Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 283


__ADS_3

Semua orang saling berpandangan heran dengan tamu yang datang.


"Biar aku yang buka," ujar Alex.


Dia berdiri dan melangkah menuju pintu utama.


"Wa'alaikummussalam," jawab Alex setelah membukakan pintu.


"Eh, Hansel," ujar Alex saat melihat pria yang sudah menolong adiknya datang ke rumahnya.


"Silakan masuk," ujar Alex menyuruh Hansel masuk ke dalam rumah.


"Eh, lagi rame," lirih Hansel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Semua mata menatap heran pada pria yang sudah membantu Akifa kemarin.


"Bun, Yah, kenalkan ini Hansel dia teman Akifa yang sudah menolong Akifa kemarin," ujar Alex memperkenalkan hasil pada seluruh anggota keluarga.


"Pagi, Tante, Om." Hansel menyalami Hendra, Hurry mengatupkan kedua tangannya menolak dengan halus jabatan tangan dari Hansel.


"Oh, iya," lirih Hansel.


"Silakan duduk," ujar Bunda Hurry.


"Eh, iya, Tante." Hansel mengganggu lalu duduk di atas sofa tak jauh dari posisi Akifa.


"Bun, aku sama Irene berangkat ke rumah sakit dulu, ya," ujar Alex pamit.


"Oh, ya udah hati-hati, ya," ujar sang Bunda.


"Semoga dapat hasil yang memuaskan," ujar Bunda Hurry.


Kayla dan Raffa saling berpandangan heran dengan perkataan Bunda Hurry.


"Hasil apa, Bun?" tanya Kayla penasaran.


"Hehe, menurut taksiran dokter kemarin Irene sedang hamil," jawab bunda jujur.


"Alhamdulillah," lirih Kayla ikut bahagia.


"Belum pasti juga sih, semoga perkiraan dokter memang benar," ujar Bunda Hurry.


"Raja, Raju, Ratu, kita main ke taman belakang, yuk," ajak Kayla pada buah hatinya.


Dia tidak ingin 3R mengganggu adiknya yang kini sedang ada tamu.


3R berlari menghampiri Kayla dan melangkah bersama kedua orang tuanya menuju taman belakang, diikuti oleh Mak Ijah.


Sementara itu, Hendra memilih masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Hurry tidak mau membiarkan putri bungsunya berduaan dengan lawan jenis di ruangan yang sama sehingga dia memilih ikut nimbrung dengan Akifa dan Hansel.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Hansel pada Akifa memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah sudah mendingan, kamu enggak masuk praktek hari ini?" tanya Akifa.


"Tadinya udah ke rumah sakit, taunya para dokter dan staf ada rapat penting jadinya kita di suruh pulang. Makanya aku datang ke sini mau jengukin kamu," jawab Hansel.


"Oh, terima kasih udah repot-repot datang," ujar Akifa.


Bunda Hurry mendengarkan percakapan mereka sambil membuka majalah, agar kedua insan itu dapat berbicara dengan santai.


Hurry dapat melihat dengan jelas mata Akifa yang berbinar saat berbicara dengan Hansel, sebagai seorang ibu dia merasa bahwa putrinya tertarik pada pria yang bernama Hansel itu.


Begitu juga sebaliknya, Hurry juga melihat sorot mata kagum dari Hansel terhadap putrinya.


Di rumah sakit, Alex dan Irene sudah berada di ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Alex mendampingi Irene memeriksa kandungannya.


"Selamat, Pak Alex. Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah," ujar Dokter setelah selesai pemeriksaan.


"Alhamdulillah," lirih Alex dan Irene bersamaan.


Alex menggenggam erat tangan sang istri, dia sangat bahagia mendengarkan ucapan sang dokter.


"Kondisi kandungannya normal, meskipun begitu Ibu Irene dan Pak Alex harus tetap waspada. Jaga pola makan dan tetap istirahat dengan teratur," nasehat dokter.


"Terima kasih, Dok," ucap Alex senang.


Mereka pun keluar dari ruangan dokter lalu melangkah menuju apotik untuk mengambil obat.


Mereka duduk di sebuah kursi panjang sambil menunggu obat diracik oleh petugas.


"Sayang, habis ini kita ke rumah ibu, ya. Aku sudah kangen sama mereka," pinta Irene pada sang suami.


Alex terdiam sejenak, dia tengah berpikir. Mereka memang sudah lama tidak pulang ke Padang. Setiap kali mereka pulang ke Padang mereka lebih sering menghabiskan waktu di rumah Bunda Hurry.


"Aku tahu kamu sangat tersinggung dengan perlakuan keluargaku, tapi tapi apa salah jika aku ingin bertemu dengan mereka," cinta Irene memohon pada sang suami.


"Baiklah, tapi kita tidak menginap di sana," ujar Alex memutuskan.


Banyak hal yang tidak disukai oleh Alex terhadap keluarga Irene oleh sebab itu Alex memilih untuk lebih menjaga jarak dengan mereka.


"Sayang, untuk kali ini izinkan aku menginap di rumah kedua orangtuaku, " pinta Irene memohon pada suaminya.


"Baiklah kalau begitu tapi kalau ada tante mu kita tidak jadi menginap, ya," ujar Alex.


"Ya udah, deh. Aku ikut kamu aja," ujar Irene pasrah dia tahu sikap keluarganya sering melukai hati suaminya.

__ADS_1


Mengikuti keinginan sang suami adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


"Sayang, maafkan aku, bukan aku ingin menjauhkan dirimu dengan keluargamu, tapi aku hanya ingin mereka sadar dengan sikap yang mereka tujukan padaku selama ini. Aku adalah suamimu, aku menantu mereka tapi mereka sama sekali tidak pernah menghargai apa yang sudah aku lakukan untuk membahagiakanmu walaupun kemampuanku tak sesempurna Raffa atau Satya." Alex mengungkapkan segala unek-unek yang dirasakannya selama ini bersama keluarga istrinya.


Irene hanya diam mendengar sang suami mengungkapkan keluh kesahnya.


"Hei, aku tidak marah padamu aku hanya kecewa pada mereka," ujar Alex merasa bersalah sudah membuat istrinya bersedih.


"Tidak apa-apa, Sayang," lirih Irene.


Tak berapa lama,nama Irene terpanggil pertanda obatnya sudah selesai di racik.


Alex berdiri mengambil obat tersebut, setelah itu mereka pun berdiri dan melangkah keluar dari rumah sakit.


Alex melajukan mobilnya setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman dil dalam mobil.


Alex fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia terlihat lebih hati-hati dalam mengendarai mobilnya.


"Sayang, sebelum kita ke rumah kedua orangtuamu. Kita makan sebentar, ya," ujar Alex sambil menoleh pada sang istri.


"Terserah kamu, aja. Aku ikutin kamu aja." Irene menyerahkan pendapatnya pada sang suami.


Alex tersenyum dia menatap mata sang istri, Alex bersyukur sejak tragedi waktu itu. banyak perubahan sikap di diri Irene.


"Kamu mau makan apa?"tanya Alex pada Irene.


"Mhm, mau makan apa, ya?" Irene malah balik tanya pada Alex.


"Lho kenapa aku tanya, kamu malah balik tanya," ujar Alex.


"Aku sendiri bingung mau makan apa," jawab Irene sambil tersenyum.


"Ya udah kalau gitu," lirih Alex.


Alex menghentikan mobilnya. Dia memegangi perut sang istri yang masih rata.


"Adek, kamu mau makan apa?" bisik Alex di depan perut rata istrinya.


Irene geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.


"Adek mau makan pecel ayam, Yah," ujar Irene dengan nada menirukan suara anak kecil.


Alex tersenyum mendengar jawaban sang istri. Aksinya berhasil membuat sang istri menjawab pertanyaannya.


Setelah itu Alex kembali melajukan mobilnya. Alex membawa sang istri ke tempat favorite mereka saat masih pacaran dulu.


Sesampai mereka di tempat pedagang pecel ayam, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam tenda pedagang.


Baru saja Alex dan Irene duduk dia melihat seorang pria yang tidak asing baginya sedang duduk tak jauh dari posisi mereka saat ini.

__ADS_1


Alex melihat pria itu merangkul seorang perempuan perlakuan mereka membuat mata risih memandangnya.


Bersambug...


__ADS_2