Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 153


__ADS_3

Pria itu mendekati tempat duduk Alex.


“Alex?” ujar sang pria tak menyangka bisa bertemu dengan teman lamanya.


“Raymond?” ujar Alex kaget.


Mereka tak menyangka bisa kembali berjumpa setelah acara touring beberapa tahun yang lalu.


Alex dan Raymond berkenalan dari ajang touring yang diadakan oleh para pecinta motor gede nasional. Tiga tahun lalu Alex dan Raymond mengikuti ajang tersebut, di sana mereka saling mengenal dan dekat.


Namun, setelah ajang itu usai. Mereka tidak perah lagi berkomunikasi karena lose kontak.


“Ada apa? Aku lihat kamu sedang ada masalah?” tanya Raymond pada Alex.


“Ah, masalah biasa,” jawab Alex tersenyum.


“Kalau ada masalah ceritalah, tak usah disimpan sendiri, mana tahu bisa meemukan solusinya bersama,” ujar Raymond.


“Huhhft, masalah cinta, Bro.” Akhirnya Alex mulai bercerita.


Awalnya dia enggan bercerita dengan Raymond, tetapi mengingat Raymond lebih tua darinya beberapa tahu. Alex merasa bisa bertukar pikiran dengan teman lamanya.


“Cinta, diputusin? Atau diselingkuhi?” tanya Raymond pada Alex.


Alex menggelengkan kepalanya.


“Lalu?” tanya Raymond penasaran.


Setahu Raymond, amasalah cinta selama ini hanya itu, kalau tidak diputuskan, ya dikhianati oleh orang yang dicintai.


“Ayah kekasihku mau dijodohkan dengan pria lain,” tutur Alex jujur mengungkapkan masalahnya.


“Mhm,” gumam Raymond sambil mengangguk paham.


“Kenapa kamu tidak langsung melamar gadis itu?” tanya Raymond mengusulkan pendapat.


“Aku masih kuliah, lagi pula aku juga belum memiliki pekerjaan,” jawab Alex.


“Oh begitu,” sahut Raymond.


Raymond tampak memikirkan sesuatu, mereka pun hening sejenak.


“Bagaimana kalau aku carikan pekerjaan, tapi kamu harus jujur dan telaten dalam bekerja,” usul Raymond.


“Lalu bagaiamana dengan kuliahku?” tanya Alex semakin bingung.


“Kamu tenang saja, pekerjaan ini bisa kamu kerjakan saat kamu kosong kuliah,” jawab Raymond.


“Sebentar, aku akan menghubungi bosku.” Raymond mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

__ADS_1


Tak berapa lama, Raymond memutuskan panggilan telponnya.


“Kamu punya waktu sekarang?” tanya Raymond.


“Aku lagi free,” jawab Alex.


“Ya sudah, kalau gitu kamu bisa ikut aku bertemu dengan bos aku?” tanya Raymond pada Alex.


“Eh, sebentar. Memangnya pekerjaannya apa?” tanya Alex mulai penasaran.


“Nanti kamu juga bakal tahu, yang penting kamu ikut aku dulu,” ajak Raymond.


Tanpa pikir panjang Alex pun mengikuti Raymond, mereka pun mengendarai sepeda motor milik mereka massing-masing menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh bos Raymond.


Alex memarkirkan sepeda motornya di sebuah kafe terbesar dan terkenal di Jakarta. Alex sempat melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, mereka melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan VVIP. Seseorang yang disebut Raymond sebagai bosnya sedang menunggu kedatangan Raymond dan Alex.


“Permisi, Tuan,”ujar Raymond menyapa du abos yang sangat dihormatinya.


Alex mengernyitkan dahinya heran melihat dua orang yang tak asing baginya tengah duduk di hadapannya.


“Ray,” lirih Raffa.


Raffa menatap datar ke arah Alex yang berdiri di samping Raymond.


Alex hanya diam melihat kakak iparnya yang dipanggil Tuan oleh temannya.


“Perkenalkan, Tuan. Ini teman saya yang tadinya ingin mencari pekerjaan,” jelas Raymond setelah mereka duduk berhadapan dengan Raffa dan Satya.


Raffa menoleh ke arah Satya sebagai sinyal dia menanyakan pendapat Satya.


“Terserah lu aja, Bro.’ Satya menyerahkan keputusan pada Raffa.


“Ray, jika dia ikut bekerja di kafe kita. Itu artinya pekerjaanmu akan berkurang. Kami akan membagi tugasmu dengannya,” ujar Raffa meminta pendapat Raymond.


“Begini, Tuan. Sebenarnya saya kewalahan menghandle 6 kafe secara bersamaan. Saya kenal Alex dengan baik, untuk itu saya bersedia berbagi pekerjaan dengannya,” ujar Raymond menyampaika pendapatnya.


“Kalau begitu, kamu harus ajarkan dia tugas-tugas yang ahrus diselesaikannya saat dia sedang tidak kuliah,” ujar Raffa pada Raymond.


“Itu artinya teman saya ini diterima?” tanya Raymond tidak percaya dengan keputusan Raffa.


“Kami percaya sama kamu, kamu tidak akan mungkin membawa seseorang yang tidak bisa bekerja pada kami,” ujar Raffa menatap dingin ke arah Alex.


“Terima kasih, Tuan,” ujar Raymod lalu menjabat tangan Raffa dan Satya.


Alex hanya diam, dia mengikuti apa yang dilakukan oleh temannya itu. Setelah itu mereka pun keluar dari ruangan VVIP tersebut.


Raymond membawa Alex ke ruangannya, agar dia bisa mengobrol santai dengan Alex.

__ADS_1


“Aku enggak nyangka, Bro. Tuan Raffa dan Satya akan langsung menerima kamu, mereka memang orang baik. Karena kebaikan mereka, mereka mendapatkan istri sholehah dan usaha kafenya semakin hari semakin ramai pengunjung,” ujar Raymond panjang lebar.


Alex hanya diam, dia belum mau menanggapi apa pun.


“Sekarang apa yang akan menjadi pekerjaanku?” tanya Alex.


“Pekerjaanmu mengontrol beberapa karyawan dan chef yang ada di kafe, kamu harus pastikan stok bahan mentah yang akan di masak tidak boleh habis, bla…bla…bla…” Raymond menjelaskan tugas direktur café pada Alex.


Alex mengangguk paham, dia mengerti dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Raymond.


“Terima kasih, Bro. Kamu sudah bantuin aku, sebelu mulai bekerja aku akan berangkat ke Padang untuk meminta izin menikah pada kdua orang tuaku,” ujar Alex.


“Kamu santai, Bro.”Raymond tersenyum senang.


Dia senang karena sudah bisa membantu teman lamanya.


“Kalau begitu aku pamit dulu, ya,” ujar Alex.


Alex pun berdiri dan bersiap keluar dari ruangan Raymond. Lalu pria itu melangkah keluar dari kafe milik kakak iparnya.


Alex langsung pulang ke rumah kontrakannya untuk memastikan adik sepupunya tidak berulah. Sesampai di rumah, Mak Ijah sudah berada di rumah kontrakanya.


Mak Ijah adalah keluarga jauh Bunda Hurry yang sudah tidak memiliki keluarga. Bunda sengaja menyuruh Mak Ijah tinggal bersama Alex di Jakarta kebetulan waktu itu Mak Ijah sempat minta dicarikan pekerjaan.


“Assalamu’alaikum,” ucap Alex saat masuk dalam rumah.


Dia mendapati Mak Ijah sedang asyik mengobrol dengan Alita di ruang keluarga sambil menonton TV.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Mak Ijah dan Alita bersamaan.


“Bagaimana, Mak? Perjalanannya, capek?” tanya Alex ramah.


“Alhamdulillah, lumayan jauh juga ke sini. Tadi Mak takut naik pesawat,” oceh Mak Ijah mulai menceritakan perjalanannya dari Padang ke Jakarta.


“Haha.” Alex tertawa mendengar cerita pengalaman Mak Ijah yang baru pertama kalinya naik pesawat.


Apalagi dengan ekspresi Mak Ijah yang lucu membuat Alex tak bisa menahan tawanya hingga sakit perut, Alita juga ikut tertawa mendengar ocehanMak Ijah.


“Yang penting, Mak Ijah udah sampe di sini dengan selamat,” ujar Alex setelah selesai tertawa.


“Al, sore ini pesan makanan online aja, ya. Mak Ijah kan masih capek,” ujar Alex pada adik sepupunya.


“Iya, Bang,” ALita.


“Kamu antarkan Mak Ijah ke kamarnya, ya. Oh iya, besok aku mau berangkat ke Padang,” ujar Alex sebelum meninggalkan Alita dan Mak Ijah.


“Ngapain?” tanya Alita penasaran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2