
"Di-di ma-mana a-aku sekarang?" lirih Irene saat tersadar dari pingsannya.
Kayla mengerjakan matanya pelan lalu menatap langit-langit ruangan tempat dia berada saat ini.
Dia mengedarkan pandangannya melihat seluruh yang ada di sekelilingnya semua berwarna putih.
"Kak Irene, kamu udah sadar?" terdengar suara Rayna menghampiri Irene.
Perlahan Irene menolehkan kepalanya ke arah suara Rayna yang kini sudah berada di sampingnya.
"Alhamdulillah, Kak Irene sudah sadar. Kakak sedang berada di rumah sakit," ujar Rayna memberitahukan keberadaan Irene saat ini.
Irene berusaha bangun dari posisi berbaring nya, tapi dia merasakan kepalanya masih berat dan sangat terasa pusing.
"Aw," pekik Irene saat merasakan sakit di kepalanya.
"Kak, jangan banyak bergerak dulu, kakak masih dalam perawatan," ujar Raina membantu Irene kembali ke posisi berbaring.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ray?" tanya Irene penasaran.
Dia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi dengannya, seketika itu dia langsung teringat dengan keadaan Alex, sang suami.
"A-alex mana, Ray? Kenapa dia tidak di sini?" tanya iren heran Alex tidak berada di sampingnya di saat dia sedang sakit.
Rayna menundukkan kepalanya dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari kakak sepupunya itu.
Rayna hanya bisa diam dan tanpa disadarinya air matanya kini mulai membasahi pipinya, jantung Irene berdegup kencang mulai merasakan kecemasan saat melihat reaksi sepupunya saat dia bertanya tentang keberadaan suaminya.
"Ray, mana Alex? Mana suamiku?" tanya Irene sambil mengguncang tangan Rayna yang bisa diraihnya.
"Rayna! Mana Suamiku?" Suara Irene mulai meninggi.
Mak Ijah langsung masuk ke dalam ruangan rawat Irene saat mendengar teriakannya.
"Nak Irene, sudah sadar?" tanya Mak Ijah sedikit lega.
wanita paruh baya itu terlihat kusut, wajahnya sembab karena dibasahi oleh air mata.
Irene menatap dalam pada wanita paruh baya itu, dia berharap Mak Ijah bisa menjawab pertanyaannya.
"Mak, di mana Alex sekarang?" tanya Irene cemas.
Mak Ijah melangkah menghampiri Irene, dia langsung memeluk tubuh wanita yang sudah tinggal beberapa bulan terakhir bersamanya.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak," tangis Mak Ijah pecah.
Tangisan wanita paruh baya itu membuat jantung hati Irene semakin cemas dengan keadaan sang suami.
"Di mana Alex, Mak? Katakan padaku di mana suamiku?" Irene mendesak Mak Ijah untuk menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Perlahan Mak Ijah mulai menenangkan dirinya, rasa sesak yang ada di dadanya mulai sedikit lega.
Mak Ijah melepaskan rangkulannya di tubuh Irene, dia mengusap air mata yang terus saja membasahi pipinya.
"Di mana Alex, Mak?" Irene masih mempertanyakan keberadaan sang suami.
"Bagaimana keadaannya, Nona Irene?" tiba-tiba seorang dokter datang menanyakan keadaan Irene saat ini.
"Dia baru saja sadar, Dok," jawab Rayna.
Irene tak lagi peduli dengan keadaannya. Hatinya saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya saat ini.
Irene bangun dari posisi berbaringnya dia berusaha untuk bangkit dan hendak melangkah mencari sosok suaminya.
"Kak,"
"Irene," teriak Raina dan Mak Ijah bersamaan saat melihat aksi yang akan dilakukan oleh Irene.
Dokter dan perawat berusaha menahan Irene yang hendak turun dari tempat tidurnya.
"Ren, kamu masih dalam proses pemulihan," nasehat Mak Ijah.
Irene mencoba mengatur napasnya yang tak lagi dapat dikontrolnya.
"Aku akan tenang setelah tahu bagaimana keadaan suamiku," ujar Irene masih dengan napas tersengal-sengal.
Dengan terpaksa Irene mengikuti kata-kata dokter. Dia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu berdiam diri menunggu dokter dan perawat mulai memeriksa keadaannya.
Tak berapa lama dokter selesai memeriksa keadaan Irene.
"Bagaimana keadaan Irene, Dokter?" tanya Mak Ijah penuh perhatian.
Dia menatap sendu pada Irene, tatapan Mak Ijah membuat Irene semakin yakin ada hal buruk yang kini menimpa sang suami.
"Alhamdulillah, Nona Irene sudah baikan. Tubuhnya hanya mengalami shock atas kejadian yang di alaminya," jelas Dokter.
"Alhamdulillah," lirih Rayna dan Mak Ijah bersamaan.
Rayna bergegas memberitahukan keadaan Irene pada kedua orang tua Irene dan ibunya di Padang.
Mendengar berita Irene yang baik-baik saja, Wisnu memutuskan untuk mengcancel keberangkatan mereka ke Jakarta karena Wisnu takut akan menghabiskan uang dan waktu.
"Suster, tolong bawakan kursi roda," pinta Dokter pada salah satu perawat.
Setelah itu, dokter meminta perawat untuk membantu Irene turun dari tempat tidur, perlahan namun pasti Irene kini telah berpindah ke kursi roda yang telah disediakan oleh pihak perawat.
Sang perawat melangkah mengikuti langkah dokter menyusuri sebuah lorong rumah sakit.
Dokter melangkah menuju sebuah ruangan, dari jendela ruangan tersebut dapat melihat Alex tengah berbaring dia atas tempat tidur, di tubuhnya terpasang berbagai Alat media yang terhubung dengan sebuah layar monitor yang terdapat tepat di samping Alex.
__ADS_1
"Suami nona mengalami kecelakaan, benturan di kepalanya membuat tubuhnya shock, dan saat ini dia sedang kritis," jelas Dokter pada Irene.
Seluruh tubuh Irene terasa lemas saat mendengar penjelasan dari dokter.
Irene belum bisa menerima kenyataan, dia menggelengkan kepalanya tak percaya melihat kenyataan yang saat ini tengah dihadapinya.
"Tidak!" teriak Irene membuat semua mata mulai menoleh padanya.
"Ini semua salahku, ini salahku!" lirih Irene menangis pilu.
Irene mulai memukul-mukul kepalanya.
"Ini semua salahku," Isak Irene.
Mak Ijah berusaha menenangkan hati Irene yang saat ini sangat kacau.
Mak Ijah membelai lembut kepala Irene, dia memeluk Irene memberi kekuatan pada Irene.
Pikiran Irene mulai melayang jauh, dia membayangkan dirinya akan kehilangan sosok suami yang sangat bertanggung jawab.
"Lex, maafkan aku." Irene bergumam di dalam hatinya.
Irene mulai menyadari kesalahan demi kesalahan yang telah diperbuatnya, bahkan dia tak henti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian saat ini.
Setelah Irene menangis dia menoleh ke arah Rayna yang kini berdiri tak jauh dari posisi Kayla.
"Ray, bagaimana keadaan Raymond?" tanya Irene pada adik sepupunya.
"Raymond saat ini sedang keluar sebentar," jawab Rayna jujur.
Rayna mulai menceritakan kronologi kejadian yang membuat Irene dan Alex berada di rumah sakit saat ini.
Flash back On.
Saat Raymond terjatuh ke pinggir jalan, dia hanya merasa sakit di bagian lengan kirinya.
Raymond melihat tangki mobil yang dikendarai Varo mengeluarkan bahan bakar karena bocor.
Raymond langsung berlari turun ke jurang yang tak begitu dalam untuk membantu Irene.
Setelah dia bisa menyelamatkan Irene, Raymond membawa Irene menjauh dari mobil Varo.
Tak berapa lama, mobil itu pun meledak yang mana tubuh Varo masih terjebak di dala mobil.
Seketika Raymond mengingat Alex. Dia langsung menghubungi ambulans agar bisa membawa Alex dan Irene ke rumah sakit.
Flash back Off
Bersambung
__ADS_1