Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 278


__ADS_3

"Eh, iya, Bu," lirih Reza malu.


Wajahnya berubah menjadi merah menahan malu.


"Lisa udah bangun?" tanya Ibu Lisa pada menantunya.


"Mhm, be-belum, Bu," jawab Reza gugup.


Dia jadi lupa bahwa istrinya tadi sudah bangun malah jawab istrinya belum bangun.


Dia benar-benar malu ketahuan sama ibu mertuanya mandi pagi.


"Mhm, ya udah kamu bangunin dia ya," ujar Ibu Lisa.


"Iya, Bu." Reza bergegas melangkah menuju kamar setelah mendapat kesempatan untuk pergi.


Sesampai di kamar, Reza langsung menutup pintunya. Dia mendapati sang istri sudah mengenakan pakaian tidur.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lisa pada suaminya.


Dia heran melihat wajah sang suami merah seperti udang rebus.


"Mhm, itu di dapur ada Ibu," jawab Reza jujur sambil menahan malu.


"Aduh," lirih Lisa.


"Jadi kamu ketahuan mandi pagi?" tanya Lisa malu-malu.


"Iya," lirih Reza mengangguk.


"Ya ampun," lirih Lisa bingung.


"Ibu sudah bangun, terus bagaimana cara aku mandi?" ujar Lisa pelan.


"Mau enggak mau kamu harus tetap mandi kita kan mau shalat subuh," ujar Reza pelan.


"Ya udah deh, aku mandi aja lagian kita juga udah halal kok. Iya enggak ada salah kalau kita mandi pagi," ujar Lisa mencoba membela diri berusaha menghilangkan rasa malunya.


"Iya, enggak apa-apa. Cuek aja gitu," ujar Reza.


Walaupun sejujurnya di hati mereka ada rasa malu, tapi mereka berusaha menepis rasa itu.


Lisa keluar dari kamar dengan menggunakan hijabnya, dia melangkah menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk membersihkan diri. Kebetulan saat dia masuk kamar mandi dia tidak mendapati ibunya berada di dapur.


Dengan santai Lisa pun melakukan mandi wajib yang harus dikerjakan di saat seseorang tengah junub.


Usai mandi Lisa langsung keluar dari kamar mandi, dia tidak melihat ibunya berada di dapur, mungkin saat ini ibunya tengah berada di kamar.


Lisa bergegas melangkah menuju kamar, dia membuka pintu kamar mendapati sang suami sudah menggunakan baju koko dan kain sarung bersiap untuk melaksanakan salat subuh berjamaah dengan istrinya.


"Kamu udah selesai? Ayo siap-siap," ajak Reza pada istrinya.

__ADS_1


Lisa pun bersiap-siap mengenakan mukena, saat adzan subuh berkumandang mereka duduk di atas sajadah mereka masing-masing.


Mereka membaca do'a setelah adzan subuh, lalu melaksanakan salat sunat sebelum subuh, setelah itu barulah mereka menunaikan salat subuh berjamaah.


Setelah melaksanakan shalat subuh, keluar dari kamarnya melangkah menuju dapur dia ingin membantu ibunya menyiapkan sarapan.


Di dapur, Lisa sudah mendapa


Tadi setelah Reza pergi Ibu Lisa sengaja masuk ke dalam kamar memberi ruang privasi kepada putri dan menantunya karena Ibu Lisa sempat melihat wajah malu dari sang menantu.


"Kamu mau ngapain, Sayang?" tanya ibu Lisa pada putrinya.


"Aku mau bantuin ibu," jawab Lisa jujur.


"Kamu enggak usah bantuin ibu, kamu bikin kopi atau teh sana buat suamimu," perintah ibu Lisa pada putrinya.


"Tapi, Bu," bantah Lisa.


Dia tidak enak merepotkan ibunya menyiapkan makanan untuk sang suami.


"Ini sudah menjadi kebiasaan ibu, nyiapin makanan buat kalian. Kalau enggak kamu ajakin Reza jalan-jalan keliling desa aja, biar dia tahu keadaan kampung kita," usul Ibu Lisa.


"Oh ya udah deh, aku ajakin bang Reza jalan aja," ujar Lisa.


Lisa pun kembali melangkah ke kamar.


"Lho, kenapa? Katanya mau masak" tanya Reza heran melihat istrinya kembali masuk ke dalam kamar.


"Mhm, ibu bilang dia aja yang masak. Aku disuruh ngajakin Bang Reza jalan," jawab Lisa.


"Mhm, keliling desa aja, sambil lihat pemandangan desa," ujar Lisa.


"Boleh, yuk. Sambil jalan pagi," sahut Reza bersemangat.


Pasangan suami istri itu pun keluar dari rumah dan mulai melangkah menikmati segarnya udara pagi di desa.


****


Di rumah kediaman Hendra, Hurry dan Hendra sedang menikmati makan malam bersama putri bungsu mereka.


Sejak Alita dan Alex tinggal di Jakarta, lalu Agung dan Dian tinggal di dekat butik, Hurry memberi kepercayaan kepada putra dan menantunya untuk mengurusi butik oleh karena itu dia merasa kesepian di rumah akhirnya dia meminta Akifa untuk kuliah di kota Padang saja.


Dia juga meminta gadis kecilnya itu untuk tinggal bersamanya, Hurry yang kini hanya berdiam di rumah walaupun sesekali dia menyibukkan diri dengan bertandang ke rumah Arumi bermain dengan cucu-cucunya.


Akifa setelah tamat pesantren memilih kuliah di Universitas Andalas, dia mengambil jurusan kedokteran. Dia ingin membuktikan bahwa seorang alumni pesantren harus bisa menjadi dokter.


"Akifa, bagaimana kuliahmu?" tanya Hurry setelah mereka menyelesaikan makan malam.


"Mhm, aman, Bun. Tahun ini udah praktek, kebetulan aku dapat tugas praktek di rumah sakit Nayli DBS." Akifa bersemangat.


Sepengetahuan Akifa, rumah sakit Nayli DBS adalah rumah sakit baru dan di sana terkenal dengan keramahan para petugas dan dokter-dokternya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau begitu. Bunda senang, semoga kamu cepat selesaikan kuliah kamu. Biar cepat cari jodoh," ujar Hurry.


"Ish, Bunda kenapa pengen Akifa cepat dapat jodoh, sih?" gerutu Akifa.


Gadis kecil Hurry itupun memanyunkan bibirnya cemberut.


"Hehehe," kekeh Hurry.


"Kalau kalian udah pada nikah semua, Bunda tinggal ngurusin anak-anak kalian," ujar Hurry.


"Bunda, kamu apaan sih? Akifa masih muda lho, kamu kenapa suruh cepat-cepat nikah?" protes Hendra pada istrinya.


"Haha," tawa Hurry.


"Bunda, aku maunya nikah setelah aku jadi dokter," ujar Akifa pada kedua orang tuanya.


Seolah Akifa menyampaikan keinginannya, agar sang Bunda tidak memaksa cepat-cepat menikah seperti kedua kakaknya yang menikah di usia muda.


"Iya, Sayang. Yang penting kamu kuliah dengan tenang dan raihlah cita-citamu menjadi dokter terkenal di kota ini," ujar Hendra dengan bijak.


Akifa tersenyum, dia senang mendengar ucapan ayahnya, walaupun Hendra bukan ayah kandungnya. Akifa tetap menyayangi dan menghormati Hendra seperti ayah kandungnya sendiri.


"Ayah, Bunda, Kifa mau masuk kamar dulu, ya," ujar Akifa pamit beranjak dari ruang makan pada Hurry dan Hendra.


Akifa berdiri dan melangkah menuju kamarnya, Setelah dia masuk ke dalam kamarnya.


Akifa duduk di meja belajar miliknya, dia membuka laci meja belajarnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari laci tersebut.


Dari kota itu dia mengeluarkan sebuah scraf berwarna biru, di sana tertulis nama seseorang.


Pikiran Akifa teringat pada seseorang yang beberapa tahun lalu sudah menolongnya.


"Aaaakkkhh," pekik Akifa terjatuh dari batu besar.


Seorang pria datang menghampirinya. Pria yang berambut gondrong yang mengenakan kaos oblong dan celana jeans yang sobek di lututnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya sang pria pada Akifa.


Si pria melihat lengan Akifa yang mengeluarkan darah karena tergores di bebatuan itu.


Sang pria membuka scraf yang diikatkannya di pergelangan tangannya.


"Makanya hati-hati," ujar Sang pria sambil membalut luka Akifa dengan scraf itu.


Setelah itu, si pria berdiri dan menatap dalam pada gadis remaja itu. Dia merasa pernah melihat sang gadis, mata terus menatap paras gadis mungil itu.


Hatinya mulai merasa kagum terhadap gadis remaja itu ketika dia teringat sesuatu.


"Hati-hatilah, aku harus pergi," ucap sang pria meninggalkan Akifa yang terpukau karena kebaikan hati sang pria.


"Mhm, kamu di mana ya, sekarang?" gumam Akifa di dalam hati.

__ADS_1


Sejak hari itu Akifa sudah mulai menyukai sang pria yang sama sekali tak di kenalnya, yang Akifa tahu hanya ukiran nama yang tertera di scraf itu.


Bersambung...


__ADS_2