Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 92


__ADS_3

Kali ini Satya membawa Rayna ke mall untuk berbelanja berbagai keperluan Rayna.


Semenjak mereka menikah, Satya belum pernah mengajak Rayna berbelanja, Satya akan membelikan apa pun yang diinginkan Rayna.


"Kita ngapain ke sini, Mas?" tanya Rayna saat Satya mulai masuk ke dalam parkiran mall.


"Menurut kamu apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Satya membalikkan pertanyaan istrinya.


"Aku bingung, biasanya aku ke sini sama kak Kayla cuma cuci mata," jawab Rayna dengan polos.


"Hehehe," kekeh Satya.


"Kali ini kamu akan belanja apa pun yang kamu mau," ujar Satya.


"Hah?" Rayna bingung.


"Kenapa?" tanya Satya heran melihat ekspresi Rayna yang bingung.


"Aku bingung, mau belanja apa?" tutur Rayna jujur.


"Terserah, kamu mau belanja apa saja. Jika kamu mau seisi mall ini kita beli," ujar Satya bercanda.


"Ish, yang benar saja,"gerutu Rayna.


Satya semakin senang mengerjai istrinya, seketika semua kenangan buruk yang telah dilewati Rayna hilang begitu saja.


"Ayo!" ajak Satya setelah dia memarkirkan mobilnya.


Satya turun dari mobil, lalu dia pun mengitari hendak membukakan pintu untuk Rayna.


"Auuw," pekik Satya saat pintu mobil mengenai kepalanya.


Rayna membuka pintu mobil yang hendak dibuka oleh Satya.


"Eh, kenapa, Mas?" tanya Rayna polos.


"Aduh, sakit," keluh Satya sambil mengusap jidatnya yang terbentur dengan pintu mobil.


"Yang mana yang sakit?" tanya Rayna dengan polosnya.


Dia baru menyadari bahwa sang suami terbentur pintu mobil karena ulahnya.


Satya menatap kesal pada istrinya.


"Kenapa kamu buka pintunya?" gerutu Satya.


"Aku kan mau keluar," jawab Rayna dengan kepolosan yang hakiki.


"Aku kan mau bukain kamu pintu," gerutu Satya lagi.


"Maaf," lirih Rayna menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Ayo kita masuk!" ajak Satya menarik tangan Rayna.


Dia masih mengusap jidatnya yang terasa sakit.


Rayna semakin merasa bersalah. Dia melangkah di samping Satya dengan menundukkan wajahnya.


Satya melihat Rayna yang hanya diam, dia menghentikan langkahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Satya.


Rayna menggelengkan kepalanya.


Satya mengangkat wajah Rayna.


"Aku enggak marah kok sama kamu, jangan nangis," ujar Satya.


"Siapa yang nangis?" bantah Rayna.

__ADS_1


"Dasar, anak kecil," gumam Satya pelan tapi masih dapat didengar oleh Rayna.


"Siapa yang anak kecil?" gerutu Rayna, seketika dia kesal melihat Satya.


"Kamu," jawab Satya cuek.


Satya mengacak-acak kepala Rayna yang tertutup hijab.


"Mas Satya, jangan acak-acak jilbab aku, nanti berantakan," gerutu Rayna.


Satya menghela napasnya, dia butuh ekstra sabar untuk menghadapi sikap istrinya yang masih polos dan manja.


Satya pun merangkul pundak Rayna lalu membawa wanitanya masuk ke dalam mall.


Mereka melangkah berkeliling mall. Di mulai dari lantai satu hingga lantai 4 tak satu pun barang-barang yang ingin dibelinya.


"Sayang, kamu mau beli apa?" tanya Satya bingung melihat Rayna yang sedari tadi hanya melihat-lihat barang yang terpajang di setiap toko.


"Aku bingung, Mas. Saat ini aku tidak menginginkan apa pun," jawab Rayna polos.


"Ya udah kita lihat pakaian saja, yuk!" ajak Satya.


Rayna menggelengkan kepalanya.


"Aku enggak suka dengan model pakaian muslimah di sini, aku sukanya model gamis yang di pakai kak Kayla," tutur Rayna jujur.


"Oh, apa kamu mau beli gamis yang sama dnegan Kayla?" tanya Satya memastikan keinginan istrinya.


"Iya, Mas. Gamis yang dipakai kak Kayla modelnya kekinian dan cocok buat wanita seumuran aku," jawab Rayna jujur.


"Ya udah, nanti kita pesan secara online sama bunda Hurry, Kayla membelinya di butik Bunda HUrry," jawab Satya.


"Kenapa kita enggak langsung ke butiknya saja, Mas?" tanya Rayna memaksa.


"Butik Bunda Hurry itu di Padang, apa kamu mau kita terbang ke Padang hari ini?" tanya Satya.


"Hah di Padang?" tanya Rayna kaget.


"Enggak jadi deh, kapan-kapan aja kalau kita sedang liburan ke Padang," ujar Rayna.


"Kita bisa beli secara online, kok. Nanti aku akan menghubungi Bunda Hurry," ujar Satya tak ingin istrinya kecewa.


"Lalu kita mau beli apa di sini?" tanya Satya lagi pada Rayna.


"Enggak tahu, Mas. Aku ngerasa semua barang-barang di rumah sudah cukup untukku," jawab Rayna.


Satya tampak berpikir keras, hari ini dia ingin sekali memberikan apa yang diinginkan istrinya sebagai ungkapan rasa syukurnya karena sang istri telah pulih dari sakitnya.


"Ya sudah, aku mau belikan kamu sesuatu. Ikut aku!" ajak Satya.


Akhirnya Satya membawa Rayna masuk ke dalam sebuah toko perhiasan.


"Mbak, tolong ambilkan cincin couple untuk kami," pinta Satya saat mereka sudah masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.


"Ini, Mas." Penjaga toko mengeluarkan beberapa model cincin couple untuk Satya dan Rayna.


"Kamu mau yang mana?" meminta pendapat sang istri.


Rayna memutar bola matanya tak percaya. Cincin pernikahan mereka sudah melingkar di jarinya, sekarang ditambah lagi dengan cincin couple yang akan diberikan oleh Satya.


"Kamu mau yang mana?" tanya Satya lagi.


"Mhm, yang ini," jawab Rayna menunjukkan sepasang cincin yang memiliki hiasan love di tengahnya.


"Saya mau ambil ini, Mbak. Tolong gelang yang cocok untuk istri saya," pinta Satya lagi pada penjaga toko.


"Baik, Mas," ujar penjaga toko lalu dia mengambilkan beberapa model gelang dan meletakkannya di hadapan pasangan suami istri itu.


"Kamu mau yang mana?" tanya Satya lagi pada Rayna.

__ADS_1


"Mhm," gumam Rayna bingung.


Dia memang tidak pernah membeli perhiasan karena usianya yang masih belia dan tidak begitu tertarik dengan berbagai macam perhiasan.


"Terserah kamu aja, Mas," lirih Rayna.


"Pilihkan yang paling cocok untuk istri saya, Mbak," ujar Satya santai.


Si penjaga toko pun memilihkan gelang yang cocok untuk Rayna yang terlihat masih belia.


"Ini cocok untuk istrinya, Mas," ujar si penjaga toko memilih gelang yang paling mahal.


"Ya sudah, Mbak. Tolong dibungkus!" pinta Satya pada si penjaga toko.


Si penjaga toko memberikan faktur harga perhiasan yang mereka beli.


Rayna membulatkan matanya tak percaya melihat angka yang tertulis di Faktur itu.


Dia tak menyangka harga perhiasan yang dibelikan suaminya senilai lebih 25 juta rupiah.


"Mas, apakah perhiasan ini tidak terlalu mahal?" tanya Rayna ragu-ragu.


"Untuk kamu tak ada yang mahal bagiku, asalkan kamu bahagia," jawab Satya santai.


"Terima kasih, Mas," lirih Rayna lalu dia pun memeluk tubuh kekar sang suami.


Satya pun membayar tagihan perhiasan yang dibelinya untuk Rayna. Setelah itu mereka pun keluar dari toko perhiasan.


"Kamu mau beli tas?" tanya Satya saat mereka melintasi toko tas branded.


Rayna hanya menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin membuang-buang uang untuk sesuatu yang mubazir.


Rayna memang tumbuh di keluarga yang berkecukupan, tapi Bram mengajarkan mereka untuk hidup sederhana.


Setelah mereka berkeliling mall, tak terasa waktu ashar masuk. Satya dan Rayna memilih keluar dari mall dan mereka pun mencari mesjid untuk melaksanakan shalat ashar.


"Kita shalat dulu," ajak Satya pada istrinya saat telah memarkirkan mobilnya di depan mesjid yang megah.


Rayna mengangguk lalu mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam mesjid.


Rayna yang telah selesai melaksanakan shalat ashar, dia keluar terlebih dahulu dari mesjid.


Dia duduk di teras mesjid sambil menunggu sang suami menyelesaikan ibadahnya.


Tiba-tiba seseorang datang dan membekap mulut Rayna dengan sapu tangan yang membuat Rayna pingsan, lalu membawanya pergi dari mesjid itu.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2