Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 257


__ADS_3

Keesokan harinya Raffa dan Farhan sudah berada di kantor polisi. mereka tengah menunggu kedatangan Fitri dan Lola untuk memberi kesaksian kejadian yang sesungguhnya.


Tak berapa lama Raffa dan Farhan menunggu, Fitri datang bersama Lola.


Keberangkatan Fitri dan Lola dikawal ketat oleh anak buah Satya. Fitri juga membawa Irene sebagai saksi bahwa di situasi saat itu dia merupakan calon korban atas kejahatan Varo dan Lola


Mereka berjaga-jaga agar Lola bisa aman sampai di kantor polisi, agar Raymond dapat terbebaskan.


"Maaf, Tuan. Kami terlambat," ujar Fitri saat sudah berada di hadapan Raffa dan Farhan.


"Tidak apa-apa, kami baru saja sampai," ujar Raffa.


Farhan mengajak Raffa dan Lola untuk masuk ke dalam kantor polisi, Farhan meminta polisi untuk memberikan izin pada Lola untuk memberikan kesaksian.


Setelah mendengarkan kesaksian dari Lola dan Irene, polisi pun mengaku bersalah telah lalai dalam melakukan penyelidikan.


Mereka mencabut pernyataan tersangka bagi Raymond dan akhirnya Raymon pun bisa bebas dengan mudah.


Kasus kali ini tidak begitu sulit bagi Farhan, karena permasalahannya sangat mudah diselesaikan. Apalagi tuntutan keluarga Alvaro tidak memiliki bukti yang kuat seperti yang dimiliki oleh pihak Raymond.


"Kami minta maaf atas kelalaian kami, Pak," ujar Pak Polisi pada Raffa dan Raymond.


"Tidak masalah, kami harap di kemudian hari hal yang menimpa kami tidak terulang lagi," ujar Raffa dengan tegas.


Raffa sangat menyayangkan atas kecerobohan yang dilakukan oleh polisi.


Raffa yakin, mereka lakukan ini karena kedudukan keluarga Varo di Jakarta. Sepertinya keluarga Alvaro di Jakarta sangat berpengaruh.


"Terima kasih, Bro," ujar Raymond pada Raffa setelah mereka berada di luar kantor polisi.


"Sama-sama, Alita itu adik iparku. Jadi sudah kewajibanku melakukan ini," ujar Raffa pada Raymond.


"Fit, kamu memang wanita yang bisa diandalkan. Terima kasih, ya," ujar Raymond pada Fitri yang kini berdiri di samping Irene dan Lola.


"Siap, Bos. Gue cuma jalanin tugas komandan, hehe," kekeh Fitri.


"Fit, kamu antarkan Lola pulang, kami akan langsung ke rumah sakit," perintah Raffa pada Fitri.


"Siap," sahut Fitri sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Yuk, ajak Fitri pada Lola yang menunduk.


Sejak awal berjumpa, Irene tak banyak bicara dengan temannya itu. Irene merasa kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Lola.


Irene yang selama ini menganggap Lola sebagai teman baik justru dijadikan ajang mendapatkan keuntungan bagi dirinya.


Fitri dan Lola pun masuk ke dalam mobil yang dibawa Fitri.


"Han, thanks, ya. Berkat kamu masalah dapat diselesaikan secepat mungkin," ujar Raffa sambil menjabat tangan adik kelasnya.

__ADS_1


"Sama-sama, Bang. Ini sudah tugas aku sebagai pengacara," ujar Farhan.


"Kalau begitu, gue pergi dulu, Bang. Masih ada kerjaan yang harus gue selesaikan," ujar Farhan pamit pada Raffa.


"Aku juga berterima kasih," ucap Rayna menjabat tangan Farhan setelah Raffa melepaskan jabat tangannya.


"Sama-sama, senang kenal kalian semua," ujar Farhan.


Entah mengapa Farhan merasa nyaman berkenalan dengan orang-orang sekitar Raffa, dia merasa orang-orang yang berada di sekeliling Raffa memiliki aura positif dan baik-baik semua.


Setelah itu, Farhan pun melangkah menuju mobilnya dan pergi meninggalkan kantor polisi.


"Yuk, Alita sudah nungguin kamu," ujar Raffa.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, lalu iku meninggalkan kantor polisi.


Raffa melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tak banyak percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan mereka.


Raymond hanya merasa bersalah sudah merepotkan Raffa dalam urusan pembebasan dirinya serta urusan kafe yang selama ini sudah menjadi tanggung jawabnya.


Sepanjang perjalanan, Raymond hanya memikirkan bagaimana keadaan istrinya. Perasaan rindu yang membuncah kini menyelimuti jiwanya yang hampa berpisah dengan istri yang kini sudah mencintai dirinya.


Dia sudah tak sabar untuk sampai di rumah sakit, bahkan dia merasa Raffa melajukan mobilnya dengan sangat pelan.


Setelah 30 menit perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Raymond melangkah dengan cepat agar dia cepat bertemu dengan sang istri.


Raffa dan Irene hanya tersenyum melihat tingkah Raymond yang sudah terlebih dahulu melangkah meninggalkan mereka.


Alita yang sedang mengaji di samping tempat tidur Alex langsung menghentikan bacaannya.


"Sodaqollahul'azhim," lirih Alita menutup bacaannya.


Bunda Hurry sedang keluar sehingga hanya Alita dan Alex yang berada di ruang itu.


"Wa'alaikummussalam," jawab Alita.


Belum sempat Alita membuka pintu Raymond sudah masuk ke dalam ruangan itu.


Raymond langsung memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


Begitu juga dengan Alita dia membalas pelukan sang suami dengan eratnya.


Sepasang suami istri itu meluapkan rasa rindu yang sangat dalam setelah berpisah selama beberapa hari.


Kehangatan kini menyelimuti kedua insan tersebut karena kini hati mereka sudah terpaut dalam ikatan cinta.


"Aku merindukanmu," lirih Raymond berbisik di telinga sang istri.


"Aku juga merindukanmu," lirih Alita.

__ADS_1


Raymond melepaskan pelukannya lalu dia menangkup wajah sang istri, dia memberikan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya.


Alita kembali memeluk tubuh sang suami setelah mendapat kecupan dari suaminya itu.


"Ehem." Raffa berdehem membuat sepasang suami istri itu mengurai pelukan mereka.


Raffa tersenyum melihat wajah mereka yang kini memerah menahan malu. Raffa merasa senang melihat Alita kini sudah mulai mencintai Raymond. Itu artinya dia tidak akan mengganggu lagi hubungan rumah tangga dirinya dan Kayla.


"Bunda mana, Al?" tanya Irene saat melihat Bunda Hurry tidak ada di dalam ruangan itu.


"Bunda keluar sebentar mencari makanan," jawab Alita.


Mereka pun duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu kecuali Irene dia langsung duduk di kursi yang ada di samping sang suami.


Irene masih bersabar menunggu keajaiban datang membawa kehadiran suaminya kembali bersamanya.


Raffa dan Raymond berbincang-bincang sejenak mengenai masalah cafe.


Tak berapa lama mereka duduk berbincang-bincang Bunda huri datang membawa makanan.


"Assalamu'alaikum," ucap Bunda Hurry saat berada di dalam ruangan tersebut.


"Wa'alaikummussalam," jawab semua orang yang ada di ruangan itu.


"Kalian sudah datang?" ujar Bunda Hurry senang melihat mereka semua berkumpul di ruang tersebut.


"Iya, Bun," balas Raffa.


Bunda Hurry menatap senang melihat wajah putrinya yang kini sudah kembali ceria.


"Alhamdulillah, satu masalah sudah terselesaikan," ujar Bunda Hurry ikut bergabung dengan mereka.


"Alhamdulillah," sahut mereka bersamaan.


"Sekarang kita tinggal berdoa atas kesembuhan Alex, semoga Alex cepat sadar," ujar Bunda Hurry penuh harap.


"Amiin," sahut mereka bersamaan.


"Oh iya, ini Bunda bawa makanan banyak kita makan bareng dulu ya," ajak Bunda Hurry sambil menyiapkan makanan yang sudah dibelinya tadi.


"Ren, ayo kita makan," ajak Bunda Hurry memanggil sang menantu.


Irene yang selalu diberi nasehat untuk tabah oleh Bunda Hurry mulai menjalani cobaan ini dengan ikhlas.


Dia melangkah menuju sofa dan ikut bergabung dengan yang lainnya.


Saat mereka asyik menikmati makanan yang dibawa oleh Bunda Hurry pintu ruangan terbuka karena ada yang datang.


Semua orang menoleh ke arah pintu melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Raffa menatap kaget saat melihat siapa yang datang.


Bersambung...


__ADS_2