Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Ban 113


__ADS_3

Sebelum masuk ke ruang kerja Bram, Kayla mengambil sapu dan kemoceng.


Dia sengaja membawa peralatan kebersihan supaya tak ada yang mencurigainya masuk ke dalam ruangan itu.


Di ruang kerja Bram, Kayla membersihkan debu-debu yang menempel di lemari dan meja kerja sang Ayah.


Tak sengaja sebelum membuka laci lemari, Kayla melihat sebuah pigura kecil di samping foto keluarga.


Di sana terdapat foto dua gadis kecil yang mengembangkan senyuman bahagia.


Kayla menatap dalam foto yang terpajang di sana, dengan seksama dia memperhatikan foto itu. Dia yakin, dua gadis kecil itu adalah dirinya dan Rayna.


Deg,


Jantung Kayla berdetak dengan kencang saat menyadari foto gadis yang terpajang di sana sama persis dengan foto yang pernah dilihatnya di rumah Hurry.


"Apakah ini fotoku?" gumam Kayla di dalam hati.


"Itu artinya aku adalah putri Bunda Hurry yang hilang, tapi kenapa tes DNA itu membuktikan tidak ada kecocokan di antara kami?" Kayla terus bertanya-tanya di dalam hati.


Dia masih belum bisa mengungkap teka-teki yang ada di balik semua ini.


Kayla pun bergegas mengambil kunci laci lemari yang sudah dikatakan almarhum ayahnya sebelum pergi.


DI dalam kotak pulpen memang ada sebuah kunci, Kayla mencoba membuka laci lemari dengan kunci yang ditemukannya.


Kayla menatap dalam pada kotak yang ada di sana, tangannya gemetar mengambil kotak itu.


Perlahan Kayla mengeluarkan kotak itu dari dalam laci. Tak menunggu lama, Kayla membuka kotak itu.


Kayla melihat benda yang akan menjelaskan siapa dirinya sesungguhnya.


Sebuah album kecil yang berisi kenangan Kayla dan Rayna sewaktu kecil.


Kayla membolak-balikkan album itu, lagi-lagi Kayla mengingat foto salah satu gadis di dalam foto itu adalah foto yang sama di dalam album yang dilihatnya di rumah Hurry.


Kayla harus mengungkap rahasia yang ada di balik semua ini. Dia harus pulang ke Padang untuk bertemu Hurry, tapi saat ini dia masih kuliah efektif.


Kemungkinan dia akan kembali lagi ke Padang saat liburan semester datang.


"Jika harus menunggu liburan semester, itu artinya aku harus menunggu selama 5 bulan lagi. Apa yang harus kulakukan agar aku bisa bertemu dnegan bunda Hurry?" gumam Kayla berpikir keras.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tiba-tiba Rita masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


"Mhm, a-aku,--" Kayla bingung harus menjawab apa.


Rita datang menghampiri Kayla, dia melihat album yang ada di tangan Kayla.


"A-aku hanya ingin membersihkan ruang kerja ayah, Bu," jawab Kayla setelah Rita telah berada tepat di sampingnya.


"Apa itu?" tanya Rita dengan tatapan sinis.


Belum sempat Kayla menjawab pertanyaan ibu angkatnya, Rita sudah merebut album itu dari tangan Kayla.


Rita membolak-balikkan album tersebut.


"Bu, kalau boleh tahu foto siapa yang ada di dalam album itu?" tanya Kayla memberanikan diri untuk bertanya.


"Foto kamu dan Rayna," jawab Rita ketus.

__ADS_1


Rita pun melemparkan foto itu ke atas meja.


"Album tak berguna, buang album ini!" perintah Rita.


"Ba-baik, Bu," lirih Kayla mematuhi perintah Rita.


Rita menatap tajam ke arah Kayla, ia masih saja tidak suka dengan kehadiran Kayla yang sudah bertahun-tahun bersamanya.


Kayla hanya diam mendapat perlakuan yang sudah biasa dilakukan ibu angkatnya itu terhadap dirinya.


Selama ini ayahnya selalu membela dirinya, sekarang ayah yang akan melindunginya sudah tiada.


Satu-satunya orang yang akan menyayangi dirinya di rumah ini adalah Rayna.


Rita melangkah keluar meninggalkan Kayla di ruang kerja ayahnya.


Kayla kembali mengambil album itu, dia memeluk erat album tersebut.


"Dengan ini aku akan menemukan siapa sebenarnya orang tua kandungku," gumam Kayla di dalam hati.


Dia akan menyimpan album itu untuk mempertanyakan fakta dibalik teka-teki semua ini pada Hurry.


Kayla kembali melanjutkan pekerjaannya, dia membersihkan setiap sudut ruangan itu sambil mengenang kenangan indah bersama sang ayah.


"Semoga ayah bahagia di lam sana, aku akan selalu mendo'akan yang terbaik buat ayah," gumam Kayla di dalam hati.


Setelah membersihkan ruang kerja sang ayah, Kayla kembali mengambil album yang tadi di letakkannya di atas meja, saat itu Kayla teringat bahwa dia lupa mengunci laci lemari.


Kayla pun kembali mengunci laci lemari itu, tapi dia mengingat sesuatu. Dia melupakan ada satu benda lagi yang tertinggal di dalam kotak itu.


Kayla kembali membuka kotak, dia mengambil benda itu lalu memasukkannya ke dalam saku gamisnya.


Dia pun keluar dari ruang kerja ayahnya dnegan membawa album itu, dia sengaja menyimpan album tersebut di balik hijabnya, Kayla tidak mau ibu Rita melihat album itu dan memaksa dirinya untuk membuang album tersebut.


Kayla melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Di dalam kamar Kayla melihat Raffa masih sibuk di depan laptopnya.


Kayla tak ingin mengganggu, dia pun memasukkan album tersebut dan benda yang tadi disimpannya di dalam saku gamisnya ke dalam tas miliknya.


Sementara itu di dalam kamar Rayna, masih dalam suasana duka.


Dia duduk di kursi yang terdapat di balkon kamarnya ditemani oleh Satya.


"Mas, mulai saat ini. Hanya kamu tempatku bertumpu," lirih Rayna pada Satya.


"Sayang, selagi aku masih hidup, aku akan menjaga kalian. Mulai hari ini kamu dan Ibu akan menjadi tanggung jawabku," ujar Satya.


"Aku tak pernah berpikir, ayah akan pergi secepat ini, selama ini ayah selalu terlihat sehat tak pernah sakit." Rayna masih belum percaya dengan kenyataan yang kini dialaminya.


"Ini semua adalah ujian dalam hidup kita, sedangkan aku sudah kehilangan kedua orang tuaku saat aku masih berumur 9 tahun. Jika saat itu Papa Surya tidak datang mengulurkan tangannya membesarkan aku, mungkin kita tidak akan pernah bertemu," ujar Satya mengingat nasibnya lebih pahit daripada sang istri.


"Maafkan aku, Mas. Seharusnya aku lebih kuat lagi menjalani kenyataan ini." Rayna merasa bersalah telah membuat suaminya mengingat masa lalunya yang lebih pahit daripada yang dialaminya.


"Tidak ada yang salah, Sayang." Satya mengecup puncak kepala sang istri.


"Makasih, Mas," lirih Rayna.


****

__ADS_1


Tiga hari telah berlalu, Kayla dan Raffa pun berencana untuk kembali ke Jakarta.


Raffa tidak ingin Kayla banyak meninggalkan mata kuliahnya, sebelum mereka berangkat seorang pria paruh baya datang.


"Selamat, Siang," sapa pria itu pada Raffa dan Kayla.


"Siang, Pak," jawab Raffa dengan ramah.


"Kenalkan, saya Rahmat pengacara pribadi Pak Bramantyo," ujar pria itu memperkenalkan diri.


Satya dan Rayna yang juga berada di teras rumah hendak melepas kepergian sang kakak saling berpandangan heran.


"Bisakah saya masuk?" tanya pria yang bernama Rahmat itu.


"Oh iya, silakan!" ujar Satya mempersilakan pengacara ayah mertuanya masuk.


"Kalau gitu, kami berangkat dulu, ya," ujar Raffa.


Raffa tahu maksud kedatangan pengacara tersebut, Raffa yang tahu Kayla bukanlah anak kandung di rumah ini oleh karena itu dia lebih baik membawa istrinya pergi dari pada istrinya nanti tidak dianggap di sana.


"Maaf, ini nona Kayla, bukan?" tanya Rahmat memastikan.


"Iya," jawab Kayla.


"Saya juga harus berbicara dengan Nona Kayla," ujar Rahmat.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah.


Kini di ruang tamu telah duduk Rita, Rayna, Kayla, Satya dan Raffa.


Si pengacara akan membacakan surat wasiat yang sudah ditulis oleh Bram sebelum dia meninggal dunia.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2