Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 116


__ADS_3

Hurry dan Hendra saling melempar pandangan, mereka mencoba berpikir menjawab pertanyaan Kayla.


"Mhm, Bunda juga tidak tahu, Nak, tapi album ini telah membuktikan bahwa kamu adalah Ara," ujar Hurry.


Kayla mengangguk, dia juga yakin bahwa saat ini dia berada di tengah-tengah keluarga kandungnya.


"Terima kasih, Ya Allah engkau telah mempertemukanku dengan putriku yang hilang," lirih Hurry mengucap syukur.


Sementara itu di tempat lain, Raffa sudah berjanji dengan teman-teman SMA nya untuk berkumpul di sebuah kafe sekadar melepas kangen dan ngobrol.


Raffa belum menemukan teman-temannya di kafe itu, dia memilih duduk di tempat paling pojok di kafe itu sambil membuka tabletnya.


"Sudahlah, Alita! Kamu berhentilah mengejar-ngejar Raffa. Dia sudah beristri," ujar Rio yang sedang mengobrol dengan seorang wanita di hadapannya.


Raffa mendengar suara yang tidak asing di telinganya, dia menoleh ke arah suara itu berasal, didapatinya Rio dan Alita tengah duduk di bangku tepat di belakang Raffa.


Raffa kembali memakai kaca mata miliknya agar Rio dan wanita itu tidak mengetahui keberadaannya.


Raffa merasa curiga dengan dua orang tersebut, karena dia sempat mendengar namanya diucapkan oleh Rio.


"Tidak! Sampai kapanpun aku akan mengejar-ngejar Raffa karena hanya raffa yang aku cintai di dunia ini," bantah Alita.


"Aku harus bisa mendapatkannya apapun caranya," ujar Alita tak menyadari keberadaan Raffa di sana.


Raffa kaget dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alita.


"Cukup, Alita!" Nada suara Rio mulai meninggi.


Pria yang tidak kalah tampan dari Raffa itu pun mulai emosi mendengarkan ucapan dari wanita yang dicintainya.


Lagi-lagi Raffa kaget mendengar Rio memanggil wanita yang setahunya bernama Zahra dengan sebutan Alita.


"Siapa Alita kenapa Rio memanggilnya dengan Alita bukan Zahra?" gumam Raffa di dalam hati.


Seketika Raffa mulai merasa bahwa wanita itu bukan Zahra.


Raffa berdiri lalu menghampiri mereka.


"Sekarang terserah kamu aku tidak bisa lagi membantumu, kamu terlalu bodoh dengan cintamu," bentak Rio kesal.


"Baiklah, a-a." Alita tidak bisa melanjutkan ucapannya karena dia melihat Raffa sudah berdiri di samping mejanya.


"Hai, Raffa," sapa Rio gugup.


"Gue mau tanya, siapa Alita?" tanya Raffa mengintimidasi dua orang yang kini berada dihadapannya.


"Mhm," gumam Rio bingung.


"Apakah wanita ini yang bernama Alita?" tanya Raffa lagi menatap tajam pada sahabatnya itu.


"Waktu itu lu bilang, wanita ini bernama Zahra, sekarang lu panggil dia dengan sebutan Alita. Rio, lu bisa jelaskan ke gue?" Raffa menatap kecewa pada sahabatnya itu.


"Siapa sebenarnya wanita ini?" tanya Raffa lagi meminta penjelasan pada Rio.


"Oke, gue akan jelaskan," ujar Rio mulai angkat bicara.

__ADS_1


Sementara itu, Alita hanya menundukkan kepalanya. Dia tahu saat ini dia telah tertangkap basah oleh Raffa.


Cintanya pada Raffa telah membuatnya menjadi orang yang bodoh. Usianya yang masih muda dan tidak berpengalaman membuat dia tidak bisa bermain licik.


Seorang gadis tamat SMA dengan pergaulan yang tidak terlalu luas, membuat Alita tidak bisa berbuat curang untuk mendapatkan Raffa.


Kesempatan untuk mendapatkan Raffa terlintas di benaknya setelah dia menemukan ponsel Raffa yang terjatuh.


Alita merasa sangat malu, lalu dia pun pergi meninggalkan Rio dan Raffa.


Kini Raffa duduk berhadapan dengan Rio, dia menunggu penjelasan dari sahabatnya.


"Fa, maafin gue. Gue enggak bermaksud jahat sama lu, gue cuma mau bantuin Alita untuk dekat dengan lu. dia adik kelas kita dan sudah menyukai lo sejak dia kelas 1," jelas Rio pada Raffa.


Akhirnya Rio juga menceritakan tentang ponsel Rafa yang ditemukan oleh Alita.


"Astaghfirullahaladzim, berarti selama ini dia sudah menipuku?" gumam Raffa di dalam hati.


Karena emosi melihat dia bersama Alex, dia sudah mencelakai dirinya dan istrinya.


Bersyukur Raffa dan Kayla tidak apa-apa. Sehingga tidak ada penyesalan yang mendalam di hati Raffa.


Rio meminta maaf atas kesalahannya.


"Gue harap persahabatan kita tidak berubah sejak kejadian ini, gue benar-benar menyesal dengan apa yang sudah gue lakukan," tutur Rio.


"Sudahlah, anggap saja ini tidak pernah terjadi," ujar Raffa.


Raffa merasa bersyukur setelah mengetahui kenyataan bahwa wanita yang mengejar-ngejar dirinya selama ini bukanlah Zahra gadis kecil yang pernah dicintainya.


"Hai, Bro. Apa kabar?" seru Anton ikut duduk di tempat Raffa dan Rio.


Mereka pun mulai menghabiskan waktu dengan bercerita dan membahas berbagai hal termasuk pekerjaan yang kini mereka tekuni.


"Fa, lu masih sibuk seminar?" tanya Anton pada Raffa yang tahu hobi Raffa sebagai motivator sejak mereka duduk di SMA.


"Masih," jawab Raffa.


"Kalau gitu, lu bisa isi jadwal seminar besok di kampus gue?" tanya Anton.


"Tapi, besok gue harus balik ke Jakarta," jawab Raffa.


"Lu bisa berangkat setelah seminar," ujar Anton memberi usulan.


"Mhm, bagaimana, ya?" Raffa masih ragu.


"Bentar gue telpon istri gue dulu," ujar Raffa.


Dia ingin meminta pendapat pada istrinya.


Raffa menekan nomor ponsel sang istri.


"Iya, Bang," jawab Kayla saat panggilan sudah tersambung.


"Sayang, kalau besok kita balik ke Jakarta habis ashar gimana?" tanya Raffa pada sang istri.

__ADS_1


"Mhm, enggak apa-apa, Bang. Itu artinya aku bisa lebih lama sama bunda Hurry. Bang, boleh enggak aku nginap di rumah bunda?" tanya Kayla minta izin.


"Hah, kenapa harus nginap?" tanya Raffa.


"Aku ingin lebih lama lagi bersama Bunda," jawab Kayla jujur.


"Ya sudah kalau gitu, tapi aku nginap di rumah aja ya," ujar Raffa merasa keberatan untuk nginap di rumah temannya Agung.


"Ya udah terserah bang Raffa aja, tapi nanti Bang Raffa ke sini dulu ya sebelum kembali ke rumah mama," pinta Kayla.


"Oke," jawab Raffa.


Raffa pun menutup panggilannya, lalu menyetujui tawaran yang disampaikan oleh Anton tadi.


"Bun, Bang Raffa izinkan Kayla menginap di sini tapi dia tidak ikut menginap di sini," ujar Kayla pada Bunda Hurry yang sedari tadi membujuk Kayla agar mau menginap di rumahnya, dia ingin memeluk putrinya yang sempat hilang.


"Alhamdulillah, bunda akan masakin kamu makan yang enak-enak, sebagai ucapan syukur," ujar Bunda Hurry bersemangat.


"Aku bantuin bunda, ya," ujar Kayla.


Hendra dan Agung ikut bahagia dengan kebahagiaan yang terpancar di waja Hurry. Selama ini keceriaan wanita yang penuh kasih sayang itu sirna. Kalaupun dia bahagia, tapi di sudut lain masih ada kesedihan yang terpendam.


Setelah shalat dzuhur Kayla dan Hurry langsung melangkah menuju dapur untuk memasak.


Di saat Kayla sedang asyik memotong beberapa sayur yang akan mereka olah menjadi makanan, dia kaget melihat kedatangan seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur.


"Astaghfirullah," lirih Kayla sambil memegang dadanya.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2