Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 64


__ADS_3

"Astaghfirullah," gumam Satya mengusap kasar wajahnya.


"Maksud kamu?" tanya Raffa penasaran.


Raffa sengaja menjebak Satya, karena dia mengendus sesuatu yang tidak beres sudah terjadi antara Satya dengan adik iparnya, karena Satya tidak melaporkan padanya bahwa dia sudah mengantarkan Rayna ke rumah hingga saat ini.


Raffa juga menangkap gelagat canggung saat Satya bertemu dengan istrinya.


"Gadis mana, Bang?" tanya Kayla penasaran.


Tiba-tiba hati Kayla merasa tidak enak, dia mulai khawatir dengan keadaan Rayna.


"Satya, siapa gadis yang ditanyakan Bang Raffa." Kayla mendesak Satya membuat Satya semakin merasa bersalah.


"Mhm," gumam Satya sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal.


Dia melirik Raffa melalui kaca spion, terlihat Raffa tengah menertawainya.


"Awas kamu Raffa," gumam Satya di dalam hati.


"Siapa?" tanya Kayla semakin penasaran.


Dia terus mendesak Satya.


"I-itu kemarin ada gadis yang bikin onar di kafe," jawab Satya gelagapan.


"Oh, trus sekarang bagaimana?" tanya Kayla semakin penasaran.


Dengan mudah Kayla mempercayai jawaban Satya.


"Sekarang dia sudah diusir bagian keamanan tapi, sesekali datang ke kafe. Makanya tidak aman," jawab Satya.


"Oh." Kayla hanya bisa ber-oh- ria.


Sementara itu Raffa dengan susah payah menahan tawa saat melihat Satya yang tidak berkutik dengan pertanyaan dari istrinya.


"Sudah sampai," ujar Satya saat mobil yang dikendarainya telah berada di depan rumah kediaman keluarga Bramantyo.


"Tuan, saya masih ada urusan,. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," ujar Satya pada Raffa.


"Lho, kenapa?" tanya Kayla bingung.


"Ya udah, nanti kalau ada yang aku perlukan, aku akan menghubungimu," jawab Raffa.


Raffa semakin yakin ada sesuatu yang telah terjadi antara Satya dan Rayna.


"Lho? Satya enggak di suruh masuk dulu, Bang," sela Kayla.


"Kamu kan sudah dengar, dia ada urusan yang harus diselesaikannya," ujar Raffa.


"Yuk, turun!" ajak Raffa.


Raffa dan Kayla pun turun dari mobil. DI teras Rumah, Bi Nur sudah berdiri hendak mengangkat barang-barang majikannya masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum, Bi," ucap Kayla menyapa pembantu rumah tangga di kediaman orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam, Nona. Apa kabar, Non?" sapa Bi Nur ramah.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Bi. Bibi sehat?" tanya Kayla sekedar berbasa-basi.


"Baik, Non. Barangnya di bawa masuk semua, Non?" tanya Bi Nur.


"Satya akan mengeluarkan barang yang akan dibawa masuk, Bi," ujar Raffa.


"Baik, Tuan. Tuan Raffa semakin tampan saja," goda Bi Nur.


"Bibi bisa saja, mungkin karena sudah ada yang ngurusin, Bi," jawab Raffa sambil melirik ke arah Kayla yang tersipu malu,


"Ya udah, yuk masuk!" ajak Kayla bergelayut manja di lengan kokoh milik suaminya.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum, Yah, Bu," sapa Kayla saat melihat Ayah dan Ibunya sedang duduk di meja keluarga.


"Kayla, kamu udah sampai. Ayo di sini duduk!" ajak Bram.


Raffa menyalami ayah mertuanya, lalu duduk di samping sang ayah mertua.


Sedangkan Kayla menyalami Ibu Rita, dan ikut duduk di samping Raffa.


"Ibu apa kabar?" tanya Kayla ramah pada wanita yang sudah membesarkannya.


Meskipun wajah Rita terlihat tak bersahabat padanya.


"Yah, bagaimana kabar, Ayah?" tanya Kayla dengan wajah berseri-seri.


"Ayah baik, Sayang," jawab Bram dengan wajah sumringah.


"Yah, Kayla bawa oleh-oleh buat Ayah dan Ibu. Bi, tolong bawakan paper bag yang besar itu ke sini, ya," pinta Kayla saat Bi nur lewat membawakan barang bawaan Kayla.


"Oke, Non." Bi Nur menghampiri mereka dengan membawakan du paper bag besar.


"Nah, ini oleh-oleh buat Ayah dan ini buat Ibu," ujar Kayla sembari mengulurkan masing-masing paper bag itu pada Ayah dan Ibunya.


Raffa tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang istri, walau dia tahu tampak jelas ibu mertuanya tidak menyukai kehadirannya di rumah ini.


"Terima kasih, Nak. Bagi Ayah, kedatanganmu merupakan oleh-oleh terbesar bagi ayah," lirih Bram terharu melihat perhatian Kayla padanya.


Walaupun Kayla sudah mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukanlah ayah kandungnya. Namun, Kayla masih memperlakukan dirinya layaknya seorang ayah baginya.


"Hanya oleh-oleh sedikit, Yah. Oleh-oleh ini tak sebanding dengan kasih sayang yang ayah berikan pada Kayla sejak kecil," ujar Kayla.


"Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi anak ayah, Nak," gumam Bram di dalam hati.


Bram tersenyum mendengar jawaban dar putrinya.


"Rayna mana, Yah?" tanya Kayla saat dia tak mendapati sang adik datang menghampirinya.


"Dia sedang keluar dengan teman-temannya," jawab Bram.


"Kamu pasti lelah, ajaklah Raffa masuk ke kamar dan beristirahatlah terlebih dahulu," perintah Bram.


Bram merasa tidak enak hati melihat sikap sang istri yang tak kunjung bisa ramah pada Kayla. Bram malu pada menantunya, padahal dia sangat mengetahui bahwa orang tua Raffa sangat menyayangi putrinya.


"Baik, Yah." Kayla mengangguk lalu mengajak Bram untuk beranjak dari ruang keluarga.

__ADS_1


Mereka pun menaiki anak tangga menuju kamar Kayla yang terdapat di lantai dua di samping kamar Rayna.


"Rita, bersikaplah lebih baik pada Kayla," tegur Bram setelah memastikan Kayla dan Raffa sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Malas," ketus Rita tidak terima dengan teguran dari sang suami.


Sampai kapan pun dia akan tetap membenci Kayla, terlebih saat ini melihat Kayla sangat bahagia dengan sang suami membuat dirinya merasa menyesal telah menjadikan Kayla sebagai istri pengganti dalam pernikahan keponakannya.


"Rita, jangan bersikap seperti anak-anak," bentak Bram dengan suara yang ditahan.


"Aku malas berdebat dengan kamu, selalu saja membela anak pungut yang tidak tahu diri itu," ketus Rita kesal.


Dia pun berdiri dari duduknya dan bersiap melangkah meninggalkan ruang keluarga. Dia tak ingin berdebat dengan sang suami perkara anak pungutnya.


Tak lupa, dia membawa oleh-oleh yang sudah dibawakan Kayla tadi.


Bram hanya bisa menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang sudah kelewatan.


Setelah makan malam, Kayla menghampiri Bram yang sedang duduk menyendiri di taman belakang di pinggir kolam renang.


Sementara itu Raffa terlebih dulu sudah masuk ke dalam kamar, karena malam ini ada seminar yang harus diisinya.


"Ayah, sendiri?" tanya Kayla pada sang ayah.


Dia ikut duduk di bangku panjang tak jauh dari sang ayah.


"Iya, ada apa, Nak?" tanya Bram penuh kasih sayang.


"Yah, ada sesuatu yang ingin Kayla bicarakan pada Ayah," ujar Kayla terus terang.


"Apa?" tanya Bram penasaran.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2