak pernah minta apa pun dari lu, ini untuk pertama kalinya gue sebagai adik lu meminta sesuatu sama lu, gue mohon, bantuin gue!” pinta Alex pada Agung.
Agung masih diam, dia masih kesal dengan situasi yang terjadi saat ini.
“Oke, kalau memang lu enggak mau bantuin gue, it’s oke. Sampai di sini, gue tahu lu hanya sayang sama Kak Ara, dan lu enggak pernah menganggap gue sebagai adik,” ujar Alex.
Alex pun berdiri dan dia bersiap untuk keluar dari ruangan sang kakak. Alex melangkah keluar, saat berada di ambang pintu dia berpapasan dengan sang Bunda.
“Bun, Alex pulang, dulu!” lirih Alex.
Hurry yang belum tahu apa yang terjadi bingung melihat Alex yang tiba-tiba minta izin pulang. Dia ingin menghentikan Alex, tapi putra bungsunya itu sudah berada di lantai satu.
“Hurry pun melangkah masuk ke dalam ruangan putra sulungnya, Agung masih kesal dengan bundanya. Dia kembali memutar kursi kebesarannya menghadap ke jalanan yang ramai. Dari sana dia melihat Alex sudah pergi meninggalkan butik.
Hurry menghampiri putra sulungnya, dia memegangi pundak kekar yang selalu ada di setiap waktu bersamanya. Agung merupakan tumpuan Hurry dalam menghadapi pasang surut bisnisnya.
“Sayang,” lirih Hurry.
__ADS_1
Agung masih bergeming, saat ini dia masih kesal dengan bundanya.
“Kamu marah sama Bunda?” tanya Hurry pada putra sulungnya.
Mendengar pertanyaan sang Bunda, Agung menoleh ke arah sang Bunda. Dia menggenggam erat tangan sang Bunda.
“Bun, sejak kecil Bunda tahu, kalau aku tak pernah bisa marah sama wanita yang paling berharga dalam hidup aku,” ujar Agung.
Agung menurunkan egonya, mencoba berdamai dengan apa yang baru saja terjadi.
“Bunda tidak akan memaksa kamu menikah dengan gadis mana pun, bunda sudah bilang jika kamu setuju. Jika kamu tidak setuju itu artinya Alex tidak bisa memaksakan kehendaknya,” lirih Hurry sendu.
Wajahnya tampak lelah di usianya yang sudah melebihi setengah abad.
“Baiklah, Bun. Jika ini memang keinginan Bunda, aku ikhlas. Tapi, satu hal yang harus bunda tahu, ini aku lakukan sebagai baktiku sama kedua orang tuaku,” ujar Agung.
Agung tidak suka melihat wajah wanita yang disayanginya itu bersedih, apa pun akan dia lakukan untuk membahagiakan sang bunda termasuk melupakan citanya pada bidadari yang sempat mengisi hatinya akhir-akhir ini.
“Benarkah? Kamu tidak akan marah pada adikmu?” tanya Hurry mulai ceria.
Agung mengangguk.
Hurry memeluk tubuh kekar sang putra. “Terima kasih, Sayang,” lirih Hurry.
“Gung, Bunda pergi dulu, ya,” seru Hurry saat mobil Hendra sudah terparkir di depan butiknya.
“Iya, Bun. Jangan lupa pesanan Agung ya, Bun,” seru Agung.
Agung memesan makan siang pada sang Bunda, dia memilih untuk makan di butik karena dia sedang tidak mood ke mana-mana.
“Bunda enggak nyangka, Yah. Agung mau menerima perjodohan ini,” ujar Hurry saat mereka baru saja memulai santap siang mereka di sebuah resto ternama di kota Padang.
“Kamu serius, Bun?” tanya Hendra tak percaya.
“Iya, Yah. Rencananya aku mau langsung bawa Agung ketemuan dengan gadis itu. Katanya besok Fatimah ada waktu luang buat mempertemukan anak-anak kita,” ujar Hurry memberitahukan pada Hendra.
“Jadi kamu mau ke Jakarta besok?” tanya Hendra cemberut.
“Iya, Yah. Sekalian bawa Alex balik ke Jakarta. Kasihan kuliahnya ditinggal gegara cinta,” ujar Hurry.
“Huhhft,” Hendra menghela napas panjang.
“Nasib, ditinggal terus,” gerutu Hendra.
“Lagian bunda ke Jakarta Cuma sebentar, Yah. Bunda juga kangen sama Ara, Kalau ayah mau ikut juga enggak apa-apa,” ujar Hurry menawarkan.
__ADS_1
“Ya udah, kita berangkat besok.” Hendra mengambil keputusan.
“Serius, Yah?” Hurry tak percaya Hendra mau ikut.
Hendra mengangguk, membuat Hurry semakin bahagia.
“Semoga saja Agung menerima gadis itu, aamiin,” lirih Hurry penuh harap.
Mereka pun menikmati makan siang dengan hati yang bahagia karena permasalahan kedua putranya mulai ada titik terang.
Keesokan harinya semua keluarga Hendra berangkat ke Jakarta untuk mempertemukan Alex dengan putri kolega bisnis Bunda Hurry, sekaligus Hurry ingin mengunjungi Kayla yang sudah lama tidak berjumpa.
Sepanjang perjalanan Agung dan Alex tak banyak bicara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Keluarga besar itu sampai di Jakarta pada pukul 10 pagi, Alex langsung membawa keluarganya menuju rumah kontrakannya agar mereka dapat beristirahat terlebih dahulu, mengingat janji Bunda Hurry dan Fatimah saat jam makan siang.
Dari bandara menuju kontrakan, Alex memesan taksi online. Saat mereka sampai di rumah Alex, Mak Ijah kaget melihat kedatangan Hurry dan Hendra.
“Hur, Hen? Kalian ngapain ke sini?” tanya Mak Ijah heran.
“Ada urusan Mak,” jawab Hurry tersenyum.
“Oh, kirain mau jemput Mak Ijah,” ocehannya.
“Memangnya kenapa jemput Mak Ijah?” tanya Alex heran.
“Mak Ijah enggak betah tinggal di sini?” tanya Alek lagi.
“Bukan begitu, Nak. Mak Ijah Cuma ngerasa sepi aja,” jawab Mak Ijah jujur.
“Oh, wajar Mak. Nanti kalau sudah terbiasa enggak bakal sepi lagi,” ujar Hendra menghibur Mak Ijah.
Mereka pun tertawa menghibur Mak Ijah sambil beristirahat.
Setelah selesai shalat dzuhur, mereka pun bersiap-siap untuk bertemu dengan Fatimah di sebuah resto yang biasa mereka kunjungi saat berada di Jakarta.
Sepanjang perjalanan, Agung merasa deg-degan. Hatinya tak keruan memikirkan wajah wanita yang akan dijodohkan dengannya nanti.
Mereka sampai di resto setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari rumah kontrakan Alex.
Semua Anggota keluarga Hendra masuk ke dalam resto tersebut, Fatimah dan keluarganya sudah menunggu mereka di sebuah ruangan VVIP.
Sesuai informasi dari Fatimah mereka berada di ruangan 7. Hurry pun memboyong anggota keluarganya masuk ke dalam ruangan tempat Fatimah dan keluarganya.
Bersambung...
__ADS_1